Blitar – Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI) PC PMII Blitar menggelar “Women’s Narrative School” sebagai upaya memperkuat kapasitas kader dalam membangun narasi perempuan di ruang publik.
Kegiatan yang mengusung tema “Reclaiming Voice, Reshaping Discourse: Menguatkan Narasi Perempuan di Ruang Publik” tersebut berlangsung di Pendopo Islam Nusantara, Sekretariat PC PMII Blitar, Minggu, 5 Juli 2026 .
Kegiatan ini diikuti kader KOPRI dari berbagai komisariat dan rayon di PMII Blitar. Selama kegiatan, peserta mendapatkan pembekalan mengenai strategi membangun narasi yang kuat, teknik kepenulisan populer, hingga pentingnya storytelling sebagai instrumen advokasi dan perubahan sosial.
Ketua KOPRI PC PMII Blitar, Laila Mufidah, mengatakan bahwa perempuan hari ini tidak cukup hanya hadir dalam berbagai ruang publik, tetapi juga harus mampu menguasai ruang wacana melalui tulisan dan narasi yang berkualitas.
“Perempuan memiliki pengalaman, perspektif dan gagasan yang sangat berharga. Sayangnya, tidak semuanya mampu tersampaikan dengan baik. Karena itu, Women’s Narrative School kami hadirkan sebagai ruang belajar agar kader KOPRI memiliki keberanian sekaligus kemampuan mengolah gagasan menjadi narasi yang mampu memengaruhi opini publik dan mendorong perubahan sosial,” ujar Laila.
Menurutnya, penguatan literasi menjadi bagian penting dari gerakan KOPRI. Sebab, perjuangan perempuan tidak hanya dilakukan melalui aksi-aksi di lapangan, tetapi juga melalui produksi pengetahuan dan penyebaran gagasan yang mampu menginspirasi masyarakat luas.
“Narasi adalah bagian dari perjuangan. Ketika perempuan mampu menulis dan menyampaikan pikirannya secara baik, maka ia sedang membangun peradaban. Kami berharap kegiatan ini menjadi awal lahirnya lebih banyak penulis, jurnalis, peneliti maupun aktivis perempuan yang mampu menghadirkan perspektif kritis dan solutif di ruang publik,” tambahnya.
Dalam sesi materi, narasumber M. Thoha Ma’ruf, S.P., Founder Bicarablitar.com sekaligus PKC (Pengurus Koordinator Cabang) PMII Jawa Timur Bidang Politik, Kebijakan Publik dan Ketahanan Regional, menekankan bahwa narasi memiliki peran strategis dalam membentuk cara pandang masyarakat terhadap suatu isu.
Menurutnya, banyak gagasan baik yang akhirnya tenggelam bukan karena substansinya lemah, melainkan karena gagal dikemas menjadi cerita yang mudah dipahami publik.
“Di era digital, pertarungan bukan hanya soal siapa yang paling benar, tetapi siapa yang mampu menyampaikan kebenaran dengan narasi yang kuat. Karena itu, kemampuan menulis dan storytelling menjadi kebutuhan penting bagi aktivis maupun kader organisasi agar gagasan yang diperjuangkan tidak berhenti di ruang diskusi, tetapi mampu menjangkau masyarakat luas,” jelas Thoha.
Ia juga mengajak peserta untuk mulai membiasakan diri menulis dari pengalaman sehari-hari dan persoalan yang mereka temui di lingkungan sekitar.
“Jangan menunggu menjadi penulis hebat untuk mulai menulis. Justru dengan terus menulis, kita akan menjadi lebih baik. Narasi yang lahir dari pengalaman nyata akan lebih jujur, lebih dekat dengan masyarakat, dan memiliki daya pengaruh yang kuat,” katanya.
Suasana kegiatan berlangsung interaktif. Peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga berdiskusi mengenai tantangan perempuan dalam menyampaikan gagasan di ruang publik, sekaligus mempraktikkan teknik menyusun narasi yang efektif dan persuasif.
Melalui “Women’s Narrative School”, KOPRI PC PMII Blitar berharap lahir kader-kader perempuan yang tidak hanya kritis membaca realitas sosial, tetapi juga mampu menghadirkan narasi yang mencerdaskan, membangun kesadaran publik, serta menjadi bagian dari gerakan perubahan yang berkelanjutan.
Dengan demikian, perempuan tidak hanya menjadi objek pemberitaan, melainkan menjadi subjek yang aktif membentuk arah diskursus publik melalui karya dan gagasannya.

