Blitar – Di balik sunyinya bekas perkampungan Tlogo Gentong yang kini hanya menyisakan reruntuhan rumah kayu dan peralatan dapur, tersimpan sebuah kisah panjang tentang sebuah komunitas yang pernah hidup berdampingan di lereng Gunung Kawi.
Cerita itu mengalir dari seorang warga bernama Suparmanto, yang ditemui tim Bicara Blitar saat berkunjung ke kawasan di Desa Sumberurip, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar, pada Jumat, 15 Mei 2026.
Kepada Bicara Blitar, Suparmanto mengisahkan bahwa Tlogo Gentong pada masa kejayaannya bukanlah kampung kecil dengan segelintir penghuni. Sebaliknya, perkampungan di lereng Kawi tersebut pernah menjadi rumah bagi puluhan keluarga yang menggantungkan hidup dari perkebunan teh milik perusahaan setempat.
“Kalau dulu memang ramai, mas. Waktu itu sekitar 72 kepala keluarga,” ungkap Suparmanto.
Menurutnya, jumlah penghuni sempat menyusut secara bertahap seiring perubahan dinamika perusahaan perkebunan. Hingga tahun 2021, hanya tersisa 26 kepala keluarga yang masih menetap di Tlogo Gentong. Penyusutan tersebut, kata Suparmanto, bukan terjadi tiba-tiba, melainkan melalui beberapa fase relokasi yang dilakukan pihak perusahaan.
“Waktu itu sekitar 72 kepala keluarga. Terus adanya grandville masuk, terdampak yang namanya relokasi. Kemudian dipindahkan ke Dukuh Tlogomas oleh PT yang lama, PT Sari Bumi Kawi, seperti itu mas,” jelasnya.
Saat ini, seluruh penghuni Tlogo Gentong telah angkat kaki dan menetap di Dukuh Tlogomas yang berada di kawasan lebih rendah. Tlogo Gentong sendiri tidak lagi berfungsi sebagai permukiman, melainkan hanya didatangi warga untuk mencari pakan ternak. Sebagian lahan juga dimanfaatkan oleh pihak kehutanan sebagai area penanaman komoditas pertanian.
“Iya, untuk cari pakan ternak. Terus kehutanan pun menyediakan lahan untuk tanam kopi, alpukat, sama durian,” tutur Suparmanto.
Yang menarik, Suparmanto tak menampik bahwa proses meninggalkan Tlogo Gentong bukanlah hal mudah bagi warga. Banyak di antara mereka yang sebenarnya enggan pergi karena merasa memiliki ikatan emosional dengan tanah kelahiran. Bahkan, sempat muncul harapan agar pemerintah daerah ikut turun tangan untuk mempertahankan kampung tersebut dalam bentuk yang berbeda.
“Kalau sebenarnya memang keberatan dari dulu, pengin mempertahankan. Terus kemudian kepengin dari Pemda itu masuk, jadikan lokasi wisata tujuan, seperti itu dulu. Tapi karena dampak dari pemerintah yang memang aturannya pun tegas, masyarakat enggak berani bertindak apa-apa, cuman menerima saja,” ucapnya.
Kini, kisah Tlogo Gentong tinggal jejak. Reruntuhan rumah kayu, peralatan masak yang tertinggal, hingga balai-balai bambu yang sudah lapuk menjadi saksi bahwa pernah ada denyut kehidupan di lereng Kawi tersebut. Dari kisah Suparmanto, publik diingatkan bahwa di balik sebuah kawasan yang berubah, selalu ada manusia-manusia yang ikut berpindah membawa cerita masing-masing.
*Artikel ini disusun berdasarkan dokumentasi video yang diunggah kanal YouTube Bicara Blitar.

