Artikel Feature
Beranda » 35 Tahun di Lereng Kawi, Pak Saidi Ayam rasakan perubahan iklim dan kisahkan mata pencaharian warga

35 Tahun di Lereng Kawi, Pak Saidi Ayam rasakan perubahan iklim dan kisahkan mata pencaharian warga

Hari Sutikno, yang lebih dikenal dengan nama Pak Saidi Ayam, warga Dusun Bumiarjo di lereng Gunung Kawi, Kabupaten Blitar, berbagi cerita tentang perubahan suhu udara di kampungnya selama lebih dari tiga dekade. (Foto: Tangkapan layar YouTube Bicara Blitar)

Blitar – Sudah lebih dari tiga dekade seorang pria bernama Hari Sutikno, yang lebih dikenal warga dengan nama Pak Saidi Ayam, menetap di lereng Gunung Kawi. Tepatnya di Dusun Bumiarjo, sebelah selatan kawasan pesarean Gunung Kawi, ia menyaksikan langsung bagaimana wajah kampungnya berubah dari waktu ke waktu, termasuk dalam hal yang paling mendasar: suhu udara.

Kepada tim Bicara Blitar, Pak Saidi menceritakan bahwa dirinya mulai menetap di kawasan tersebut sejak tahun 1990, tak lama setelah lulus dari bangku SLTA. Ia memutuskan untuk ikut tinggal bersama kakaknya yang sudah lebih dulu berdomisili di kawasan lereng Kawi.

“Saya masuk di daerah Gunung Kawi sini, tepatnya di Dusun Bumiarjo, mulai tahun ’90, semenjak lulus SLTA saya sudah ikut kakak di daerah Gunung Kawi sini,” ungkapnya.

Lestarikan tradisi leluhur, warga kompak gelar Baritan di perempatan jalan setiap satu Suro

Dari pengalaman puluhan tahun tersebut, Pak Saidi merasakan adanya perubahan pada karakter suhu di kampungnya. Dulu, hawa dingin di lereng Kawi sangat menusuk. Namun kini, suhu tersebut dirasa sedikit lebih hangat dibanding masa-masa awal ia tinggal di sana.

“Dari saya masuk sampai ini, hawanya tetap, sedikitlah sedikit berubah. Kalau dulu dinginnya mencapai sudah dingin, kalau sekarang sudah agak berubah, agak ya berubah panas dikit,” jelasnya.

Menurut analisis Pak Saidi, ada dua faktor utama yang menjadi penyebab perubahan tersebut. Pertama, perubahan fungsi hutan dari yang sebelumnya berupa hutan asli atau orisinil menjadi hutan produktif. Kedua, bertambahnya jumlah penduduk yang memilih tinggal di kawasan tersebut karena dianggap lebih strategis dan dekat dengan akses kebutuhan sehari-hari.

Aroma kopi menyambut di Ampelgading, tim Bicara Blitar soroti peran gerai KDMP untuk produk lokal

“Mungkin ada perubahan yang tadinya hutannya itu hutan masih orisinil, hutannya masih asli, sekarang ada hutannya yang berubah jadi hutan produktif. Atau mungkin dulunya belum banyak penduduk yang tinggal di sini, sekarang sudah banyak orang,” paparnya.

Soal mata pencaharian, Pak Saidi menjelaskan bahwa warga di lereng Kawi memiliki ragam profesi, mulai dari pedagang, petani, hingga pegawai. Namun secara mayoritas, sektor pertanian perkebunan masih menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat setempat, khususnya komoditas kopi dan cengkih.

“Kalau di sini bervariasi, mas, kayak berdagang ya ada, bertani terus ya pegawai juga ada. Tapi yang mayoritas di sini petani, petani kopi, petani cengkeh,” ujarnya.

20 tahun merantau ke Surabaya, Bu Landep pilih pulang dan berjualan pisang goreng di Kalimanis Doko

Pak Saidi juga menambahkan bahwa kawasan Gunung Kawi memang dikenal luas tidak hanya karena destinasi wisatanya, melainkan juga karena komoditas perkebunan unggulannya, terutama kopi, yang menjadi salah satu identitas ekonomi kawasan ini.

“Daerah Kawi terkenal, selain dengan wisata-wisatanya, juga terkenal dengan komoditi perkebunannya. Yang pertama kopi,” tegasnya.

Kisah Pak Saidi memberikan gambaran nyata bagaimana dinamika lingkungan, demografi, dan ekonomi saling terkait di kawasan lereng Gunung Kawi. Perubahan iklim mikro yang ia rasakan menjadi pengingat bahwa pembangunan dan pertambahan penduduk perlu diiringi dengan upaya menjaga kelestarian hutan, agar karakter sejuk khas pegunungan yang menjadi daya tarik kawasan ini tidak hilang seiring waktu.

Susuri hutan Doko hingga Ampelgading, begini serunya ekspedisi menuju Keraton Gunung Kawi

*Artikel ini disusun berdasarkan dokumentasi video yang diunggah kanal YouTube Bicara Blitar.

Berita Terkait

×