Blitar – Komitmen membangun kader yang adaptif, komunikatif serta siap menghadapi tantangan zaman terus diperkuat oleh Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Pusat Sekolah Tinggi Misbahudin Ahmad (STITMA) Blitar.
Melalui kegiatan Pelatihan Public Speaking bertajuk “Metamorfosis PMII Pusat Next Level”, organisasi mahasiswa Islam tersebut menegaskan arah baru pergerakan yang lebih modern tanpa meninggalkan nilai-nilai kepesantrenan.
Kegiatan yang berlangsung pada Minggu, 19 Juli 2026, di Joglo Pondok Pesantren Mambaus Sholihin 2, Jalan KH Misbahudin Ahmad, Sumber, Sanankulon, Kabupaten Blitar diikuti oleh kader PMII Pusat STITMA Blitar dengan antusias.
Pelatihan ini menjadi salah satu upaya meningkatkan kualitas sumber daya kader agar tidak hanya kuat secara ideologi, tetapi juga mampu menyampaikan gagasan secara efektif di ruang publik.
Ketua Pengurus Komisariat (PK) PMII Pusat STITMA Blitar, M. Fatkur Rokim, dalam sambutannya menegaskan bahwa kemampuan berbicara di depan umum merupakan salah satu kompetensi yang wajib dimiliki kader PMII di era digital.
Menurutnya, kader PMII tidak cukup hanya memahami teori organisasi maupun keislaman, tetapi juga harus mampu mengomunikasikan gagasan secara baik kepada masyarakat.
“Melalui kegiatan ini kami ingin membangun kader PMII yang berani tampil, percaya diri, dan mampu menjadi representasi organisasi di berbagai forum. Kami ingin menghadirkan wajah baru PMII Pusat STITMA Blitar sebagai organisasi pergerakan yang modern, inovatif, namun tetap berakar kuat pada tradisi pesantren,” ujar Fatkur.
Ia menambahkan, tema “Metamorfosis PMII Pusat Next Level” dipilih sebagai simbol transformasi kader menuju kualitas yang lebih tinggi.
Menurutnya, perubahan tidak hanya terjadi pada cara berpikir, tetapi juga pada kemampuan komunikasi yang menjadi modal penting dalam kepemimpinan.
“STITMA merupakan kampus yang tumbuh dari lingkungan pondok pesantren. Karena itu, kami ingin membuktikan bahwa kader pesantren juga mampu bersaing di ruang publik, menjadi komunikator yang baik, serta siap menjadi pemimpin masa depan,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, peserta mendapatkan materi langsung dari Ahmad Muzaqi, yang lebih dikenal dengan nama panggung Arzum Rafael.
Sosok yang dikenal sebagai salah satu Master of Ceremony (MC) ternama di Blitar itu membagikan pengalaman sekaligus teknik berbicara di depan publik kepada para peserta.
Arzum Rafael bukanlah nama asing di kalangan aktivis mahasiswa. Ia merupakan mantan Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Islam Balitar (UNISBA) Blitar, sekaligus pernah menjadi Pengurus Cabang PMII Blitar periode 2021–2022.
Pengalaman organisasi yang dipadukan dengan profesinya sebagai MC membuat materi yang disampaikan terasa dekat dengan kebutuhan kader PMII saat ini.
Di hadapan peserta, Arzum Rafael menjelaskan bahwa public speaking bukan sekadar kemampuan berbicara, melainkan kemampuan memengaruhi, menyampaikan gagasan, membangun kepercayaan, hingga menggerakkan perubahan melalui komunikasi yang efektif.
“Organisasi akan sulit berkembang apabila kadernya memiliki ide-ide besar tetapi tidak mampu menyampaikannya kepada publik. Karena itu, kemampuan berbicara harus terus dilatih. Semakin sering tampil, rasa percaya diri akan tumbuh dengan sendirinya,” ungkapnya.
Pria yang pernah mengikuti Program Pertukaran Mahasiswa ke Thailand pada tahun 2021 tersebut juga memberikan motivasi kepada peserta agar tidak takut memulai.
Menurutnya, hampir seluruh pembicara hebat pernah merasakan gugup saat pertama kali berbicara di depan banyak orang.
Ia mendorong kader PMII agar aktif mengikuti diskusi, forum ilmiah, menjadi moderator, MC, maupun pemateri sebagai bagian dari proses pembelajaran. Dengan demikian, kemampuan komunikasi akan berkembang secara alami melalui pengalaman.
“Kader PMII harus menjadi pribadi yang mampu membawa gagasan ke ruang publik. Jangan hanya pintar berpikir, tetapi juga harus mampu menyampaikan pikiran dengan baik. Public speaking adalah investasi yang akan berguna sepanjang hidup, baik dalam organisasi, dunia kerja, maupun pengabdian kepada masyarakat,” tuturnya.
Selama pelatihan berlangsung, peserta tidak hanya menerima materi teori, tetapi juga melakukan praktik berbicara di depan forum, teknik membangun kepercayaan diri, penguasaan panggung, pengaturan intonasi suara, bahasa tubuh hingga cara menghadapi rasa gugup saat tampil.
Melalui kegiatan “Metamorfosis PMII Pusat Next Level”, PMII Pusat STITMA Blitar berharap lahir kader-kader baru yang mampu menjadi wajah organisasi di tengah masyarakat.
Dengan menggabungkan nilai-nilai kepesantrenan, tradisi intelektual serta penguatan keterampilan komunikasi, PMII Pusat STITMA Blitar menegaskan komitmennya membangun pergerakan mahasiswa yang modern, adaptif, dan relevan dengan perkembangan zaman, sekaligus tetap menjaga identitasnya sebagai organisasi kader di lingkungan kampus berbasis pondok pesantren.

