Artikel Feature
Beranda » Jatuh Cinta karena logo, begini kisah Tymbro jadi penggemar setia Manchester United sejak kecil

Jatuh Cinta karena logo, begini kisah Tymbro jadi penggemar setia Manchester United sejak kecil

Tymbro, kreator Blitar Tengah Wengi, menceritakan awal mula kecintaannya pada klub Manchester United yang bermula sejak ia masih duduk di bangku madrasah ibtidaiyah. (Foto: Tangkapan layar YouTube Bicara Blitar)

Blitar – Setiap penggemar sepak bola sejati pasti punya kisah tersendiri tentang bagaimana mereka pertama kali jatuh hati pada sebuah klub. Bagi Tymbro, kreator di balik akun Blitar Tengah Wengi, cerita kecintaannya pada Manchester United dimulai dari hal yang mungkin terdengar sederhana: daya tarik visual sebuah logo.

Tymbro mengisahkan, ketertarikannya pada Setan Merah sudah tertanam sejak ia masih kanak-kanak, tepatnya saat masih duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah (MI). Di usia sebelia itu, ia mengaku belum mampu menilai kualitas sebuah tim sepak bola dari sisi permainan maupun prestasi. Satu-satunya tolok ukur yang ia punya kala itu hanyalah tampilan visual logo klub.

“Waktu MI saya itu melihat siapa pemain yang terbaik atau klub yang terbaik itu sulit. Jadi kalau kecil itu yang dilihat adalah visual logonya,” kenang Tymbro dalam video Bicara Blitar.

Baru sebatas wisata religi, warga Lereng Kawi harap pemerintah garap potensi wisata alam yang terbengkalai

Ia pun mengajak bernostalgia ke era persepakbolaan Inggris sekitar tahun 2008, ketika istilah “the big four” begitu populer. Empat klub raksasa, yakni Chelsea, Liverpool, Arsenal, dan Manchester United, kala itu mendominasi perbincangan. Di antara keempatnya, mata kecil Tymbro langsung terpikat pada lambang klub asal kota Manchester tersebut.

“Karena kecil, visualnya itu saya tertarik kepada MU karena logonya itu, wah ini nyeni tenan (artistik sekali) ini,” ujarnya sambil membandingkan secara jenaka dengan logo klub-klub pesaing yang menurut penilaian masa kecilnya kurang menarik.

Namun ketertarikan awal yang berangkat dari logo itu lambat laun berkembang menjadi kecintaan yang lebih dalam.

35 Tahun di Lereng Kawi, Pak Saidi Ayam rasakan perubahan iklim dan kisahkan mata pencaharian warga

Tymbro mulai gemar menyaksikan gaya permainan Manchester United, dan ia menilai era 2000-an merupakan salah satu masa keemasan klub tersebut. Pada periode itulah skuad MU dihuni deretan pemain bintang yang namanya melegenda.

“Di situ ada (Cristiano) Ronaldo jelas ya, ada Rooney, ada Scholes, ada sekarang yang menjadi pelatih MU ada Giggs,” tutur Tymbro menyebut sederet idolanya.

Salah satu momen yang paling membekas di ingatannya adalah ketika Manchester United merengkuh trofi Liga Champions pada tahun 2008.

Lestarikan tradisi leluhur, warga kompak gelar Baritan di perempatan jalan setiap satu Suro

Bagi Tymbro, periode menyaksikan kejayaan MU di panggung Eropa itu menjadi pengalaman paling epik sepanjang ia mengikuti perjalanan klub kesayangannya. Kenangan masa kecil itulah yang terus terbawa hingga ia dewasa.

“Itu momen terepik ketika saya nonton MU, dan akhirnya sampai besar pun ya terngiang-ngiang kenangan masa kecil,” ungkapnya.

Kisah Tymbro ini menggambarkan bagaimana sebuah kecintaan pada klub sepak bola sering kali tumbuh dari hal-hal kecil dan personal, jauh sebelum seseorang memahami statistik atau prestasi.

Aroma kopi menyambut di Ampelgading, tim Bicara Blitar soroti peran gerai KDMP untuk produk lokal

Dari sekadar kagum pada estetika logo di masa kanak-kanak, kini Tymbro menjelma menjadi salah satu suporter MU yang bahkan menjadikan kecintaannya itu sebagai fondasi membangun identitas kontennya di dunia digital.

*Artikel ini disusun berdasarkan dokumentasi video yang diunggah kanal YouTube Bicara Blitar.

20 tahun merantau ke Surabaya, Bu Landep pilih pulang dan berjualan pisang goreng di Kalimanis Doko

Berita Terkait

×