
Penyerahan Kurikulum ruang aman di Pesantren Al-Hikam Kemayoran Bangkalan kepada pengasuh oleh KOPRI PKC PMII Jawa Timur
Surabaya – Sebagai wujud komitmen dalam mengawal terciptanya ruang aman, khususnya di lingkungan pesantren, KOPRI PKC PMII Jawa Timur melaunching Kurikulum Pesantren Ruang Aman yang disosialisasikan sekaligus menyerahkannya kepada sejumlah pondok pesantren di Jawa Timur melalui rangkaian Road Show Literasi PandAI (Pandai Artificial Intelligence), literasi keuangan, sosialisasi, dan penyerahan kurikulum ruang aman di pesantren.
Road show tersebut digelar selama empat hari, mulai 21 hingga 24 Mei 2026, di empat kabupaten, yakni Bangkalan, Gresik, Sidoarjo, dan Jombang. Kegiatan ini merupakan kolaborasi KOPRI PKC PMII Jawa Timur bersama PB LazisNU dan Unilever. Sebagai bagian dari upaya meningkatkan literasi perempuan pesantren sekaligus memperkuat sistem perlindungan santri di lingkungan pendidikan berbasis pesantren.
Ketua KOPRI PKC PMII Jawa Timur, Kholisatul Hasanah, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menjadi langkah nyata KOPRI dalam merespons tantangan perkembangan zaman sekaligus persoalan kekerasan di lingkungan pendidikan.
“Road show ini merupakan wujud komitmen KOPRI dalam meningkatkan literasi perempuan. Baik terkait perkembangan artificial intelligence, penguatan literasi keuangan, maupun mengawal terciptanya ruang aman di pesantren,” ujarnya.
Menurutnya, pesantren tidak hanya harus menjadi ruang pembelajaran keagamaan. Tetapi juga ruang yang aman, inklusif, dan memuliakan seluruh santri tanpa terkecuali.
Sementara itu, Ketua Bidang Advokasi, Hukum, Gerakan, dan Pemberdayaan Masyarakat KOPRI PKC PMII Jawa Timur sekaligus Ketua Tim Penyusun Kurikulum Pesantren Ruang Aman, Isna Asaroh, menjelaskan bahwa kurikulum tersebut sebagai panduan dalam membangun sistem perlindungan santri yang lebih terstruktur di lingkungan pesantren.
“Penyusunan kurikulum ini sebagai upaya membangun budaya pesantren yang aman dan berpihak pada perlindungan martabat santri. Kami ingin pesantren memiliki perspektif pencegahan kekerasan, mekanisme pengaduan yang jelas, dan sistem pendampingan yang berpihak pada korban,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa kurikulum tersebut memuat sejumlah materi penting, mulai dari perspektif perlindungan santri dan kesadaran terhadap kekerasan berbasis gender. Selain itu, juga relasi sehat, hingga penguatan mekanisme pencegahan dan penanganan kekerasan di pesantren.
Melalui road show tersebut, KOPRI PKC PMII Jawa Timur berharap gerakan literasi perempuan dan penguatan ruang aman di pesantren. Selain itu, dapat menjadi langkah kolektif dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih aman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.

