Fondasi awal dan perintisan syiar islam (1820–1828)
Masjid Agung Kota Blitar memegang peran sentral sebagai saksi bisu perkembangan peradaban Islam di wilayah Blitar sejak masa pendiriannya pada tahun 1820.
Melampaui usia dua abad, bangunan megah ini mengukuhkan statusnya sebagai salah satu struktur tertua yang secara konsisten memfasilitasi aktivitas spiritual masyarakat.
Penetapan resmi sebagai situs cagar budaya menegaskan pentingnya pelestarian nilai historis serta arsitektur yang mencerminkan identitas religius masyarakat Kota Patria dari generasi ke generasi.
Struktur bangunan ini menyimpan narasi panjang mengenai ketangguhan fisik dan mental jemaah dalam menghadapi dinamika alam serta perubahan zaman yang silih berganti.
Pembangunan tahap pertama masjid bermula di wilayah Kelurahan Pekunden, tepatnya di sisi utara jembatan Kali Lahar, saat pusat pemerintahan Blitar masih berkedudukan di Srengat.
Masa ini menandai masa transisi kepemimpinan dari Penghulu Kyai R. Kasiman kepada tokoh ulama terkemuka, Kyai Imam Besari, yang memprakarsai berdirinya bangunan tersebut.
Arsitektur masjid pada awal abad ke-19 tersebut menggunakan material kayu jati yang sangat dominan, dengan dinding model gebyog serta penutup atap yang tersusun dari jajaran sirap kayu.
Kyai Imam Besari memimpin syiar Islam di kawasan tersebut hingga wafat pada tahun 1828 dan dimakamkan di pemakaman Sumbersoko, Sukorejo.
Ancaman lahar dan relokasi pusat pemerintahan (1826–1848)
Letak geografis masjid yang berada di tepi jalur aliran lahar menjadikan bangunan suci ini sangat rentan terhadap ancaman bencana dari Gunung Kelud.
Catatan sejarah merekam tiga peristiwa banjir lahar dingin yang melanda bangunan secara berturut-turut pada tahun 1826, 1835, dan puncaknya terjadi pada tahun 1848.
Erupsi besar tahun 1848 tersebut menyebabkan kerusakan fisik yang sangat parah bagi masjid sekaligus menandai wafatnya Penghulu kedua, Kyai R. Imam Sjaafi’i, yang telah mengabdi selama dua dekade.
Dampak bencana ini begitu masif sehingga menghancurkan kediaman bupati dan mengganggu stabilitas jalannya roda pemerintahan di pusat kota lama.
Kerusakan masif akibat bencana alam tersebut mendorong Bupati Raden Mas Aryo Ronggo Hadinegoro bersama Penghulu Kyai Raden Kamaluddin untuk memindahkan pusat pemerintahan ke lokasi baru.
Pemerintah menetapkan pembagian wilayah yang terencana, di mana sisi timur sungai Urung-Urung difungsikan sebagai Bumi Kanjengan untuk pusat kediaman dan dinas bupati.
Area Bumi Kanjengan ini memiliki batas spesifik yang mencakup jalur Jalan Masjid di sisi barat hingga Jalan Pahlawan di sisi utara jika dilihat saat ini.
Sebaliknya, pemerintah menyerahkan lahan di sebelah barat kepada pihak penghulu untuk pembangunan masjid serta penempatan etnis Arab di sebelah utara yang kemudian membentuk kawasan Kauman.
Transformasi arsitektural dan semangat gotong royong (1890)
Transformasi arsitektural yang paling signifikan terjadi pada hari Kamis Kliwon, 12 Oktober 1890. Peristiwa tersebut bertepatan dengan tanggal 20 Muharram 1303 Hijriah.
Di bawah kepemimpinan Kyai Imam Boerhan dan dukungan penuh Bupati R. Adipati Warso Koesoemo mengganti material kayu pada struktur utama masjid dengan bata permanen.
Proses renovasi besar ini melibatkan semangat gotong royong luar biasa dari umat Islam. Para warga berdatangan dari berbagai pelosok desa maupun wilayah perkotaan Blitar.
Partisipasi masyarakat tersebut mencakup sumbangan tenaga serta bantuan materiil. Kontribusi tersebut memastikan pembangunan dapat berjalan lancar demi memperkuat bangunan fisik tempat ibadah tersebut.
Ekspansi, gempa, dan pembangunan kembali (1927–1971)
Perkembangan fisik selanjutnya mencakup penambahan gapura pada tahun 1927 serta pembangunan menara di sisi selatan tahun 1928. Arsitek KH. Muchsin Dawuhan pada 1933 melakukan perluasan serambi.
Namun, guncangan gempa bumi dahsyat pada 20 Oktober 1958 menyebabkan gapura dan menara selatan tersebut runtuh. Peristiwa ini menyisakan duka mendalam bagi jemaah.
Upaya pembangunan kembali baru mulai terealisasi pada 10 Agustus 1967 di bawah koordinasi Walikota R. Prawirokoesoemo dengan memindahkan posisi menara ke sisi utara masjid.
Keputusan untuk membangun serambi bertingkat juga diambil guna merespons lonjakan jumlah jemaah pasca-peristiwa 1965. Jumlah jemaah tersebut meluap hingga ke jalan raya di depan gapura masjid.
Pembangunan ekspansi tersebut akhirnya rampung pada akhir tahun 1971. Kapasitas tampungnya meningkat secara signifikan hingga mencapai angka 5.000 orang jemaah.
Pelestarian warisan dan identitas kolektif masa kini
Eksterior masjid saat ini menampilkan kesan modern melalui kolom-kolom beton dan gaya kaku khas renovasi tahun 1960-an. Namun, bagian dalamnya tetap mempertahankan nilai sejarahnya.
Setiap jemaah dapat merasakan suasana masa lampau melalui keberadaan lantai tegel lama yang pengelola pertahankan
[engelola masjid secara konsisten melalukan pemeliharaan rutin untuk menjaga otentisitas material warisan leluhur yang sudah berusia ratusan tahun.
Keberadaan situs bersejarah ini bukan sekadar sebagai tempat peribadatan. Situs ini juga sebagai identitas kolektif yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.
Melestarikan setiap jengkal bangunan ini merupakan langkah krusial dalam menjaga warisan peradaban Islam bagi generasi masyarakat Blitar di masa depan.
Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI

