Blitar – Memasuki kawasan Desa Ampelgading, Kecamatan Selorejo, Kabupaten Blitar, aroma khas perkebunan kopi langsung menyambut siapa pun yang melintas.
Sepanjang jalan utama desa yang berbatasan dengan Kabupaten Malang ini, pemandangan biji kopi yang dijemur di halaman-halaman rumah warga menjadi hal yang lumrah dijumpai.
Tim Bicara Blitar yang melintasi kawasan tersebut dalam perjalanan menuju Keraton Gunung Kawi menyempatkan diri untuk berhenti dan mencicipi kopi khas daerah setempat. Lokasi yang dipilih berada di kawasan setelah perempatan Ampelgading, dengan mengambil arah ke kanan.
“Kita akan mencoba menikmati kopi khas sini, kopi yang ditanam di sini. Di sepanjang jalan banyak masyarakat yang menanam kopi, banyak juga yang menjemur kopi di halaman rumah, ini cukup banyak,” ungkap tim Bicara Blitar.
Fenomena menjemur kopi di halaman rumah menjadi indikasi kuat bahwa kopi bukan sekadar tanaman sampingan bagi warga Ampelgading, melainkan sudah menjadi bagian dari mata pencaharian dan budaya lokal.
Aktivitas pascapanen seperti penjemuran biji kopi yang terlihat di banyak titik menunjukkan skala produksi yang cukup masif di tingkat rumah tangga.
Di tengah perjalanan, ada satu fenomena lain yang menarik perhatian tim Bicara Blitar, yakni menjamurnya gerai Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di sepanjang rute dari pusat Kabupaten Blitar hingga Ampelgading. Kehadiran gerai-gerai tersebut memunculkan pertanyaan menarik soal arah pemanfaatannya bagi produk lokal seperti kopi.
“Dari Blitar sampai ke sini tadi banyak sekali gerai KDMP. Apakah itu juga akan mengakomodir kopi khas daerah sini, atau justru itu hanya akan membawa barang-barang dari kota yang akan ditampilkan sebagai etalase untuk menyambut tamu-tamu pemerintahan? Nanti kita akan lihat lagi,” ungkap tim Bicara Blitar.
Pertanyaan tersebut menyentuh isu yang relevan dalam pengembangan ekonomi desa berbasis koperasi. Idealnya, keberadaan KDMP di kawasan penghasil komoditas seperti kopi dapat menjadi etalase sekaligus kanal distribusi bagi produk-produk petani lokal, sehingga nilai ekonomi yang dihasilkan benar-benar berputar dan dirasakan oleh masyarakat setempat.
Sebaliknya, jika gerai-gerai tersebut hanya berfungsi sebagai etalase produk dari luar daerah tanpa mengakomodasi hasil bumi setempat, potensi besar yang dimiliki desa-desa penghasil kopi seperti Ampelgading berisiko tidak termanfaatkan secara optimal. Padahal, kawasan lereng Gunung Kawi secara umum memang dikenal sebagai sentra perkebunan kopi yang cukup diperhitungkan di Kabupaten Blitar.
Dari sisi cita rasa, kopi yang dicicipi tim Bicara Blitar di Ampelgading mendapat kesan positif. Kualitas seduhan yang nikmat tanpa perlu tambahan gula menjadi bukti bahwa karakter kopi dari kawasan lereng Kawi memang memiliki keunggulan tersendiri yang sepatutnya mendapat perhatian lebih, baik dari sisi pemasaran maupun pengembangan industri hilirnya.
Dengan modal alam berupa lahan subur di ketinggian dan iklim sejuk khas pegunungan, Ampelgading dan desa-desa sekitarnya di Kecamatan Selorejo punya peluang besar untuk menjadikan kopi sebagai komoditas andalan.
Tinggal bagaimana sinergi antara petani, koperasi desa, dan pemerintah dapat memastikan bahwa potensi tersebut benar-benar diberdayakan untuk kesejahteraan masyarakat lokal, bukan hanya menjadi pemandangan di pinggir jalan bagi para pelintas.
*Artikel ini disusun berdasarkan dokumentasi video yang diunggah kanal YouTube Bicara Blitar.

