Artikel Opini
Beranda » Pemikiran Soekarno Muda: Indonesianisme dan Pan-Asiatisme

Pemikiran Soekarno Muda: Indonesianisme dan Pan-Asiatisme

Soekarno saat masih mahasiswa di Technische Hoogeschool te Bandoeng (Sekarang ITB). Dok. wikimedia.org.

Nama Soekarno dalam sejarah Indonesia tidak hanya dikenang sebagai proklamator kemerdekaan, tetapi juga sebagai pemikir besar yang mampu membaca arah perubahan dunia jauh sebelum Indonesia Merdeka pada era 1920-1930-an.

Salah satu gagasan penting yang terus ia suarakan dalam masa pergerakan nasional adalah Pan-Asiatisme, yakni keyakinan bahwa bangsa-bangsa Asia harus bersatu menghadapi imperialisme Barat yang selama berabad-abad menjadikan Timur sebagai wilayah jajahan dan eksploitasi ekonomi.

Pemikiran itu tampak kuat dalam tulisan Soekarno yang dimuat di Suluh Indonesia Muda tahun 1928, ketika ia menanggapi kemenangan gerakan nasionalis di Tiongkok dan menghubungkannya dengan perjuangan rakyat Indonesia.

Mengenal konsep perjuangan kelas ala Soekarno

Bagi Soekarno, kemenangan kaum nasionalis di Tiongkok (Era Sun Yat-Sen) bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ia melihatnya sebagai kemenangan seluruh bangsa Asia yang sedang bangkit melawan kolonialisme.

Karena itu, ketika tokoh-tokoh Indonesia ikut merayakan keberhasilan gerakan nasionalis Tiongkok, Soekarno memaknainya sebagai tanda mulai tumbuhnya kesadaran persaudaraan di antara bangsa-bangsa Timur.

Menurutnya, bangsa Indonesia dan bangsa Tiongkok memiliki kesamaan nasib yakni sama-sama pernah diinjak oleh imperialisme asing, sama-sama mengalami penghinaan sebagai bangsa terjajah serta sama-sama sedang berjuang merebut kehidupan yang merdeka dan bermartabat.

Melihat kembali pokok-pokok ajaran Marhaenisme menurut Bung Karno: Marhaen dan Marhaeni (Bagian IV)

Pandangan Soekarno ini lahir dari keyakinannya bahwa sejarah Asia sebenarnya adalah sejarah penderitaan panjang akibat kolonialisme Barat. Ia mencontohkan bagaimana rakyat India bangkit bersama Mahatma Gandhi, bagaimana rakyat Mesir melawan imperialisme Inggris di bawah kepemimpinan Saad Zaghloul, serta bagaimana revolusi nasional Tiongkok dipelopori oleh Sun Yat-sen.

Semua perjuangan itu, menurut Soekarno, tidak bisa dipisahkan satu sama lain karena seluruh bangsa Asia menghadapi musuh yang sama yakni imperialisme global.

Soekarno bahkan meyakini bahwa kebangkitan nasional Indonesia sendiri mendapat inspirasi besar dari kemenangan bangsa Asia lain. Ia pernah menggambarkan kemenangan Jepang atas Rusia pada 1905 sebagai pukulan psikologis besar terhadap mitos keunggulan bangsa kulit putih.

Mengenal CGMI, organisasi mahasiswa kiri terbesar yang sejarahnya terkubur bersama PKI

Kemenangan itu membuat bangsa-bangsa Asia mulai percaya bahwa Barat tidak mustahil dikalahkan. Dari situlah lahir keyakinan baru di kalangan rakyat terjajah bahwa kemerdekaan bukan sesuatu yang mustahil dicapai.

×