Sebuah Alarm bagi Dunia Peternakan
Senin pagi, 23 Februari 2026, pukul 07.30 WIB seharusnya menjadi awal pekan yang produktif di peternakan milik Edi Mahandi (42) di Desa Banggle, Kecamatan Kanigoro, Blitar. Anis Widodo, atau yang akrab disapa AW, sedang sibuk membersihkan area kandang ketika ketenangan itu pecah oleh suara ledakan keras dari sudut timur selatan.
Dalam sekejap, aroma segar pagi hari berganti dengan bau sangit yang menyesakkan; kepulan asap hitam membubung tinggi, menandai awal dari sebuah tragedi yang tak terelakkan.
Hanya dalam hitungan menit, api melahap habis bangunan tersebut. Di dalamnya, 8.000 ekor Day Old Chicks (DOC) atau bibit unggul yang baru berusia dua hari musnah terpanggang sebelum sempat memberikan hasil.
Bagi Pak Edi, ini bukan sekadar angka statistik; ini adalah kehilangan investasi besar dengan estimasi kerugian materiil yang sangat lebar, mulai dari Rp75 juta hingga mencapai Rp200 juta. Kejadian ini menjadi alarm keras bagi industri agribisnis: seberapa pun unggulnya bibit yang kita miliki, semua bisa menjadi abu jika manajemen risiko kita abai.
Kecepatan Bencana: Mengapa 8.000 Ekor Ayam Tak Terselamatkan?
Kecepatan api dalam menghanguskan kandang di Blitar tersebut adalah sebuah peringatan teknis bagi para peternak modern. Secara struktural, material konstruksi yang didominasi kayu dan bambu pada kerangka atap merupakan bahan bakar organik yang sangat reaktif terhadap api.
Namun, “musuh utama” yang mempercepat rambatan api adalah penggunaan jerami sebagai alas (liter) di dasar kandang.
Sebagai konsultan manajemen risiko, saya harus menekankan bahwa meskipun jerami adalah solusi biaya rendah untuk menjaga kelembapan, bahan ini adalah “bom waktu” jika tidak dikelola dengan zonasi yang ketat.
Jerami kering yang menutupi lantai kandang menciptakan jalur rambat horizontal yang sangat cepat. Begitu percikan api jatuh dari plafon atau peralatan elektrikal, api tidak lagi merambat secara perlahan, melainkan “berlari” menyapu seluruh luas lantai, membuat evakuasi ribuan DOC yang masih sangat rentan menjadi mustahil dilakukan.
Musuh dalam Selimut: Ledakan Blower dan Bahaya Elektrikal
Hasil olah TKP oleh pihak kepolisian mengonfirmasi bahwa petaka ini bermula dari gangguan teknis pada mesin blower penyedot angin. AW melaporkan melihat kabel penghantar listrik pada blower terbakar sesaat setelah ledakan.
Inilah titik lemah yang sering diabaikan: peralatan yang beroperasi nonstop selama 24 jam untuk menjaga sirkulasi udara sering kali mengalami kelelahan komponen (fatigue) dan panas berlebih (overheating).
Kegagalan pada mesin blower bukan sekadar masalah teknis kecil; ledakan yang terjadi menunjukkan adanya akumulasi panas pada kabel yang tidak mampu lagi menahan beban arus. Tanpa jadwal perawatan rutin, peralatan elektrikal ini menjadi ancaman diam-diam di tengah kandang.
“Pihak kepolisian mengimbau para peternak di Blitar agar rutin melakukan pengecekan instalasi listrik, terutama pada peralatan yang beroperasi nonstop seperti blower dan pemanas. Insiden ini menjadi pengingat pentingnya pemeriksaan berkala guna mencegah kebakaran serupa.” — Aiptu Saiful Muheni, Kasubsi PIDM Sihumas Polres Blitar.
Tren “Human Error” dan Statistik Kebakaran di Blitar
Tragedi yang menimpa peternakan Edi Mahandi menambah catatan kelam keamanan wilayah Kabupaten Blitar. Data dari Unit Damkar Kabupaten Blitar sepanjang tahun 2025 menunjukkan tren yang mengkhawatirkan dengan total 44 kejadian kebakaran.
Fakta di lapangan mengungkapkan bahwa mayoritas bencana ini berakar pada human error atau kelalaian manusia serta masalah elektrikal.
Objek yang terdampak pun sangat spesifik: rumah tinggal (24 kasus) dan kandang ternak (5 kasus) menjadi yang paling sering menjadi sasaran si jago merah.
Kelalaian seperti membuang puntung rokok, pembakaran sampah yang tidak diawasi di sekitar area sensitif, hingga penggunaan instalasi listrik yang tidak standar adalah penyebab klasik yang terus berulang. Statistik ini menegaskan bahwa kewaspadaan manusia adalah lini pertahanan pertama yang paling krusial.
Mitigasi Risiko: Langkah Nyata Melindungi Aset Peternakan
Belajar dari apa yang terjadi di Banggle, langkah-langkah berikut bukan lagi sekadar saran, melainkan keharusan operasional untuk mencegah bisnis Anda berubah menjadi abu:
Audit Instalasi Listrik “Industrial-Grade”: Mengingat blower bekerja nonstop, jangan gunakan kabel standar rumah tangga. Pastikan seluruh instalasi menggunakan kabel dan terminal berkualitas industri yang tahan panas. Lakukan pemeriksaan visual setiap minggu untuk memastikan tidak ada kabel yang terkelupas atau sambungan yang longgar.
Pengawasan dan Maintenance Heater: Gunakan pemanas yang memiliki fitur thermostat dan auto-shutdown. Posisikan heater jauh dari material mudah terbakar seperti jerami dan pastikan unit terpasang kokoh agar tidak jatuh saat operasional.
Zonasi dan Penempatan Bahan Baku: Pisahkan gudang penyimpanan jerami, pakan, dan bahan bakar dari kandang utama. Pastikan area penyimpanan ini berventilasi baik dan memiliki sekat tahan api.
Regulasi Ketat dan Pelatihan Karyawan: Larang keras aktivitas merokok atau pembakaran sampah di area peternakan. Pastikan setiap pekerja, seperti AW dan rekan-rekannya, mendapatkan pelatihan penggunaan APAR (Alat Pemadam Api Ringan) sehingga respon awal bisa lebih cepat dan terukur.
Pemanfaatan Teknologi sebagai Solusi Modern
Tragedi ini sebenarnya bisa diminimalisir jika peternak mengadopsi sistem peringatan dini. Di era peternakan cerdas, aplikasi digital seperti Chickin Apps hadir sebagai mitra manajemen risiko. Melalui integrasi teknologi IoT (Internet of Things), peternak dapat menerima notifikasi langsung di smartphone jika terjadi lonjakan suhu yang tidak wajar atau jika mesin blower berhenti berfungsi secara mendadak. Teknologi ini memberikan waktu krusial bagi peternak untuk melakukan intervensi sebelum gangguan listrik berkembang menjadi ledakan dan kebakaran besar.
Lebih dari Sekadar Bisnis
Keamanan kandang sering kali dianggap sebagai beban biaya tambahan, padahal sejatinya ia adalah investasi paling dasar dalam menjaga keberlangsungan usaha.
Kehilangan 8.000 nyawa ternak adalah pelajaran pahit yang mengingatkan kita bahwa satu kelalaian kecil pada kabel blower dapat menghanguskan kerja keras selama bertahun-tahun.
Mari jadikan tragedi di Banggle sebagai titik balik untuk meningkatkan standar keamanan peternakan kita.
“Sudahkah Anda memeriksa kabel blower atau suhu heater di kandang Anda hari ini, sebelum segalanya menjadi abu?”

