Bagi kamu yang sering melintasi jalur penghubung Kediri-Blitar, wilayah di utara Sungai Brantas ini mungkin sering dianggap hanya sebagai jalur transit. Namun, Srengat jauh lebih dari sekadar titik perlintasan.
Terletak secara astronomis pada koordinat 112°1′ hingga 112°7′ Bujur Timur dan 8°2′ hingga 8°7′ Lintang Selatan, Srengat kini memantapkan posisinya sebagai pusat ekonomi utama Blitar bagian barat.
Mengapa wilayah ini harus masuk dalam radar pencarianmu? Srengat sedang mengalami transformasi luar biasa dari pusat perlawanan kolonial yang heroik hingga kini menjadi pusat pelayanan publik paling modern. Melalui Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) 2024-2044, Srengat sedang bersiap mengubah wajahnya secara masif.
Yuk, kita bedah sisi menarik Srengat mulai dari kekayaan sejarahnya yang “berani” hingga rencana besar 20 tahun ke depan yang akan menjadikannya magnet baru di Jawa Timur.
1. Jejak “Kabupaten yang Dihapus” Karena Membangkang Belanda
Srengat bukan sekadar kecamatan biasa; ia memiliki sejarah administrasi yang sangat prestisius. Pada abad ke-18, Srengat berstatus sebagai Kabupaten di bawah naungan Kasunanan Surakarta. Namun, status mentereng ini berakhir secara dramatis.
Belanda menghapus status kabupaten tersebut secara resmi melalui Resolusi Belanda pada 31 Desember 1830. Alasannya? Sangat heroik. Bupati Srengat saat itu, Raden Tumenggung Mertodiningrat II, diketahui memberikan dukungan diam-diam kepada perjuangan Pangeran Diponegoro selama Perang Jawa.
Sebagai hukuman atas pembangkangan ini, status Srengat diturunkan menjadi Kawedanan pada tahun 1834. Jejak pusat pemerintahan masa lalu ini masih bisa kita rasakan hingga kini; lokasi bekas pendopo kawedanan telah bertransformasi menjadi Kantor Imigrasi Kelas II Blitar, sementara alun-alunnya yang dulu luas kini menjadi jantung ekonomi baru, yakni Pasar Srengat.
2. Candi Mleri – Tempat Peristirahatan Terakhir Raja Singasari
Di Desa Bagelenan, terdapat situs bersejarah luar biasa bernama Candi Mleri. Bagi pencinta budaya, candi ini adalah harta karun karena telah melewati tiga masa kerajaan besar: Kadiri, Singasari, hingga Majapahit.
Jejak keagungannya bahkan tercatat dalam kitab Negarakertagama dengan perubahan nama (toponimi) dari Meleri pada abad ke-13 menjadi Weleri pada abad ke-14.
Situs ini merupakan tempat penyimpanan abu jenazah Ranggawuni (Raja Singasari ke-3 yang bergelar Sri Wisnuwardhana). Juru kunci Candi Mleri, Sunarmi, menceritakan kedalaman makna tempat ini:
“Jadi sebenarnya ada 2 tempat penyimpanan abu jenazah Ranggawuni, satu di Mleri ini satu di Candi Jogo, Malang. Tempat pemakaman abu jenazah Ranggawuni dan selirnya tersimpan dalam sebuah rumah kecil bernama ‘Kekunaan Mleri’ yang berfungsi sebagai tempat pendharmaan.”
3. Rumah Bagi Pendopo Joglo Kayu Terbesar di Dunia
Jika kamu sedang melakukan perjalanan jauh dan butuh tempat singgah yang estetik, Srengat punya Rest Area Hand Asta Sih di Togogan. Yang membuatnya istimewa adalah keberadaan Pendopo Joglo kayu terbesar di dunia yang berdiri megah menantang mata setiap pelancong yang lewat.
Selain keindahan arsitekturnya yang cocok untuk healing sejenak, rest area ini sangat informatif dengan rincian tarif retribusi parkir yang transparan:
- Sepeda Motor: Rp3.000,-
- Mobil: Rp5.000,-
- Elf: Rp7.000,-
- Bus: Rp10.000,-
4. One Village One Product (OVOP) – Dari Senapan Angin Hingga Gula Kelapa
Ekonomi lokal Srengat tumbuh melalui identitas unik di setiap desanya. Bupati Blitar, Mak Rini, sangat mengapresiasi inovasi warga di sini yang mampu mengawinkan tradisi dengan standar modern.
Desa Purwokerto: Dikenal sebagai sentra industri senapan angin dan kerajinan bambu. Ada detail menarik saat kunjungan Bupati; beliau menyarankan agar pengrajin mengganti pengait logam pada tas rajut dengan bahan yang lebih ramah lingkungan agar produk Srengat semakin go green.
Desa Selokajang: Menjadi sentra produksi gula kelapa yang legendaris. Di sini, masyarakat masih memegang teguh tradisi, salah satunya ritual Kenduri Merti Kali Brantas sebagai ungkapan syukur atas berkah alam yang melimpah.
5. Magnet Budaya Populer – Fenomena Gus Iqdam dan Sabilu Taubah
Srengat, khususnya Desa Karanggayam, kini menjadi titik pusat wisata religi modern di Indonesia. Fenomena Majelis Ta’lim Sabilu Taubah asuhan kyai muda Gus Iqdam telah menarik ribuan jamaah dari berbagai penjuru Nusantara setiap minggunya. Kehadiran majelis ini tidak hanya membawa kesejukan spiritual, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi kreatif dan jasa di seluruh wilayah Srengat secara luar biasa.
6. Fasilitas Publik Jempolan – RSUD Srengat dan Layanan Digital “MLERI”
Bukan hanya soal sejarah, Srengat juga unggul dalam pelayanan publik masa kini. Srengat kini memiliki RSUD Srengat yang berlokasi di Jl. Raya Dandong No. 51. Ini adalah fasilitas kesehatan tercanggih di Blitar Barat.
Salah satu inovasi yang patut diacungi jempol adalah layanan “MLERI” (Model Layanan Loket Elektronik Mandiri). Nama yang diambil dari unsur lokal ini merupakan sistem pendaftaran pasien secara mandiri yang cepat dan digital, membuktikan bahwa Srengat sudah sangat siap dengan era modernisasi.
7. Rencana Besar 20 Tahun ke Depan (RDTR 2024-2044)
Bukan cuma soal fasilitas hari ini, Srengat sudah punya “peta jalan” yang jelas untuk masa depan. Melalui Peraturan Bupati Nomor 131 Tahun 2024, wilayah perencanaan seluas 2.192,05 hektar ini dibagi menjadi tiga Sub Wilayah Perencanaan (SWP) untuk penataan yang lebih presisi.
Satu detail penting: Pusat Pelayanan Kota atau jantung modernisasi Srengat nantinya akan berpusat di Kelurahan Dandong (khususnya Blok III.B.3). Berikut rincian zonanya:
- Zona Lindung: Melindungi situs cagar budaya seperti Candi Mleri dan area Ruang Terbuka Hijau (RTH).
- Zona Budi Daya (Future Residential Hub): Diarahkan untuk perumahan kepadatan tinggi dan sedang guna menampung populasi yang kini telah mencapai 70.009 jiwa.
- Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B): Seluas 706,49 hektar tetap dilindungi demi menjaga ketahanan pangan dan kelestarian alam.
Pusat Kegiatan Lokal: Pengembangan sentra perdagangan, jasa, dan pertanian yang berbudaya.
KESIMPULAN: Srengat Adalah Masa Depan Blitar
Perpaduan antara jejak sejarah yang berani, potensi ekonomi desa yang inovatif, serta perencanaan tata ruang yang matang melalui RDTR 2024-2044 menjadikan Srengat wilayah yang sangat prospektif.
Srengat bukan lagi sekadar kecamatan transit, melainkan permata yang sedang bersolek menuju masa depannya.
Sudahkah kalian siap melihat transformasi wajah Srengat di tahun-tahun mendatang?
Jangan lewatkan kesempatan untuk menyaksikan langsung indahnya matahari terbit di Bukit Pertapaan atau mencicipi manisnya gula kelapa asli dari Selokajang saat kalian berkunjung nanti!
Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI

