Artikel
Beranda » Mengenal sejarah dan geografis Kecamatan Talun, Blitar

Mengenal sejarah dan geografis Kecamatan Talun, Blitar

Gambar oleh I_Wan S di Gmaps
Kecamatan Talun merupakan salah satu dari 22 kecamatan yang menyusun wilayah administrasi Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Secara administratif, wilayah ini memiliki semboyan “Kridha Mangudi Jaya”.
Namun, masyarakat setempat tetap memegang teguh semangat “Sayuk Saeka Praya”. Semboyan tersebut merupakan warisan nilai sejarah yang berarti bekerja bersama-sama dengan satu tekad dan tujuan yang bulat, tercermin dari cara para leluhur saat pertama kali membuka lahan di wilayah ini.

Sejarah dan Asal-usul Nama Talun

Asal-usul Nama Etimologi nama Talun berasal dari istilah Jawa “wis Ke-Talu”. Nama ini muncul ketika tokoh cikal bakal daerah ini mendapati bahwa hutan yang akan dibukanya ternyata sudah pernah ditebang atau dijamah sebelumnya oleh orang lain.
Berdasarkan narasi sejarah, kawasan ini diperkirakan pernah disinggahi oleh Syech Jati Putih pada masa penyebaran agama Islam oleh para wali. Kaitan dengan Kerajaan Majapahit Jauh sebelum pendudukan modern, wilayah Talun telah menjadi lokasi strategis pada era Kerajaan Majapahit.
Berdasarkan kitab Pararaton, pada tahun 1316–1317 M, terjadi pemberontakan Kuti yang memaksa Prabu Jayanegara mengungsi ke Badander. Wilayah ini kini diidentifikasi sebagai Lingkungan Dander di Kelurahan Talun.
Status Dander sebagai daerah tua memberikan landasan historis yang kuat bagi perkembangan pusat pemerintahan kecamatan di masa kini.
Tokoh Cikal Bakal dan Etimologi Gondho Puro Tokoh utama pembuka daerah ini adalah Eyang Gondho Puro, yang memiliki nama asli Raden Panji Kusumo Rekso Hadipuro. Beliau adalah seorang pengikut Pangeran Diponegoro asal Kebumen yang melakukan pengasingan ke arah timur setelah berakhirnya Perang Jawa sekitar tahun 1830.
Saat membuka hutan, para pengikut beliau sempat dilanda wabah penyakit (pageblug). Setelah melakukan uzlah atau tirakat selama 40 hari, beliau mendapatkan petunjuk bahwa wabah akan berakhir jika tercium aroma bunga Kenanga dan Kanthil.
Munculnya aroma harum tersebut menjadi tanda bahwa mereka telah dimaafkan oleh penguasa alam. Dari peristiwa inilah muncul sebutan Gondho Puro, Gondho berarti aroma/bau dan Puro berarti dimaafkan (disepura).
Dalam perjalanannya, beliau juga menemukan sebuah prasasti kayu tua yang memuat dua petuah penting.
  1. “Aja sok lali marang leluhurmu” (Jangan pernah melupakan leluhurmu).
  2. “Aja sok ngumbar nafsu angkara lan pepinginan nguasani kang dudu jatahe” (Jangan mengumbar nafsu angkara dan keinginan menguasai yang bukan haknya).
Evolusi Pemerintahan Pemerintahan desa secara terorganisir dimulai pada tahun 1841 di bawah pimpinan Bapak Nolodrono. Seiring perkembangan penduduk, pada tahun 1981, Desa Talun resmi ditingkatkan statusnya menjadi Kelurahan melalui SK Bupati.

Profil Geografis dan Administrasi

Kecamatan Talun terletak di utara Sungai Brantas, wilayah yang dikenal memiliki struktur tanah lebih subur dibandingkan bagian selatan Blitar.
Wilayahnya terdiri dari dataran rendah dan dataran tinggi dengan ketinggian berkisar antara 200 hingga 720 meter di atas permukaan laut (rata-rata ±203 mdpl).
Batas Wilayah
• Utara: Kecamatan Gandusari.
• Selatan: Kecamatan Selopuro dan Kecamatan Sutojayan.
• Barat: Kecamatan Garum dan Kecamatan Kanigoro.
• Timur: Kecamatan Wlingi dan Kecamatan Selopuro.
Pembagian Wilayah Kecamatan ini mencakup luas total 49,78 Km² yang terbagi menjadi 14 desa/kelurahan. Desa Kaweron tercatat sebagai wilayah dengan jarak terjauh dari ibu kota kecamatan, yakni 14,7 km.

Kondisi Demografi dan Sosial

Kependudukan pada tahun 2020, jumlah penduduk di Kecamatan Talun mencapai 65.420 jiwa. Komposisi penduduk terdiri dari 32.810 laki-laki dan 32.610 perempuan, dengan rasio jenis kelamin yang seimbang pada angka 1,00. Tingkat kepadatan penduduk rata-rata mencapai 1.314 jiwa/Km².
Agama dan Pendidikan Mayoritas penduduk beragama Islam (63.052 jiwa), diikuti oleh Hindu (1.433 jiwa), Kristen Protestan (894 jiwa), Katolik (168 jiwa), dan Budha (28 jiwa). Sarana ibadah meliputi 59 Masjid5 Gereja Protestan2 Gereja Katolik, dan 3 Pura.
Di sektor pendidikan, terdapat fasilitas yang cukup memadai dengan rincian:
• 50 unit TK (seluruhnya berstatus swasta).
• 31 unit SD (30 Negeri1 Swasta) serta 9 MI (seluruhnya swasta).
• 2 unit SMP (1 Negeri1 Swasta) dan 4 unit MTs (1 Negeri3 Swasta).
• 2 unit SMA (1 Negeri1 Swasta) dan 2 unit MA (seluruhnya swasta).

Sektor Ekonomi: Pertanian dan Peternakan

Lahan Pertanian Kecamatan Talun didominasi oleh lahan pertanian produktif. Dari total 979 Ha lahan sawah, sebanyak 958 Ha merupakan sawah irigasi teknis, sementara 21 Ha lainnya adalah sawah tadah hujan. Selain itu, terdapat lahan bukan sawah berupa tegalan/kebun seluas 712,32 Ha.
Komoditas unggulan meliputi Padi Sawah (panen 2.447,48 Ha), Jagung (panen 1.567,36 Ha), dan Cabai Kecil (panen 337 Ha). Potensi Peternakan Sektor peternakan memiliki kontribusi ekonomi yang signifikan. Populasi ternak besar dan kecil meliputi Sapi (7.211 ekor), Kambing (29.610 ekor), dan Domba (6.007 ekor).
Namun, potensi paling menonjol berada pada komoditas ayam ras petelur. Pada tahun 2020, produksi telur ayam ras mencapai 80 Ton, yang menyumbang sekitar 83% dari total produksi telur unggas di seluruh wilayah kecamatan.

Sarana, Fasilitas, dan Pariwisata

Kesehatan dan Perbankan Akses kesehatan masyarakat didukung oleh keberadaan 1 unit Rumah Sakit di Desa Bajang dan 1 unit Puskesmas Rawat Inap di Kelurahan Talun, serta 14 unit Puskesmas Pembantu yang tersebar di tiap desa.
Untuk layanan keuangan, terdapat unit Bank Rakyat Indonesia (BRI) di Kelurahan Talun serta 9 koperasi simpan pinjam1 KUD, dan 21 koperasi lainnya.
Pariwisata Terdapat 8 objek wisata potensial di wilayah ini. Distribusi objek wisata meliputi Desa Bajang (2 objek), Kendalrejo (2 objek), Sragi (2 objek), serta Tumpang dan Jabung masing-masing memiliki 1 objek wisata.


Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI

Di balik Kota Blitar: 5 cerita menarik dari Sanankulon yang penuh sejarah dan tradisi

Berita Terbaru

×