Blitar – Pengurus Cabang (PC) PMII Blitar resmi membuka rangkaian kegiatan Pelatihan Kader Lanjut (PKL) III Tahun 2026 yang mengusung tema “Ijtihad PMII Dalam Membangun Nalar Ekologi dan Kedaulatan Kearifan Lokal Blitar”.
Kegiatan kaderisasi formal tertinggi di tingkat cabang tersebut akan berlangsung selama lima hari, mulai Kamis hingga Senin, 11-15 Juni 2026, bertempat di Pendopo Islam Nusantara, Sekretariat PC PMII Blitar, Sekardangan, Papungan, Kanigoro, Kabupaten Blitar.
Pembukaan atau Opening Ceremony PKL III digelar pada Kamis, 11 Juni 2026 di Balaikota Koesomo Wicitro, Sananwetan, Kota Blitar dan dihadiri oleh jajaran pengurus PMII dari berbagai tingkatan, alumni, unsur pemerintah daerah, serta peserta kaderisasi dari Komisariat PMII Se-Blitar.
Suasana pembukaan berlangsung khidmat sekaligus penuh semangat, menandai dimulainya proses kaderisasi yang diharapkan mampu melahirkan kader-kader strategis PMII dengan kapasitas intelektual, ideologis serta sosial yang kuat.
Ketua Pelaksana PKL III yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua I Bidang Kaderisasi PC PMII Blitar, Bayu Sutiyoso, dalam sambutannya menyampaikan bahwa PKL III tidak hanya agenda rutin organisasi, melainkan sebuah ruang pembentukan kader yang disiapkan untuk menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks.
Menurutnya, isu ekologi dan kearifan lokal sengaja dipilih sebagai tema besar karena saat ini masyarakat dihadapkan pada berbagai persoalan lingkungan yang membutuhkan keberpihakan, kesadaran serta keberanian intelektual dari generasi muda.
Ia menegaskan bahwa PMII harus mampu melahirkan kader yang tidak hanya memahami teori-teori sosial dan keislaman, tetapi juga memiliki kemampuan membaca realitas masyarakat secara kritis.
Bayu berharap seluruh peserta PKL III dapat menjadikan proses kaderisasi sebagai momentum memperkuat kapasitas diri agar mampu menjadi penggerak perubahan yang berpihak kepada masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan hidup.
“Kami ingin PKL III ini menjadi ruang lahirnya kader-kader yang memiliki keberanian melakukan ijtihad sosial. Kader yang mampu menghubungkan nilai-nilai keislaman, tradisi intelektual PMII, serta realitas masyarakat dalam satu gerakan yang nyata. Persoalan lingkungan hidup hari ini membutuhkan kader yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga mampu menawarkan solusi,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua PC PMII Blitar, M. Riski Fadila, menekankan bahwa kaderisasi merupakan jantung organisasi yang menentukan arah masa depan PMII.
Menurutnya, tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini tidak lagi sederhana. Persoalan kerusakan lingkungan, konflik agraria, ketimpangan pembangunan, hingga melemahnya kearifan lokal menjadi isu yang harus mendapatkan perhatian serius dari kader PMII.
Dalam sambutannya, Riski mengajak seluruh peserta untuk menjadikan PKL III sebagai ruang pembentukan karakter dan kepemimpinan yang berorientasi pada kemaslahatan masyarakat. Ia menegaskan bahwa PMII harus tetap hadir sebagai organisasi yang mampu memberikan jawaban atas berbagai persoalan yang dihadapi rakyat.
“PMII tidak boleh hanya menjadi penonton atas berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat. Kader PMII harus menjadi pelopor perubahan sosial. Melalui PKL III ini, kita ingin melahirkan kader yang memiliki keberpihakan yang jelas kepada rakyat, memiliki kesadaran ekologis yang kuat, dan mampu memperjuangkan kedaulatan kearifan lokal sebagai bagian dari identitas masyarakat Blitar,” tegasnya.
Semangat kaderisasi tersebut juga mendapat penguatan dari Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Jawa Timur yang diwakili Ketua Bidang Kaderisasi PKC PMII Jawa Timur, Maksum Zuhdi.
Dalam arahannya, ia menegaskan bahwa PKL III harus mampu melahirkan kader-kader mujtahid yang memiliki kemampuan berpikir strategis, kritis, dan transformatif.
Menurut Maksum, seorang kader mujtahid bukan hanya mereka yang menguasai teori dan wacana intelektual, tetapi juga memiliki kemampuan melakukan pembacaan mendalam terhadap realitas sosial dan melahirkan gagasan-gagasan baru yang relevan dengan kebutuhan zaman.
“Kader mujtahid adalah kader yang tidak sekadar mengulang apa yang sudah ada. Ia mampu membaca perubahan zaman, memahami persoalan masyarakat, dan menghadirkan formulasi baru sebagai jalan keluar. PMII membutuhkan kader yang menjadi produsen gagasan, bukan hanya konsumen pemikiran,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa tradisi intelektual PMII harus terus dirawat melalui kaderisasi yang serius dan berkelanjutan. Sebab, dari proses kaderisasi inilah akan lahir pemimpin-pemimpin masa depan yang mampu menjaga nilai-nilai keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan dalam setiap ruang pengabdian.
Dukungan terhadap pelaksanaan PKL III juga datang dari Pengurus Besar (PB) PMII yang diwakili Tim Kaderisasi Nasional PB PMII, Erlangga Abdul Kalam.
Dalam sambutannya, ia menilai bahwa kaderisasi tingkat lanjut merupakan instrumen penting dalam menyiapkan generasi pemimpin yang mampu menjawab tantangan lokal, nasional, maupun global.
Erlangga menyampaikan bahwa PMII membutuhkan kader yang memiliki visi kebangsaan yang kuat sekaligus kemampuan membaca dinamika sosial yang terus berubah. Oleh karena itu, PKL III harus menjadi laboratorium kepemimpinan yang melahirkan kader progresif, adaptif, dan berdaya saing.
“Di ruang kaderisasi seperti inilah kita sedang menyiapkan calon-calon pemimpin masa depan. Mereka yang kelak akan hadir di berbagai sektor strategis bangsa. Karena itu, proses kaderisasi harus mampu membentuk kader yang memiliki integritas, kapasitas intelektual, dan keberanian mengambil peran di tengah masyarakat,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Majelis Pembina Cabang (Mabincab) PC PMII Blitar, Putut Daerobi, mengingatkan bahwa kaderisasi merupakan investasi jangka panjang yang menentukan kualitas organisasi di masa mendatang.
Ia menilai tema yang diangkat dalam PKL III sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini yang tengah menghadapi berbagai tantangan lingkungan dan sosial.
Menurut Putut, kader PMII harus tetap menjaga tradisi intelektual sekaligus membangun kedekatan dengan masyarakat. Sebab, nilai perjuangan PMII hanya akan menemukan maknanya ketika kader mampu hadir dan berjuang bersama rakyat.
“Kaderisasi adalah investasi peradaban. Dari ruang-ruang seperti ini akan lahir pemikir, penggerak, dan pemimpin yang menentukan arah masa depan bangsa. Karena itu, jangan pernah jauh dari masyarakat. Di sanalah kader PMII akan menemukan relevansi perjuangannya,” tuturnya.
Sementara itu, Pemerintah Kota Blitar yang diwakili Plt. Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kota Blitar, Heru Eko Pramono, memberikan apresiasi atas konsistensi PMII dalam membangun kualitas generasi muda melalui kaderisasi.
Ia menilai organisasi kepemudaan memiliki peran penting dalam mencetak sumber daya manusia yang kritis, inovatif, dan memiliki kepedulian terhadap pembangunan daerah.
Heru berharap para peserta PKL III mampu menjadi agen perubahan yang membawa manfaat bagi masyarakat serta turut berkontribusi dalam pembangunan yang berkelanjutan.
“Pemerintah Kota Blitar menyambut baik kegiatan ini. Kami berharap para peserta dapat menjadi generasi muda yang memiliki kepemimpinan kuat, peduli terhadap lingkungan, serta mampu melahirkan gagasan-gagasan konstruktif untuk kemajuan daerah dan bangsa,” ujarnya.
Dengan dibukanya PKL III Tahun 2026, PC PMII Blitar, kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan kader-kader mujtahid yang tidak hanya unggul dalam pemikiran, tetapi juga mampu menghadirkan gerakan nyata dalam menjaga lingkungan, memperjuangkan kepentingan masyarakat serta merawat kearifan lokal sebagai identitas serta kekuatan masa depan Blitar.

