Di jl Raya Kandangan sebelah showroom Aria Jaya Mobil, berdiri sepetak kedai kopi–Wande Lor Dalan. Kedai itu tampak semi-permanen; dinding setengah bata berpadu kawat besi, membuat aktivitas di dalam kedai tampak jelas dari luar. Cahaya kuning lampu yang redup menyambut siapa saja dengan suasana hangat.
Juni Purwoko, pria kelahiran 1979 tampak sibuk menyeduh kopi dari balik meja bar. Mengenakan kemeja yang tertutup apron, ia mengambil toples berisi kopi dari deretan rak.
Lalu mengolah beans menjadi segelas kopi tubruk dengan cekatan. Meski menggunakan alat sederhana, ia mampu mengoptimalkan cita rasa kopi lokal.
Di kedai kopinya yang sederhana, Juni cukup memperhatikan SOP (standar operasional kerja). Hal itu tampak dari sertifikat halal yang digantung di dinding.
“Dengan memiliki sertifikat halal, saya memberikan jaminan kepercayaan kepada pelanggan,” ucapnya saat di wawancarai di kedai.
Sertifikasi halal itu menunjukan dedikasi kopi bukan hanya soal bisnis, tapi juga pelayanan dengan sepenuh hati.
Ketertarikannya pada dunia kopi bermula pada 2013, saat ia masih menjabat sebagai kepala gudang perabotan di Gresik. Di tengah kejenuhan kerja, ia tak sengaja menonton drama Korea bertema kopi di ponsel temannya.
Sejak itu, rasa ingin tahu membawanya berkeliling dari satu bar ke bar lain di Surabaya selama dua tahun.
Juni bermimpi akan menjadi barista lebih profesional setelah kembali ke Blitar. Sayangnya, apa yang ia pelajari selama di Surabaya hanya fokus pada Latte art.
Saat berkabar dengan adiknya, ia mengalami dilema dengan keterbatasan alat dan modal untuk menerapkan pengalamannya di latte art. Keterbatasan itu justru membentuk karakter seduhan mereka yang unik.
Berdua dengan adiknya, ia membangun Loka bar di tengah gang perkampungan kota Blitar. Tempat belakang Kopi Noni Blitar jl Tanjung. Konsep Loka Bar mencoba memadukan antara cita rasa kopi sekaligus menggugah semangat literasi.
Dalam menyuplai bacaan literasi ia menggaet perpustakan jalanan pijar untuk urusan buku.
“saat saya kembali ke rumah (Blitar) tahun 2015 caffe masih belum begitu populer, ingat saya masih empat kafe saja waktu itu,” ucap Juni.
Konsep perkopian gang di tengah kampung masih belum populer di Kota Blitar. Kabar munculnya Loka Bar menarik minat dari berbagai kalangan generasi muda. Perkopian di dalam gang pun memberi nuansa baru tempat nongkrong.
Keunikan Loka Bar menarik perhatian Agwan (Agus Wawan), pemilik Mayangkara Group. Ia bahkan memercayai Juni dan adiknya untuk mengelola menu minuman di salah satu restorannya.
“Kok berani banget di kampung membuka single origin, padahal yang lain membukanya di tempat strategis,” kenang Juni menirukan kekaguman Agwan kala itu.
Sambil menjalankan bisnis kedai kopinya ia juga sering di mintai tolong untuk merancang kedai-kedai kopi di Blitar. Salah satunya OG Cafe di kawasan de karanganyar koffieplantage.
Di tahun 2017 ia ditugaskan rosteri penyetelan mesin kopi, setup ruangan, dan setup taman. Bukan hanya itu, Juni juga terlibat membangun Tibal, Jasmin dan Jaten kopi. Sebagian besar mereka pernah menjadi pelanggan Loka Bar. Namun, Loka Bar harus kolaps pada pertengahan 2018 karena persoalan internal.
Juni akhirnya memutuskan untuk mendirikan kedai kopinya sendiri di Togogan, Srengat. Selang dua tahun sebelum akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkannya.
Berkat pernah menonton film “Filosofi Kopi” dan “Ada Apa dengan Cinta 2” ia mendirikan Wande Lor Dalan dengan konsep slowbar. “bagi saya slowbar itu identitas kedai yang lebih humanis.
Ada kehidupan di warung, tempat orang berkumpul dan ngobrol sekaligus pusat informasi”. Interaksi langsung dengan para pelanggan membuat kedai kopi lebih hidup.
Wande Lor Dalan adalah manifestasi kecintaannya pada proses yang organik. Di depan warungnya, Juni menanam sendiri pohon telang yang bunganya ia petik untuk dijadikan minuman.
Ia juga meracik kombucha melalui proses fermentasi tangan dinginnya sendiri. Bagi Juni, menyajikan apa yang ia tanam dan olah sendiri adalah cara tertinggi memuliakan tamu.
“Bagi saya, ada kehidupan di warung; tempat orang berkumpul, mengobrol, sekaligus pusat informasi,” ujarnya. Ia bahkan berkelakar bahwa kedainya adalah tempat ‘podcast tanpa unggah’; ruang diskusi organik tanpa perlu pengaturan kamera atau mikrofon.
Keberhasilan Juni bukan dari banyaknya cabang yang telah ia bangun. Namun jumlah orang yang ia “hidupkan”.
Juni mungkin tidak membangun imperium bisnis kopi yang megah, namun ia membangun manusia. Dari gang sempit Loka Bar hingga ke sudut Wande Lor Dalan, dedikasinya tetap sama: memastikan bahwa di setiap cangkir yang ia seduh, ada martabat dan kehidupan yang ikut terjaga. (Gilang)

