Kecamatan Sutojayan
Kecamatan Sutojayan menduduki posisi strategis sebagai salah satu penggerak ekonomi yang tumbuh pesat di kawasan Blitar Selatan.
Wilayah ini menyuguhkan perpaduan dinamis antara suasana kota kecil yang modern dengan akar sejarah yang tertanam sangat dalam.
Meskipun nama Sutojayan lebih dikenal dengan sebutan Lodoyo. Kecamatan Sutojayan menyediakan beragam fasilitas publik mulai dari Pasar Lodoyo, rumah sakit, hingga Alun-Alun yang memfasilitasi aktivitas warga setiap hari.
Bendungan jegu: infrastruktur vital dan pesona PLTM lodagung
Sutojayan memiliki infrastruktur pengairan yang sangat vital melalui keberadaan Bendungan Jegu atau PLTA Wlingi.
Selain menjalankan fungsi teknis, kawasan bendungan ini menawarkan panorama alam yang menyejukkan bagi para wisatawan.
Hamparan air yang tenang berpadu dengan pepohonan rindang menciptakan atmosfer santai yang menarik minat warga untuk berkunjung pada pagi atau sore hari.
Selain PLTA Wlingi, kawasan ini memiliki PLTM (Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro) Lodagung yang memberikan kontribusi tambahan bagi pasokan listrik daerah.
Dari titik ini pula mengalir Sungai Lodagung, sebuah saluran irigasi ikonik yang membentang hingga ke wilayah Tulungagung.
Wisatawan sering menikmati pemandangan di sepanjang tepian sungai buatan ini, terutama saat melintasi kawasan hutan jati yang menawarkan latar belakang foto yang sangat estetik.
Geliat ekonomi dan wisata kuliner pedesan tongkol
Pusat keramaian ekonomi Sutojayan bertumpu pada aktivitas di Pasar Lodoyo dan area Alun-Alun.
Di tengah perkembangan zaman, Sutojayan tetap menjaga daya tarik kuliner tradisionalnya.
Salah satu destinasi paling legendaris adalah Warung Ampok Mak Sih yang menduduki kawasan tersembunyi (hidden gem) di Lingkungan Wonorejo, Kelurahan Kalipang.
Warung ini memiliki reputasi tinggi berkat menu andalannya, yaitu Pedesan Tongkol dengan bumbu yang sangat berani dan pedas.
Pelanggan setia biasanya menyerbu lokasi ini mulai pukul 19.00 hingga 22.00 WIB.
Modernitas juga mulai menyentuh sisi estetika wilayah ini. Di sekitar Bendungan Jegu, para pengusaha muda membuka kafe-kafe kekinian dengan dekorasi menarik untuk menarik minat generasi milenial.
Keberadaan tempat-tempat nongkrong ini menciptakan transisi yang halus antara warisan kuliner masa lalu dengan gaya hidup modern masyarakat Sutojayan saat ini.
Geografi dan tata wilayah sutojayan
Secara administratif, Kecamatan Sutojayan memiliki luas wilayah 44,20 kilometer persegi yang mencakup dataran rendah subur. Wilayah ini memiliki 7 kelurahan dan 4 desa yang terdiri dari:
- Kelurahan: Jegu, Jingglong, Kalipang, Kedungbunder, Kembangarum, Sukorejo, dan Sutojayan.
- Desa: Bacem, Kaulon, Pandanarum, dan Sumberjo.
Sutojayan berbatasan langsung dengan Sungai Brantas di sisi utara dan kawasan hutan jati di sisi barat.
Beberapa lokasi ikonik yang wajib dikunjungi:
- Alun-Alun Lodoyo: Pusat aktivitas massa dan lokasi utama upacara adat.
- Candi Bacem dan Prasasti Jaring: Jejak arkeologi penting yang membuktikan peradaban kuno di Blitar Selatan.
- Jembatan Glondong: Akses penghubung utama masyarakat menuju sisi utara sungai.
Harmoni tradisi dan modernitas
Sutojayan berhasil membuktikan bahwa pembangunan fisik dan kemajuan ekonomi dapat berjalan beriringan dengan pelestarian nilai-nilai leluhur.
Masyarakat tetap menjaga kesenian rakyat seperti Jaranan Jur Ngasinan yang telah berumur lebih dari satu abad.
Status Siraman Gong Kyai Pradah sebagai Warisan Budaya Tak Benda semakin memperkokoh posisi Lodoyo sebagai titik energi spiritual di Jawa Timur.
Kecamatan Sutojayan terus melangkah maju sebagai pusat peradaban yang menghormati akar sejarah sambil menyambut masa depan yang kian dinamis.

