Bagi banyak ibu menyusui, Ramadan sering datang bersama satu pertanyaan besar: apakah aman tetap berpuasa? Di satu sisi ingin menjalankan ibadah dengan maksimal, tapi di sisi lain ada tanggung jawab besar menjaga kesehatan bayi dan produksi ASI.
Kabar baiknya, banyak ahli kesehatan menegaskan bahwa ibu menyusui tetap bisa berpuasa selama kondisi tubuh siap dan strategi nutrisinya tepat. Bahkan, beberapa hal yang sering dianggap berbahaya ternyata tidak selalu benar.
Berdasarkan panduan kesehatan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar serta berbagai sumber medis, berikut beberapa poin penting yang sering mengejutkan banyak Busui.
1. Puasa Tidak Selalu Mengurangi Kualitas ASI
Banyak ibu khawatir ASI akan menjadi “encer” atau jumlahnya turun drastis saat puasa. Faktanya, tubuh memiliki sistem adaptasi yang cukup luar biasa.
Selama status gizi ibu baik, tubuh akan memprioritaskan nutrisi untuk produksi ASI. Makronutrien utama seperti protein, lemak, dan karbohidrat umumnya tetap stabil.
Yang menarik, perubahan kecil justru lebih sering terjadi pada mikronutrien seperti zinc atau magnesium dan itu pun biasanya tidak berdampak signifikan pada bayi.
Justru yang sering menjadi masalah adalah faktor psikologis. Stres dan kecemasan berlebihan justru lebih berisiko memengaruhi produksi ASI dibanding puasa itu sendiri.
Artinya, kondisi mental ibu juga sama pentingnya dengan makanan yang dikonsumsi.
2. Hidrasi adalah Faktor yang Paling Menentukan
Kalau ada satu hal yang benar-benar krusial saat Busui berpuasa, jawabannya: cairan.
Ibu menyusui membutuhkan sekitar 3 liter air per hari. Tantangannya tentu karena waktu minum terbatas. Karena itu, banyak ahli menyarankan pola minum yang terstruktur.
Beberapa metode yang sering direkomendasikan:
- Pola minum terjadwal dari berbuka sampai sahur.
- Membagi minum air dalam beberapa sesi kecil agar tidak terasa berat.
- Menghindari minuman berkafein berlebihan karena bisa meningkatkan risiko dehidrasi.
- Ini mungkin terdengar sederhana, tapi banyak Busui yang tanpa sadar justru kurang minum saat Ramadan.
3. Menu Sahur yang Salah Bisa Membuat ASI Terasa Berkurang
Yang sering terjadi bukan karena puasanya melainkan pilihan menu sahur. Tubuh ibu menyusui membutuhkan tambahan energi yang cukup besar. Ibu menyusui membutuhkan tambahan energi sekitar 500 kkal per hari untuk mendukung produksi ASI.
Menu yang dianjurkan biasanya mencakup:
- Karbohidrat kompleks (nasi merah, oatmeal, kentang)
- Protein tinggi (telur, ikan, ayam, tempe)
- Sayur dan buah tinggi serat
- Lemak sehat
Sebaliknya, makanan terlalu pedas, instan, atau terlalu manis bisa membuat tubuh cepat lemas saat siang hari.
4. Tanda Bayi Kekurangan Cairan Sering Terlihat Lebih Cepat dari yang Dikira
Ini bagian yang sering tidak disadari banyak orang tua. Bayi sebenarnya memiliki sensitivitas rasa haus yang berbeda dengan orang dewasa.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan:
- Mata atau ubun-ubun terlihat cekung
- Bayi tampak sangat rewel setelah menyusu
- Mulut kering dan jarang buang air kecil
- Urin berwarna lebih gelap
- Bayi tampak lemas atau kurang responsif
Jika tanda-tanda ini muncul, sebaiknya ibu segera mengevaluasi kondisi tubuh atau bahkan mempertimbangkan untuk membatalkan puasa.
Karena pada akhirnya, kesehatan bayi tetap menjadi prioritas utama.
5. Banyak Busui Tidak Menyadari Sinyal Tubuhnya Sendiri
Selain memperhatikan bayi, ibu juga harus peka terhadap tubuh sendiri.
Beberapa tanda yang menunjukkan tubuh mungkin tidak kuat berpuasa:
- Pusing berat atau mata berkunang-kunang
- Gemetar atau keringat dingin
- Dehidrasi (mulut sangat kering, urin pekat)
- Tubuh terasa sangat lemas saat menyusui
Dalam kondisi seperti ini, agama sebenarnya memberikan keringanan. Dan ini penting untuk diingat: menjaga kesehatan juga bagian dari tanggung jawab sebagai ibu.
Penutup: Puasa Boleh, Tapi Harus Dengan Strategi
Puasa bagi ibu menyusui sebenarnya bukan sekadar soal kuat atau tidak. Lebih tepatnya soal persiapan nutrisi, hidrasi, dan kesadaran terhadap kondisi tubuh.
Masa menyusui sendiri termasuk dalam periode penting perkembangan anak yang sering disebut masa emas pertumbuhan. Jadi setiap keputusan perlu dipertimbangkan dengan bijak.
Pertanyaannya sekarang bukan hanya “Apakah Busui boleh puasa?”
Tapi lebih ke: apakah tubuh Mama sudah siap menjalankannya dengan aman?
Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI

