Artikel Feature
Beranda » Mengenal Tymbro, sosok di balik Blitar Tengah Wengi yang padukan sepak bola dan pesan dakwah

Mengenal Tymbro, sosok di balik Blitar Tengah Wengi yang padukan sepak bola dan pesan dakwah

Tymbro alias Mambaul Huda, kreator konten di balik akun media sosial Blitar Tengah Wengi, saat berbincang mengenai konsep kontennya yang memadukan sepak bola dengan pesan-pesan keagamaan. (Foto: Tangkapan layar YouTube Bicara Blitar)

Blitar – Di jagat media sosial Blitar, ada satu nama yang punya cara unik dalam meramu konten: Tymbro. Pria yang memiliki nama asli Mambaul Huda ini lebih dikenal luas lewat akun media sosialnya yang bernama Blitar Tengah Wengi.

Sebuah brand digital yang kontennya berhasil mencuri perhatian karena memadukan dua hal yang jarang disandingkan, yakni sepak bola dan pesan keagamaan.

Blitar Tengah Wengi bukan akun biasa. Kehadirannya tersebar di sejumlah platform sekaligus, mulai dari YouTube, Instagram, Facebook, hingga Twitter atau X. Meski namanya mengandung kata “Blitar”, arah utama kontennya justru berfokus pada ulasan sepak bola yang dikemas dengan balutan nilai-nilai religius yang khas.

Pegang gunting sejak SMP, cerita capster asah mental dan kemandirian di Barber Kampung Garum Blitar

“Blitar Tengah Wengi itu adalah sebuah akun media sosial yang ada di beberapa platform. Itu adalah sebuah media sosial yang fokusnya sebenarnya mengomentari sepak bola, cuma dikemas dengan pesan-pesan keagamaan,” ujar Tymbro dalam dokumentasi video Bicara Blitar.

Perpaduan dua tema yang terkesan berseberangan itu bukan tanpa alasan. Tymbro mengaku, latar belakang hidupnya yang tumbuh di lingkungan religius menjadi fondasi utama gaya kontennya.

Ia bahkan memiliki rekam jejak pendidikan pesantren yang cukup kuat, yang turut membentuk cara pandangnya dalam berdakwah melalui medium yang ringan dan menghibur.

Bongkar alasan banyak Barbershop di Blitar gulung tikar: Bukan soal skill, tapi kedisiplinan

“Saya itu dibesarkan di lingkungan yang religius, dan saya dulu mondok di Al-Amin Kediri yang Mbah Kiainya itu adalah Ketua Pusat (fans) MU Indonesia, yaitu Mbah Kiai Anwar Iskandar,” tuturnya.

Dari titik itulah, Tymbro merasa ada benang merah yang menghubungkan kegemarannya pada sepak bola dengan semangat menyampaikan pesan kebaikan. Baginya, antusiasme dalam menggeluti sepak bola dan semangat berdakwah bukanlah dua hal yang bertolak belakang, melainkan justru bisa saling melengkapi dalam satu kemasan konten.

“Saya kira ada sesuatu yang sinkron antara semangat bersepak bola dan semangat untuk berdakwah,” ungkapnya.

Kisah Khoiruda’i rintis Barber Kampung dari teras rumah saat pandemi hingga berdiri kokoh di Garum Blitar

Gaya khas itu tampak jelas dalam salah satu materi kontennya. Saat menanggapi hasil imbang pertandingan, misalnya, Tymbro menyelipkan dalil dan istilah keagamaan untuk membingkai komentar sepak bolanya.

Hasil pertandingan yang berakhir seri ia maknai sebagai bentuk tenggang rasa, lengkap dengan kutipan ajaran tentang sebaik-baiknya teman di sisi Tuhan. Pendekatan jenaka namun sarat makna inilah yang menjadi ciri pembeda Blitar Tengah Wengi dari akun sepak bola lain.

Identitas Tymbro sebagai penggemar Manchester United juga tidak pernah ia sembunyikan. Justru, kecintaannya pada klub berjuluk Setan Merah itu menjadi ruh utama yang menggerakkan seluruh kontennya. Ia kerap tampil mengenakan atribut khas MU sambil menyampaikan renungan-renungan keagamaan, menciptakan perpaduan yang terasa autentik sekaligus menghibur bagi para pengikutnya.

Trek ekstrem sejauh sejam, begini tantangan menuju Tlogo Gentong di Lereng Kawi Blitar

Lewat Blitar Tengah Wengi, Tymbro membuktikan bahwa konten dakwah tidak harus selalu kaku dan formal. Dengan membungkusnya lewat tema sepak bola yang digandrungi banyak orang, pesan kebaikan justru bisa menyebar lebih luas dan diterima dengan cara yang lebih santai. Sebuah inovasi sederhana dari kreator lokal Blitar yang patut diapresiasi.

*Artikel ini disusun berdasarkan dokumentasi video yang diunggah kanal YouTube Bicara Blitar.

Jejak Tlogo Gentong: Dari 72 KK hingga hilang, Suparmanto kisahkan relokasi yang berat diterima warga

Berita Terkait

×