Artikel Feature
Beranda » Lestarikan tradisi leluhur, warga kompak gelar Baritan di perempatan jalan setiap satu Suro

Lestarikan tradisi leluhur, warga kompak gelar Baritan di perempatan jalan setiap satu Suro

Warga yang terdiri dari 33 kepala keluarga berkumpul di perempatan jalan utama kampung untuk menggelar tradisi baritan dalam rangka memperingati malam satu Suro. Prosesi adat ini digelar setiap tahun sebagai wujud pelestarian budaya Jawa. (Foto: Tangkapan layar YouTube Bicara Blitar)

Blitar – Malam satu Suro kembali menjadi penanda waktu bagi sebuah kampung di Kabupaten Blitar untuk menunaikan tradisi leluhur yang telah diwariskan turun-temurun.

Warga setempat menggelar prosesi baritan, sebuah ritual adat khas Jawa yang dilaksanakan setiap tahun bertepatan dengan datangnya malam pertama bulan Sura dalam penanggalan Jawa. Kegiatan ini menjadi wujud nyata bahwa tradisi lokal masih hidup dan dijaga bersama oleh komunitas kampung.

Prosesi baritan ini diikuti oleh seluruh warga kampung yang terdiri dari 33 kepala keluarga dengan 28 unit rumah. Lokasinya di Kampung Baru, Karangrejo, Garum, Blitar. Kami merekamnya pada Selasa, 16 Juni 2026.

Aroma kopi menyambut di Ampelgading, tim Bicara Blitar soroti peran gerai KDMP untuk produk lokal

Meski jumlah warganya tidak banyak, antusiasme dalam menjaga keberlangsungan tradisi ini sangat terasa. Setiap tahun, seluruh penghuni kampung bergotong royong mempersiapkan dan mengikuti rangkaian acara dari awal hingga selesai.

Salah satu warga yang turut terlibat aktif, Gunariadi, membenarkan bahwa tradisi ini memang digelar secara rutin tanpa pernah terputus.

Kekonsistenan pelaksanaannya dari tahun ke tahun menjadi bukti bahwa warga setempat memiliki komitmen kuat untuk tidak membiarkan warisan budaya ini terkikis oleh perubahan zaman.

20 tahun merantau ke Surabaya, Bu Landep pilih pulang dan berjualan pisang goreng di Kalimanis Doko

“Setiap tahun malam satu Suro,” ujar Gunariadi saat ditemui dalam dokumentasi video Bicara Blitar.

Pemilihan lokasi prosesi pun tidak dilakukan sembarangan. Perempatan jalan utama kampung menjadi tempat yang dipilih secara turun-temurun sebagai titik pelaksanaan baritan.

Dalam tradisi Jawa, perempatan jalan memiliki makna simbolis yang dalam, yakni sebagai titik pertemuan empat arah mata angin yang dipercaya menjadi tempat energi berkumpul. Karena itu, perempatan kerap dipilih sebagai lokasi berbagai ritual adat dalam budaya Jawa.

Susuri hutan Doko hingga Ampelgading, begini serunya ekspedisi menuju Keraton Gunung Kawi

“Kan ini kan budaya Jawa, harus di perempatan jalan ini,” jelas Gunariadi ketika ditanya alasan di balik pemilihan lokasi tersebut.

Ia juga memastikan bahwa lokasi perempatan jalan utama ini tidak pernah berganti sejak tradisi baritan pertama kali dijalankan di kampung tersebut. Setiap malam satu Suro, titik yang sama selalu menjadi pusat berkumpulnya warga.

“Setiap tahun di sini,” tegasnya.

Nikmatnya kopi arabika tanpa gula di kaki Puncak Langit, potensi unggulan Kalimanis Doko Blitar

Dalam dokumentasi video Bicara Blitar, suasana prosesi baritan tampak berlangsung dengan penuh kekhidmatan namun tetap hangat dan kekeluargaan. Warga yang hadir duduk bersama dalam barisan yang tertib di area perempatan.

Salah satu bagian yang turut meninggalkan kesan adalah pembagian nasi kotak kepada seluruh warga yang hadir, sebuah tradisi berbagi yang menjadi bagian tak terpisahkan dari prosesi baritan di kampung tersebut.

Baritan sendiri merupakan salah satu dari sekian banyak tradisi selamatan dalam budaya Jawa yang umumnya digelar secara kolektif oleh satu komunitas atau kampung.

Puncak Langit Kalimanis, spot tersembunyi di Doko Blitar dengan pemandangan Gunung Kawi dan Buthak

Selain sebagai ritual doa bersama memohon keselamatan dan keberkahan bagi seluruh warga, baritan juga berfungsi sebagai sarana mempererat ikatan sosial antartetangga. Momen ini kerap menjadi satu-satunya waktu dalam setahun di mana seluruh warga kampung berkumpul dalam satu tempat secara serempak.

Keberhasilan warga kampung ini dalam mempertahankan tradisi baritan setiap malam satu Suro menjadi contoh kecil namun bermakna tentang bagaimana sebuah komunitas dapat menjadi benteng terakhir pelestarian budaya.

Di tengah arus modernisasi yang kerap menggerus ritual-ritual adat, konsistensi warga dalam merawat tradisi leluhur ini patut diapresiasi dan dijadikan inspirasi bagi komunitas lain di Kabupaten Blitar maupun daerah sekitarnya.

Makkah, Madinah, Manchester: Mimpi 3M Tymbro yang jadi bahan bakar berkarya

*Artikel ini disusun berdasarkan dokumentasi video yang diunggah kanal YouTube Bicara Blitar.

Berita Terkait

×