Pernahkah Anda melintasi jalur utama dari arah Kediri atau Tulungagung menuju jantung Kota Blitar? Jika iya, besar kemungkinan Anda melewati sebuah wilayah bernama Sanankulon.
Bagi banyak orang, daerah ini mungkin hanya dianggap sebagai wilayah penyangga atau sekadar titik transit sebelum masuk ke area kota.
Namun, tahukah Anda? Jika kita mau menepi sejenak dan menelisik lebih dalam, Sanankulon sebenarnya menyimpan narasi besar yang menghubungkan jejak perjuangan laskar Pangeran Diponegoro dengan spiritualitas para wali tanah Jawa.
Yuk, kita ulas lebih dalam lima fakta unik Sanankulon yang membuktikan bahwa wilayah ini adalah permata sejarah yang tetap berdenyut di era modern!
1. Asal-usul Nama: Dari Hutan Sono Hingga Kedemangan 16 Desa
Sejarah Sanankulon berakar kuat pada berakhirnya Perang Diponegoro di tahun 1830. Alkisah, seorang laskar Mataram bernama Raden Tedjo Kusumo memilih untuk tidak kembali ke pusat kerajaan setelah sang Pangeran ditangkap.
Beliau bergerak menuju Blitar untuk menemui kerabatnya yang menjabat sebagai Adipati.
Oleh sang Adipati, Raden Tedjo Kusumo dianugerahi gelar Raden Sunankulon dan diamanahi jabatan sebagai Demang untuk mengelola sebuah wilayah yang dulunya merupakan Hutan Sono.
Menariknya, wilayah kekuasaan beliau saat itu tidaklah kecil; ia membawahi 16 pedesaan! Seiring waktu, istilah “Sunankulon” yang merujuk pada gelar sang Demang berakulturasi dengan nama wilayah asalnya hingga menjadi Sanankulon. Nama ini secara resmi dikukuhkan pada bulan Dzulqadah (Selo) 1282 Hijriah, tepat pada hari Jumat Legi.
2. Situs Tri Tingal: Titik Temu Tiga Tokoh Besar Islam Jawa
Siapa sangka di Dusun Centong, Desa Purworejo, terdapat sebuah situs spiritual yang sangat dihormati? Pada November 2025 lalu, Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat secara resmi mengukuhkan Situs Tri Tingal sebagai warisan cagar budaya.
Nama “Tri Tingal” sendiri merujuk pada keyakinan bahwa tempat ini merupakan titik pertemuan untuk bertukar ilmu (kaweruh) antara tiga tokoh raksasa dalam sejarah Islam Jawa:
- Syech Siti Jenar
- Sunan Kalijaga
- Raden Kebo Kenongo
Selain penemuan pohon jenar tua dan batu gilang, tim riset Karaton Surakarta menaruh perhatian khusus pada area yang disebut “tanah abang” dan “tanah putih”.
Keberadaan dua warna tanah ini dipercaya sebagai simbol fisik dari jejak ajaran spiritual tertentu yang hendak diluruskan pada masa itu, menambah kesan misterius sekaligus sakral pada situs ini.
3. Filosofi ‘Sekul Suci Ulam Sari’ dalam Tradisi Bersih Dusun
Budaya nguri-uri atau merawat tradisi masih sangat kental, terutama di Dusun Kuntulan. Warga menganggap Bersih Dusun sebagai “Hari Ulang Tahun” desa yang puncaknya selalu jatuh pada Jumat Kliwon.
Di balik kemeriahannya, ada simbol rasa syukur yang mendalam melalui penyajian ambengan berupa Sekul Suci Ulam Sari.
Apa maknanya? Dalam tradisi setempat, Sekul suci ulam sari dimaknai sebagai saripati bumi sebuah simbol penghormatan atas segala rezeki dan karunia kemakmuran yang dipanen dari tanah yang mereka pijak.
“Bersih desa itu kalau kita mengenalnya saat ini adalah HUT: Hari ulang tahun desa, ataupun dusun yang kita tempati… Tujuannya adalah sebagai wujud syukur atas jasa para leluhur dan berkah bumi untuk kita semua.
Ada persembahan Sekul Suci Ulam Sari, sarinya bumi,” ungkap Kepala Desa Sanankulon, Eko Triono.
4. Kecamatan Terkecil dengan Kepadatan Tertinggi di Kabupaten Blitar
Secara administratif, Sanankulon memegang predikat unik. Dengan luas wilayah hanya sekitar 33,33 km², Sanankulon merupakan kecamatan terkecil di Kabupaten Blitar.
Namun, jangan salah, data BPS menunjukkan bahwa wilayah “mungil” ini justru memiliki kepadatan penduduk tertinggi di seluruh kabupaten!
Tingginya kepadatan ini menjadikannya penyangga utama Kota Blitar yang sangat strategis. Sanankulon berbatasan langsung dengan:
- Utara: Kecamatan Ponggok dan Nglegok.
- Timur: Kota Blitar dan Kecamatan Kanigoro.
- Selatan: Kecamatan Kademangan dan Sungai Brantas.
- Barat: Kecamatan Srengat dan Ponggok.
Bagi sobat yang sering bepergian ke arah selatan, desa-desa seperti Tuliskriyo dan Plosoarang di Sanankulon merupakan pintu gerbang utama yang menghubungkan Kota Blitar dengan wilayah Blitar Selatan dan Kabupaten Tulungagung.
5. Keamanan di Jalur Besi: Menjaga Nyawa di Tengah Mobilitas
Sebagai wilayah dengan kepadatan penduduk yang luar biasa, tantangan modernitas tak bisa dihindari. Perkembangan wilayah menuntut keseimbangan antara mobilitas penduduk dan keselamatan.
Pada Februari 2026, KAI Daop 7 Madiun mengambil langkah tegas dengan menutup perlintasan sebidang tidak resmi (JPL 203) di Dusun Sanankulon.
Langkah preventif ini diambil sebagai bentuk transformasi keselamatan di jalur yang tergolong rawan kecelakaan. Bagi masyarakat Sanankulon yang dinamis, ini adalah pengingat bahwa di tengah deru kemajuan, keselamatan nyawa tetap menjadi prioritas utama.
Kesimpulan: Merawat Warisan di Era Modern
Sanankulon adalah bukti nyata bagaimana sejarah perjuangan laskar Diponegoro, kedalaman spiritual para wali, dan dinamika penduduk modern dapat hidup berdampingan.
Namun, padatnya penduduk dan arus globalisasi membawa tantangan tersendiri bagi kelestarian nilai-nilai luhur ini.
Sesepuh sekaligus tokoh agama, Imam Ghozaly, memberikan pesan reflektif yang kuat bagi kita semua: tradisi seperti Bersih Dusun dan penghormatan terhadap sejarah harus terus diperkenalkan kepada generasi muda.
Beliau menegaskan, “Kalau tidak dikenalkan, lama-lama semakin tergerus globalisasi dan akan terlupakan.”
Sebuah pengingat bagi kita para milenial dan generasi penerus: sudahkah kita mengenali dan merawat “harta karun” sejarah di sekitar kita sebelum ia hilang tertutup zaman?
Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI

