Artikel
Beranda » 7 tradisi dan budaya khas Blitar yang masih lestari hingga kini

7 tradisi dan budaya khas Blitar yang masih lestari hingga kini

Pawai budaya di Desa Gogodeso, Kecamatan Kanigoro, pada tanggal 26 Juli 2025.
Pawai budaya di Desa Gogodeso, Kecamatan Kanigoro, pada tanggal 26 Juli 2025. (Foto: LPM Bhanu Tirta UNU Blitar)

Sebagai daerah dengan akar sejarah panjang, Blitar memiliki kekayaan tradisi dan budaya yang tetap dijaga hingga era modern.

Mulai dari ritual adat, upacara keagamaan, hingga festival budaya kontemporer, semuanya menjadi identitas kuat masyarakat Blitar. Berikut tujuh tradisi dan budaya khas Blitar yang masih lestari hingga kini.

1. Larung Sesaji Pantai Tambakrejo

Mengenal jaranan tril salah satu kesenian kebanggaan masyarakat Blitar

Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat pesisir Pantai Tambakrejo, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar, setiap tanggal 1 Suro atau 1 Muharram. Acara ini dihadiri Bupati Blitar dan menjadi bentuk syukur atas rezeki, keselamatan, serta kekayaan sumber daya laut.

Tradisi ini ditandai dengan membawa hasil bumi dan kepala sapi ke dermaga untuk dilarungkan sekitar tiga kilometer ke tengah laut.

2. Siraman Gong Kiai Pradah

Menelusuri jejak dan filosofi grebeg Pancasila di Kota Blitar

Tradisi Jamasan Gong Kiai Pradah merupakan perayaan tradisional di Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar.

Kegiatan memandikan benda pusaka berupa gong dengan air kembang setaman ini digelar setiap tanggal 12 Rabiul Awal, bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini menjadi salah satu daya tarik wisata budaya tahunan yang ditunggu masyarakat.

3. Grebeg Pancasila

Mengenal keunikan logat Blitar dan makna di balik kata ‘peh’

Grebeg Pancasila adalah upacara budaya yang rutin digelar untuk memperingati Hari Kelahiran Pancasila pada 1 Juni.

Tradisi ini lahir pada tahun 2000 dari gagasan para seniman dan budayawan Kota Blitar yang ingin mengenang proses lahirnya Pancasila sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia. Acara ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Bulan Bung Karno setiap Juni.

4. Tari Tayub Blitaran

Tradisi lebaran ketupat di Blitar: Warisan budaya yang terus hidup

Tari Tayub Blitaran adalah jenis tari Tayub khas Kabupaten Blitar dengan busana, musik pengiring, dan urutan penyajian yang disesuaikan dengan selera masyarakat lokal.

Tarian ini biasanya dipentaskan dalam rangkaian upacara adat Siraman Gong Kiai Pradah di Desa Kalipang, Kecamatan Sutojayan, dan berperan sebagai hiburan sekaligus bagian dari ritual.

5. Reyog Bulkiyo

Harmoni larung sesaji : pesona wisata desa serang Blitar

Tarian khas dari Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, ini awalnya dibawa oleh prajurit Pangeran Diponegoro asal Bagelen, Jawa Tengah. Pada awalnya, Reyog Bulkiyo digunakan sebagai media latihan perang, tetapi seiring waktu berubah menjadi sarana ritual, hiburan, dan seni pertunjukan.

Pada tahun 2019, kesenian ini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

6. Manten Kopi Karanganyar

Tradisi ini dilakukan di Kebun Kopi Karanganyar, Desa Modangan, Kecamatan Nglegok, sebagai penanda dimulainya panen raya kopi.

Ritual mempertemukan kopi tangkai lanang dan wadon yang dibungkus dengan kain mori ini sudah ada sejak perkebunan didirikan oleh Belanda pada tahun 1874. Acara biasanya digelar setiap bulan Juni atau Juli sebagai bentuk rasa syukur atas musim panen.

7. BEN Carnival

BEN Carnival atau Blitar Etnik Nasional Carnival merupakan event budaya tahunan yang menjadi kebanggaan Kota Blitar. Acara ini menampilkan parade kostum etnik modern yang terinspirasi dari budaya Nusantara.

Ketujuh tradisi di atas membuktikan bahwa Blitar tidak hanya menjaga warisan masa lalu, tetapi juga terus mengembangkannya agar relevan dengan zaman. Bagi wisatawan, menyaksikan langsung salah satu tradisi ini bisa menjadi pengalaman budaya yang tak terlupakan. (Ko)

×