Artikel Opini
Beranda » Apakah Organisasi Masih Relevan? Atau Hanya Membuang Waktu, Tenaga, dan Pikiran?

Apakah Organisasi Masih Relevan? Atau Hanya Membuang Waktu, Tenaga, dan Pikiran?

Reyda Hafis (tengah baju putih). (Dok. Pribadi)
Reyda Hafis (tengah baju putih). (Dok. Pribadi)

“Dengan berorganisasi, niscaya kita akan mendapat segalanya. Mulai dari relasi, keilmuan, hingga pekerjaan. Pokoknya kamu harus deh join organisasi, supaya enggak ketinggalan zaman,” ujar sang senior yang masih menganggur dan berbangga diri tidak suka baca buku.

Saya acap kali disemati sebutan sebagai “Organisatoris Ulung” sebab pengalaman organisasi yang memang tidak bisa dianggap singkat. Pada usia yang ke 23 tahun ini, saya telah menyelesaikan sekitar 20 tanggung jawab pada kepengurusan dari lebih dari 7 organisasi yang berbeda. Mulai dari basis hobi, profesi, keagamaan, hingga ideologi.

Meskipun akhirnya saya merasa sebutan itu terlalu ndakik-ndakik, saya tidak lantas menolak begitu saja. Sebab, kira-kira dua tahun lalu saya seringkali diundang di pengkaderan organisasi untuk membagikan materi keorganisasian.

Ichiro Akbar: Bocah Blitar yang menjelma jadi ujung tombak Garuda Muda

Kata mereka, saya bantas menyampaikan sebab track record yang telah saya ukir di organisasi selalu menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik.

Tapi secara pribadi, saya tidak sepakat atas pendapat-pendapat yang akhirnya membuat seolah-olah organisasi adalah juru selamat. Di mana dengan tidak berorganisasi, maka hidup kita akan kiamat atau ditimpa kemalangan yang amat berat. Tidak, tidak seperti itu.

Mari kita bahas, apakah organisasi masih relevan? Atau hanya membuang waktu, uang, tenaga, dan pikiran?

8 Pantai eksotis di Blitar Selatan, surga tersembunyi di pesisir Jawa Timur

Bagian Pertama: Dua Jenis Organisasi

“Apa sih organisasi itu?” tentu kita semua bisa menjawab dengan mudah pertanyaan itu dengan ungkapan, “Sebuah wadah untuk mengumpulkan orang dengan tujuan yang sama” dan lain sejenisnya. Poinnya adalah organisasi ini merupakan benda mati. Baik buruknya bergantung kepada siapa yang mengisi dan mengurusi.

Jika yang mengisi dan mengurusi ialah orang-orang yang memiliki keilmuan, visi misi, lengkap beserta akal budi yang mumpuni, niscaya organisasi tersebut masih relevan dan memberikan dampak yang positif kepada anggota dan siapa yang berada di sekitarnya.

Persiapan angkutan lebaran 2026, ASDP Surabaya pastikan armada laik laut dan kru siap melayani

Namun jika yang mengisi dan mengurusi ialah mereka yang tidak berkompeten, tidak memiliki keilmuan, visi misi, dan akal budi yang mumpuni, maka hancurlah organisasi. Alih-alih memberikan dampak positif, organisasi yang dihuni orang-orang semacam ini justru akan memberikan kerusakan yang fatal bagi penghuni dan apa-apa yang ada disekitarnya.

Hari ini, banyak saya temui jenis organisasi kedua, yang kemudian saya sebut dengan “Organisasi Toxic”. Toxic dalam bahasa modern kita berarti seseorang yang memiliki sifat “beracun” atau perilaku yang merugikan orang lain, baik secara fisik maupun emosional. Maka menurut saya, pantas saja jika organisasi yang merugikan itu saya sebut organisasi toxic.

Bagian Kedua: Apakah Organisasi Masih Relevan?

3 hari di Blitar: Menyusuri wisata sejarah, kuliner legendaris, hingga pantai selatan yang memukau

Menjawab pertanyaan “Apakah organisasi masih relevan?” tentu tidaklah mudah. Tetapi bagi saya, organisasi masih akan tetap relevan kapan pun itu. Organisasi akan tetap menjadi tempat pendidikan kedua selain sekolah atau kampus. Lebih dari itu, organisasi bisa jadi menjelma “rumah” yang mengajarkan banyak hal. Terutama karakter.

Selanjutnya, saya akan mencoba menguraikan jawabannya secara objektif. Sebab relevan tidaknya suatu organisasi sangat bergantung kepada siapa yang berada di dalamnya. Entah itu pengurus, maupun anggota. Persis seperti apa yang saya bahas di bagian pertama tulisan ini. Lebih jauh dari itu, saya akan menambahkan ciri-ciri organisasi yang pantas atau tidak pantas kalian ikuti.

Pertama, ciri organisasi yang pantas kalian ikuti selain karena secara kasatmata memiliki nama yang besar adalah organisasi yang tidak didominasi oleh alumni. Dominasi alumni ini seringkali menjadikan awak organisasi menjadi gagap untuk menyelesaikan persoalannya sendiri.

Warga Blitar wajib tahu! Tips internetan lancar tanpa lemot selama ramadhan, 350Mbps cuma 200ribuan

Tak jarang juga, lahir senioritas yang mana mengharuskan pemujaan kepada senior.
Tidak ada yang salah dalam penghormatan, tapi akan menjadi salah kaprah bila sudah menjelma pemujaan. Kakak tingkat atau alumni hanya pantas kita hormati sebagai manusia atau seseorang yang lebih tua.

Tidak lebih dari itu. Berhati-hatilah, alumni yang terlalu ikut campur bisa jadi akan menjual kalian demi kepentingan pribadinya.

Kedua, ciri organisasi yang tidak pantas atau sebaiknya kalian hindari selain yang didominasi atau didikte oleh alumni adalah organisasi yang berisi pembicaraan buruk terhadap orang lain atau anggotanya sendiri. Alih-alih membahas keilmuan, atau membedah pemikiran, mereka malah menggosipkan temannya sendiri. Lantas untuk apa diikuti?

Mengenal Ario Putra Bakti: Inovator muda dari SMKN 1 Blitar yang rambah bisnis NFT hingga bengkel motor

Bagian Ketiga: Refleksi dan Penutup

Pada bagian ketiga sekaligus penutup dari tulisan singkat ini, saya ingin mengajak kalian (pengurus, anggota, atau siapa saja yang hendak masuk organisasi) untuk merefleksi diri. Mulai dari apa tujuan kalian masuk, mengapa kalian masuk organisasi, dan beberapa pertanyaan mendasar lainnya yang muncul ketika kalian mundur beberapa langkah dan merenung sejenak.

Setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan kecil dan sederhana tersebut, mari merefleksi organisasi yang kita ikuti, apakah ia organisasi yang sehat atau justru masuk kategori toxic? Jika sehat, namun kalian tak ikut serta dan tak siap produktif di dalamnya, ya sama saja.

Pemuda di Srengat Blitar dibawa polisi, belasan kilogram bubuk mercon disita

Sama-sama tidak akan membuat kalian kemana-mana, tidak pula membuat kalian belajar apa-apa. Maka daripada membuang waktu dan tenagamu, lebih baik keluar saja. Jika organisasi yang kalian ikuti justru masuk pada kategori toxic. Maka jangan berkecil hati dan keluar begitu saja.

Cobalah membenahi, rebut posisi ketua, dan perbarui sistemnya. Jika gagal, setidaknya kalian sudah mencoba dan menjadi contoh yang baik bagi anggota lainnya. Namun, jika kau ingin keluar, pastikan kau memiliki tempat untuk bertumbuh dan belajar.

Terakhir, dalam tulisan ini saya tidak bermaksud untuk apa-apa selain mengajak kalian memperbincangkan sesuatu yang mungkin jarang dibahas di dalam tubuh organisasi yang kalian ikuti. Saya ingin mengajak kalian memiliki kesadaran untuk saling membangun dan menumbuhkan di dalam organisasi yang mungkin telah kalian cintai.

Perkuat mitigasi di pesantren, LPBI NU Kabupaten Blitar edukasi santri Fajru Salam hadapi ancaman banjir dan longsor

Jangan membuang waktumu yang berharga itu untuk sesuatu yang tidak ada gunanya. Ingatlah bahwa organisasi hanyalah wadah belajar yang banyak jenisnya, maka tidak harus kau mempertahankannya mati-matian.

×