Artikel Opini
Beranda » Melihat kembali pokok-pokok ajaran Marhaenisme menurut Bung Karno: Impor dari Jepang suatu rahmat bagi Marhaen? (Bagian VI)

Melihat kembali pokok-pokok ajaran Marhaenisme menurut Bung Karno: Impor dari Jepang suatu rahmat bagi Marhaen? (Bagian VI)

Foto Bung Karno dalam Buku "Pokok-Pokok Ajaran Marhaenisme menurut Bung Karno." Dok.Pribadi

Pada awal dekade 1930-an, keadaan rakyat Indonesia berada dalam situasi yang sangat sulit. Krisis ekonomi dunia menghantam Hindia Belanda dengan keras. Harga hasil tani jatuh, lapangan kerja menyempit, dan kaum kecil hidup dalam tekanan yang luar biasa berat.

Di tengah suasana itu, pasar-pasar Indonesia mulai dibanjiri barang-barang murah dari Jepang. Kemeja, handuk, sapu tangan, hingga piring dijual dengan harga yang nyaris tidak masuk akal. Bagi rakyat kecil yang hidup hanya dengan beberapa sen sehari, barang-barang itu tampak seperti berkah dari langit.

Sebagian tokoh pergerakan bahkan memuji Jepang secara terbuka. Mereka menganggap Jepang sebagai penyelamat kaum kecil karena mampu menyediakan kebutuhan rakyat dengan harga murah.

Melihat kembali pokok-pokok ajaran Marhaenisme menurut Bung Karno: Azas; Azas Perjuangan; Taktik (Bagian V)

Namun Bung Karno melihat persoalan itu dengan cara yang jauh lebih dalam. Dalam tulisan-tulisannya di Fikiran Ra’jat tahun 1933, Bung Karno memperingatkan bahwa rakyat jangan sampai tertipu oleh murahnya barang impor. Di balik harga murah itu, tersembunyi wajah imperialisme ekonomi yang perlahan bisa menghancurkan kemandirian bangsa.

Bung Karno menilai bahwa banyak orang hanya melihat persoalan dari permukaannya saja. Memang benar barang Jepang meringankan beban rakyat untuk sementara waktu, tetapi menurutnya persoalan utama bukan terletak pada murah atau mahalnya barang.

Persoalan utamanya adalah siapa yang menguasai produksi dan siapa yang akhirnya menjadi korban dari sistem perdagangan itu sendiri. Bung Karno memahami bahwa imperialisme modern tidak selalu datang dengan meriam dan pasukan militer. Imperialisme juga bisa masuk melalui pasar, industri, dan perdagangan.

Melihat kembali pokok-pokok ajaran Marhaenisme menurut Bung Karno: Demokrasi-Politik dan Demokrasi-Ekonomi (Bagian III)

Untuk menjelaskan pandangannya, Bung Karno mengajak rakyat melihat pengalaman masa lalu ketika industri tekstil Belanda dari wilayah Twente membanjiri Indonesia. Pada masa sebelum industrialisasi kolonial berkembang, rakyat Indonesia sebenarnya memiliki kemampuan memproduksi kain sendiri.

Industri tenun hidup di berbagai daerah Nusantara dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Namun keadaan berubah ketika kain-kain pabrikan Belanda masuk besar-besaran ke Indonesia dengan kualitas lebih baik dan harga lebih murah.

Lambat laun, industri rakyat runtuh. Para pengrajin kehilangan pasar. Kemampuan produksi bangsa sendiri melemah. Rakyat akhirnya bergantung pada barang impor dari luar negeri. Dalam pandangan Bung Karno, inilah wajah asli imperialisme ekonomi yakni mematikan daya produksi rakyat agar suatu bangsa selamanya menjadi pasar bagi kekuatan asing.

Melihat kembali pokok-pokok ajaran Marhaenisme menurut Bung Karno: Marhaen dan Proletar (Bagian II)

Karena itu Bung Karno menolak sikap berlebihan yang memuja Jepang hanya karena barang-barangnya murah. Ia menilai kekaguman semacam itu sangat berbahaya karena membuat rakyat lupa bahwa Jepang pada hakikatnya juga sedang menjalankan kepentingan imperialismenya sendiri.

Barang-barang murah Jepang bukan muncul karena belas kasih terhadap rakyat Indonesia, melainkan karena Jepang sedang mencari pasar baru setelah produk-produknya diboikot di Tiongkok. Pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia kemudian dijadikan sasaran baru untuk membuang hasil produksi industrinya.

Meski begitu, Bung Karno juga bukan seorang pemimpin yang menutup mata terhadap kenyataan hidup rakyat kecil. Ia memahami bahwa kaum Marhaen tetap membutuhkan barang murah untuk bertahan hidup.

Melihat kembali pokok-pokok ajaran Marhaenisme menurut Bung Karno: maklumat dari Bung Karno kepada kaum marhaen Indonesia (Bagian I)

Karena itulah Bung Karno tidak menyerukan penolakan total terhadap barang impor. Ia justru memperkenalkan gagasan yang sangat penting dalam perjuangan rakyat, yakni revolutionaire aanvaarden atau “menerima secara revolusioner”.

Maksudnya, rakyat boleh memakai barang impor jika memang terpaksa dan lebih murah, tetapi kesadaran politik tidak boleh hilang. Rakyat harus tetap sadar bahwa kapitalisme dan imperialisme tetap merupakan sistem yang menindas. Barang murah tidak boleh membuat bangsa kehilangan harga diri dan melupakan perjuangan untuk berdiri di atas kekuatan sendiri.

Di sinilah terlihat kedalaman pemikiran Marhaenisme Bung Karno. Marhaenisme tidak hanya rasa kasihan kepada rakyat miskin, melainkan sebuah kesadaran politik untuk membela kaum tertindas sekaligus membangun kemandirian bangsa. Bung Karno ingin rakyat Indonesia menjadi bangsa yang mampu memproduksi sendiri, menghidupi dirinya sendiri, dan tidak terus-menerus bergantung kepada kekuatan asing.

Melihat kembali pokok-pokok ajaran Marhaenisme menurut Bung Karno: sebuah pengantar

Pandangan Bung Karno itu terasa sangat relevan hingga hari ini. Indonesia modern masih menghadapi persoalan yang hampir serupa seperti banjir produk impor, melemahnya industri kecil, ketergantungan ekonomi, dan dominasi pasar oleh kekuatan besar dunia. Apa yang pernah diperingatkan Bung Karno pada tahun 1933 seolah menjadi cermin bagi keadaan sekarang.

Bung Karno mengajarkan bahwa bangsa yang besar bukan bangsa yang hanya menjadi konsumen barang murah, melainkan bangsa yang memiliki keberanian membangun kekuatan ekonominya sendiri. Sebab selama rakyat hanya menjadi pasar bagi kekuatan asing, selama itu pula penjajahan ekonomi akan terus hidup dalam wajah yang berbeda.

6 wisata sejarah Bung Karno di Blitar yang wajib dikunjungi
×