Bagi mereka yang sekadar melintas, Ponggok mungkin tampak seperti deretan desa agraris yang tenang di bawah naungan Gunung Kelud.
Namun, jangan biarkan rimbunnya perkebunan mengecoh Anda. Ponggok adalah “raksasa” yang berdenyut kencang; ia merupakan kecamatan dengan penduduk terbanyak di Kabupaten Blitar, mencapai 112.865 jiwa pada tahun 2024.
Di balik statusnya sebagai wilayah paling padat, Ponggok menyimpan dualitas yang memikat. Di sini, sejarah industri kolonial yang mendunia berkelindan dengan ambisi wisata modern yang fantastis.
Mari menyelisik lebih dalam mengapa wilayah di perbatasan Kediri ini layak disebut sebagai permata tersembunyi yang terus bersolek.
1. Keliling Dunia Tanpa Paspor di Blitar Fantasy World
Siapa sangka di jantung Desa Kawedusan, Anda bisa berdiri di hadapan replika Menara Eiffel, berfoto di bawah Patung Liberty, hingga menyapa Sphinx dalam satu sore? Blitar Fantasy World telah menjadi fenomena baru yang mengubah wajah pedesaan Ponggok menjadi “panggung dunia.”
Destinasi ini menjadi jawaban cerdas bagi masyarakat lokal yang merindukan hiburan kelas dunia dengan aksesibilitas yang ramah di kantong.
Dengan fasilitas Tiket Terusan seharga Rp35.000, pengunjung bebas mengeksplorasi wahana mulai dari rumah hantu hingga kolam renang dengan atraksi ember tumpah.
Bagi para pencari adrenalin, Rainbow Slide sepanjang 50 meter siap memberikan sensasi meluncur di atas pelangi di tengah udara lereng gunung yang sejuk. Ini adalah wujud adaptasi Ponggok terhadap tren wisata swafoto yang kini digemari lintas generasi.
2. Jejak “Emas Hijau” dan Kejayaan Pabrik Bendorejo
Ponggok tidak mendadak ramai karena pariwisata; ia telah menjadi pusat ekonomi strategis sejak zaman Belanda.
Di Desa Gembongan, jejak Pabrik Bendorejo yang dikelola oleh perusahaan HVA menjadi saksi bisu masa keemasan industri serat dan tepung. Pada masa itu, kaki Gunung Kelud adalah hamparan tanaman agave dan singkong yang menjadi komoditas global.
Tanaman tersebut kemudian diolah di Pabrik Bendorejo menjadi komoditas ekspor bernilai tinggi… Pabrik ini sangat menguntungkan bagi Belanda yang saat itu kehabisan uang pasca Perang Diponegoro.
Tanaman agave diolah menjadi karung goni untuk logistik dunia, sementara singkong disulap menjadi tapioka berkualitas tinggi.
Meskipun pabrik ini berhenti beroperasi sejak masa pendudukan Jepang, identitas Ponggok sebagai wilayah produktif tetap mendarah daging, bermigrasi dari serat industri menuju kemakmuran hortikultura yang kita lihat hari ini.
3. Saksi Bisu Majapahit di Candi Kalicilik
Jika Anda mencari kedalaman spiritual dan sejarah yang autentik di Ponggok, arahkan langkah ke Desa Candirejo. Di sana berdiri Candi Kalicilik, sebuah struktur bata merah dari era Majapahit yang melambangkan kemegahan arsitektur kuno di tanah Blitar.
Candi ini memberikan dimensi waktu yang berbeda bagi Ponggok; ia membuktikan bahwa kawasan ini telah menjadi pemukiman penting jauh sebelum kolonial datang.
Keberadaan candi ini, bersama dengan situs-situs lain seperti Candi Sumbernanas, menciptakan aura magis yang kontras dengan hiruk-pikuk perdagangan di sekitarnya. Masyarakat setempat menjaga warisan ini bukan sekadar sebagai objek wisata, melainkan sebagai penanda akar budaya mereka yang kuat.
Di sini, sejarah tidak hanya dibaca di buku, tapi bisa disentuh dan dirasakan melalui relief-relief tua yang masih bertahan dari gempuran zaman.
4. Pasar Patok: Episentrum “Nanas Kelud” Jawa Timur
Bergeser ke Desa Sidorejo desa dengan populasi terbesar di Ponggok (17 ribu jiwa) kita akan disambut oleh aroma manis yang menyengat dan deru truk-truk besar. Inilah Pasar Patok, pusat perdagangan nanas terbesar di Jawa Timur yang terletak strategis di jalur alternatif Kediri-Kota Blitar.
Pasar ini adalah metafora kemakmuran yang lahir dari lahan vulkanik Kelud yang subur. Berbeda dengan agave di masa lalu yang digunakan untuk serat industri, nanas yang diperdagangkan di sini adalah primadona konsumsi.
Dinamika di Pasar Patok menunjukkan betapa Ponggok adalah pemain kunci dalam ketahanan pangan daerah.
Kesibukan para tengkulak dan petani di pasar ini adalah detak jantung ekonomi yang memastikan kesejahteraan masyarakat Sidorejo tetap terjaga.
5. Kesambi Trees Park: Harmoni di Bawah Rindang Maliran
Sebagai penyeimbang dari modernitas Fantasy World, Ponggok menawarkan ketenangan di Kesambi Trees Park yang terletak di kawasan Maliran/Jatilengger.
Di sini, harmoni antara alam dan manusia terjaga dengan apik melalui penangkaran rusa yang dikelilingi oleh pepohonan kesambi yang rindang.
Berjalan di bawah kanopi hijau sembari memberi makan rusa memberikan pengalaman meditatif yang langka. Lokasi ini membuktikan bahwa Ponggok memiliki spektrum wisata yang lengkap; ia bisa menjadi sangat meriah dengan wahana buatannya, namun tetap mampu menyediakan ruang bagi mereka yang merindukan kesunyian dan kedekatan dengan alam.
Wajah Baru yang Terus Bersolek
Ponggok hari ini adalah potret sebuah wilayah yang tidak pernah berhenti bertransformasi. Pembangunan pun terus dilakukan, meski bukan tanpa tantangan. Tengok saja proyek betonisasi jalan di Desa Candirejo.
Awalnya, warga sempat melayangkan protes karena hanya 60 meter jalan yang dibeton dari satu kilometer yang diusulkan.
Namun, melalui proses musyawarah bersama tokoh masyarakat, proyek ini akhirnya diterima sebagai langkah awal pembangunan infrastruktur yang lebih baik.
Dinamika ini menunjukkan bahwa kemajuan di Ponggok adalah hasil negosiasi antara ambisi pemerintah dan harapan warga.
Jika sebuah kecamatan di kaki gunung mampu menawarkan replika dunia, jejak industri ekspor global, hingga situs kuno Majapahit, kejutan apalagi yang sebenarnya tersimpan di sudut-sudut lain Blitar yang belum kita jelajahi?
Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI

