Artikel Berita

KOPRI PC PMII Blitar soroti realita kampus dalam bingkai semangat Kartini

KOPRI PC PMII Blitar soroti realita kampus dalam bingkai semangat Kartini
Wakil Sekretaris KOPRI PC PMII Blitar, Imey Chatrine Mufita. Dok. Pribadi

Blitar – Momentum Hari Kartini kembali menjadi sorotan. Di tengah perayaan emansipasi perempuan, suara keras justru datang dari internal gerakan mahasiswa. Wakil Sekretaris Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI) Pengurus Cabang (PC) PMII Blitar, Imey Chatrine Mufita, secara tegas membongkar realita yang kerap disembunyikan yakni kampus belum sepenuhnya aman bagi perempuan.

Menurut Imey, gagasan besar Raden Ajeng Kartini tentang pendidikan sebagai alat pembebasan kini menghadapi ironi serius. Alih-alih menjadi ruang aman, lingkungan pendidikan justru sering kali menghadirkan ancaman baik secara fisik maupun mental.

“Pendidikan itu ‘senjata’. Tapi hari ini, senjata itu tumpul kalau perempuan masih dihantui rasa takut di ruang belajar mereka sendiri,” tegasnya.

Prodi Manajemen Pendidikan Islam STITMA Blitar raih Akreditasi BAIK, Ketua DEMA dorong evaluasi berkelanjutan

Isu pelecehan seksual di kampus bukan lagi hal baru. Namun yang membuat situasi ini semakin mengkhawatirkan adalah bentuknya yang beragam mulai dari verbal, non-verbal, hingga kekerasan berbasis relasi kuasa.

Imey menyebut, pelaku tidak jarang berasal dari lingkaran yang memiliki posisi dominan seperti oknum-oknum institusi yang tidak berakal bahkan dinamika grup digital seperti WhatsApp yang sering kali menjadi ruang normalisasi perilaku tidak pantas.

“Ini bukan hanya kasus semata. Ini pola. Dan ketika dibiarkan, itu menjadi pengkhianatan terhadap cita-cita Kartini,” lanjutnya.

Pemanfaatan AI untuk desain grafis dikenalkan dalam literasi digital Rohis JTM Blitar Raya

Ia menegaskan bahwa kampus seharusnya menjadi “laboratorium peradaban” sebagai tempat di mana akal sehat, etika serta kemanusiaan dijunjung tinggi. Namun realitas yang terjadi justru menunjukkan adanya relasi kuasa yang eksploitatif dan merugikan perempuan.

Dalam konteks keamanan perempuan di perguruan tinggi, Imey menilai bahwa peringatan Hari Kartini harus dimaknai lebih dalam. Bukan hanya seremoni, tetapi momentum keberanian untuk menyuarakan ketidakadilan yang masih terjadi.

“Merayakan Kartini hari ini artinya berani bilang bahwa hak pendidikan tidak boleh dirampas oleh rasa takut. Perempuan berhak merasa aman, di kelas, di organisasi, bahkan di ruang digital,” ujarnya.

PC PMII Blitar gelar Pelatihan Instruktur Dasar II, dorong transformasi kaderisasi berkelanjutan

Tak hanya kritik, Imey juga menyampaikan pesan solidaritas yang menyentuh bagi para perempuan yang tengah berjuang melawan trauma akibat kekerasan seksual.

“Kepada sahabati dan teman-teman perempuan di luar sana bahwa kita layak hidup, layak bermimpi dan layak memperjuangkan masa depan kita.

Jangan biarkan masa lalu menghentikan langkah kita. Kita harus berani berdiri dan melawan,” ucapnya.

Bocah Blitar ini turut bawa Bhayangkara Presisi FC juara Soeratin Cup U-13 di Lampung

Pernyataan ini langsung memantik perhatian karena menyentuh isu sensitif yang selama ini sering dianggap tabu.

Dalam era digital saat ini, suara-suara seperti ini menjadi penting bukan hanya sebagai kritik, tetapi sebagai tekanan moral agar kampus benar-benar berbenah.

Jika semangat Kartini adalah tentang keberanian melawan ketidakadilan, maka hari ini, suara perempuan yang berani bersuara adalah bentuk nyata dari perjuangan itu sendiri. Dan satu hal yang pasti ketika kampus masih belum aman, maka perlawanan tidak boleh berhenti.

Grow Mindset: Mengapa kita harus berani gagal berkali-kali?

Lihat Semua Artikel Bicara Blitar
×