BLITAR – Upaya meningkatkan kualitas akademik mahasiswa terus dilakukan oleh Rayon FKIP Universitas Islam Balitar (Unisba) Blitar. Salah satunya melalui kegiatan Critical Research Methods Training yang digelar di Pinus (Pendopo Islam Nusantara), Sabtu (23/5/2026). Kegiatan tersebut mengusung tema “Menajamkan Nalar Kritis Akademik untuk Gerakan yang Berdampak.”
Pelatihan ini menghadirkan Muhammad Nasyirudin, S.Ag., M.M., dosen Unisba Blitar, sebagai pemateri utama. Kegiatan diikuti mahasiswa FKIP Unisba Blitar bersama sejumlah dosen yang ingin memperdalam pemahaman mengenai metode penelitian kritis dan pengembangan riset akademik.
Sejak awal kegiatan, suasana diskusi terlihat hidup dan interaktif. Peserta tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga diajak memahami bagaimana penelitian dapat menjadi instrumen perubahan sosial yang berdampak nyata di tengah masyarakat.
Ketua Pelaksana kegiatan, Ferry Meisiano, mengatakan bahwa pelatihan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun tradisi akademik di kalangan mahasiswa. Menurutnya, kemampuan melakukan penelitian tidak cukup hanya memahami teori, tetapi juga membutuhkan ketajaman berpikir kritis dan kemampuan membaca persoalan sosial secara mendalam.
“Tanpa memahami metode penelitian yang baik, kita tidak akan mampu melakukan penelitian dan pengembangan yang berkualitas. Melalui pelatihan ini, kami ingin menajamkan nalar kritis akademik mahasiswa agar mampu menciptakan gerakan yang berdampak,” ujar Ferry Meisiano.
Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini juga menjadi bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada poin penelitian dan pengembangan. Ferry menilai mahasiswa harus mulai dibiasakan untuk aktif melakukan riset sejak dini agar mampu menghasilkan karya ilmiah yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Dalam sesi pemaparan materi, Muhammad Nasyirudin menyampaikan berbagai pembahasan mulai dari dasar-dasar metode penelitian kritis, teknik analisis data, hingga strategi menyusun proposal penelitian yang kuat dan sistematis. Penyampaian materi dilakukan secara komunikatif sehingga peserta dapat lebih mudah memahami konsep yang diberikan.
Tidak hanya membahas teori penelitian, peserta juga diajak memahami pentingnya membangun pola pikir kritis dalam dunia akademik. Menurut Muhammad Nasyirudin, riset bukan sekadar memenuhi tugas perkuliahan, melainkan sarana untuk melatih kepekaan terhadap realitas sosial dan mencari solusi atas persoalan yang terjadi di masyarakat.
Diskusi berlangsung aktif selama kegiatan berlangsung. Sejumlah mahasiswa terlihat antusias mengajukan pertanyaan terkait teknik menentukan fokus penelitian, cara mencari data yang valid, hingga tantangan yang sering dihadapi saat menyusun karya ilmiah.
Bagi sebagian peserta, pelatihan ini menjadi pengalaman baru karena mereka mendapatkan pemahaman lebih mendalam mengenai penelitian kritis yang sebelumnya jarang dibahas secara praktis di ruang perkuliahan. Selain itu, suasana kegiatan yang berlangsung santai namun tetap akademis membuat peserta lebih nyaman untuk berdiskusi dan bertukar gagasan.
Kegiatan yang digelar di Pinus atau Pendopo Islam Nusantara tersebut juga menjadi ruang konsolidasi intelektual bagi mahasiswa FKIP Unisba Blitar. Tidak hanya belajar tentang metode penelitian, peserta turut didorong untuk membangun budaya literasi dan tradisi diskusi akademik yang lebih kuat di lingkungan kampus.
Ferry Meisiano menambahkan bahwa penguatan budaya riset di kalangan mahasiswa menjadi salah satu langkah penting dalam menciptakan sumber daya manusia yang mampu bersaing dan berkontribusi bagi masyarakat. Menurutnya, mahasiswa harus memiliki keberanian untuk berpikir kritis sekaligus mampu menuangkan gagasan dalam bentuk penelitian ilmiah.
Ia berharap pelatihan semacam ini dapat memotivasi mahasiswa agar lebih aktif mengikuti kegiatan akademik dan tidak hanya berfokus pada aktivitas perkuliahan formal. Dengan kemampuan riset yang baik, mahasiswa dinilai akan lebih siap menghadapi tantangan dunia kerja maupun kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.
“Harapannya kegiatan seperti ini tidak berhenti di satu momentum saja. Ke depan kami ingin pelatihan-pelatihan akademik seperti ini bisa terus diadakan secara berkala agar budaya riset di kalangan mahasiswa semakin kuat,” tambahnya.
Melalui kegiatan Critical Research Methods Training ini, Rayon FKIP Unisba Blitar menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kapasitas intelektual mahasiswa. Penguatan kemampuan penelitian dan nalar kritis dinilai menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk menciptakan karya ilmiah yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat Blitar dan sekitarnya.
Dengan antusiasme peserta yang tinggi serta diskusi yang berlangsung aktif sepanjang kegiatan, pelatihan tersebut diharapkan menjadi awal tumbuhnya ekosistem akademik yang lebih progresif di lingkungan mahasiswa Unisba Blitar.

