Keragaman wisata di kota proklamator
Blitar menyimpan kekayaan wisata yang membentang jauh melampaui identitasnya sebagai tempat peristirahatan terakhir Bung Karno.
Wilayah ini menyuguhkan perpaduan harmonis antara narasi sejarah kolonial yang kental, kemegahan arsitektur peninggalan era Majapahit, hingga lanskap alam yang memukau di kaki Gunung Kelud serta garis pesisir selatan.
Transisi dari atmosfer perkotaan yang bersejarah menuju ketenangan situs-situs kuno dan keasrian alam pegunungan menjadikan Blitar destinasi yang menawarkan kedalaman edukasi sekaligus rekreasi.
Penjelajahan di wilayah ini memberikan perspektif utuh mengenai perkembangan peradaban Nusantara dari masa kerajaan hingga perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Warisan Sejarah: Dari rumah keluarga hingga monumen perjuangan
Narasi sejarah di wilayah Blitar mencakup periode yang luas, mulai dari awal abad ke-20 di pusat kota hingga pergolakan pascakemerdekaan di wilayah selatan.
Dua situs utama berikut menyimpan memori kolektif bangsa melalui simbolisme dan benda-benda peninggalan yang masih terjaga.
Istana Gebang (Kota Blitar) Bangunan yang berdiri megah sejak tahun 1884 di Jalan Sultan Agung Nomor 59, Kecamatan Sananwetan ini mengabadikan kediaman keluarga besar Soekarno.
Monumen Trisula (Kabupaten Blitar) Berlokasi di Desa Bakung, monumen ini mengabadikan ingatan terhadap Operasi Trisula tahun 1968 yang bertujuan menumpas sisa-sisa gerakan PKI di wilayah Blitar Selatan.
Arsitekturnya menyimpan makna simbolik yang mendalam melalui 45 anak tangga yang merujuk pada tahun kemerdekaan, 17 pilar, serta elemen angka 8 yang melambangkan bulan Agustus.
Pada bagian puncak, berdiri enam figur patung yang menggambarkan tiga prajurit TNI, satu pemimpin yang memberi arah perjuangan, serta dua warga sipil yang menyimbolkan kemanunggalan militer dan rakyat.
Wisata edukasi dan spot foto modern
Blitar terus mengembangkan inovasi pariwisata berbasis pemberdayaan masyarakat dan kreativitas modern tanpa meninggalkan akar sejarahnya.
Kampung coklat menempati lahan di Desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan.
Tempat ini menyediakan berbagai wahana permainan anak serta memfasilitasi pemasaran produk UMKM lokal kepada para wisatawan.
Wisata negeri dongeng di Desa Kawedusan, Kecamatan Ponggok, menawarkan pengalaman berbeda bagi pengunjung yang mencari estetika visual.
Pengelola menyediakan berbagai spot foto instagenik dengan tarif tiket masuk yang terjangkau, yakni Rp 10.000 per orang. Lokasi ini melayani kunjungan wisatawan setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB.
Kemegahan arsitektur candi kuno di bumi majapahit
Sebagai salah satu pusat penting pada masa Kerajaan Majapahit, Kabupaten Blitar menyimpan deretan candi yang menunjukkan pencapaian teknik bangunan dan spiritualitas tinggi.
Candi penataran
Candi Hindu yang menyandang status sebagai kompleks percandian terluas di Jawa Timur ini menempati lereng barat daya Gunung Kelud di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok.
Berfungsi sebagai candi kerajaan (state temple) sejak masa Kediri hingga Majapahit, situs ini menyajikan 102 panil relief pada dinding candi utama.
Relief tersebut mengisahkan perjalanan Hanoman menuju Alengka hingga berakhir pada adegan Kumbhakarna gugur, yang dapat dibaca dengan mengikuti alur prasawya.
Candi sawentar
Candi yang dikelola oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur ini menempati lahan di Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro.
Bangunan berbahan batu andesit ini memiliki dimensi panjang 9,53 meter, lebar 6,86 meter, dan tinggi 10,65 meter.
Kitab Nagarakertagama mencatat bahwa Raja Hayam Wuruk pernah mengunjungi situs ini dalam perjalanan kelilingnya.
Di dalam bilik candi, tersimpan reruntuhan arca burung garuda yang merupakan kendaraan Dewa Wisnu, mempertegas fungsi religius bangunan tersebut.
Candi simping
Meskipun hanya menyisakan struktur batur di Dusun Krajan, Desa Sumberjati, Kecamatan Kademangan, situs ini menyimpan nilai historis yang sangat vital.
Candi Simping merupakan tempat pendarmaan atau makam Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit yang wafat pada tahun 1309 M.
Di bagian tengah bangunan, terdapat peripih atau peti batu kecil tempat persemayaman abu jenazah sang raja.
Dindingnya menampilkan relief Samudra Manthana yang menggambarkan kura-kura dan naga sebagai simbol keseimbangan alam semesta.
Pesona alam: Hutan pinus, pantai, dan telaga
Bentang alam Blitar menyajikan variasi aktivitas, mulai dari ketenangan hutan pinus hingga deburan ombak pantai selatan yang menantang.
Hutan Pinus Loji di Desa Tulung Rejo, Kecamatan Gandusari, menawarkan udara pegunungan yang segar bagi para pecinta alam.
Pengunjung dapat menikmati wahana pemacu adrenalin seperti flying fox dan motor trail, atau menghabiskan waktu di area perkemahan yang sejuk.
Pantai Tambakrejo di Kecamatan Wonotirto menyuguhkan pemandangan pasir putih kecoklatan serta wisata kuliner laut segar hasil tangkapan nelayan.
Meskipun menawarkan keindahan visual, pengelola melarang keras pengunjung untuk mandi di laut demi keamanan, mengingat karakteristik ombak pantai selatan yang besar.
Rambut Monte di Desa Krisik menyajikan perpaduan unik antara situs candi kuno dan telaga bening yang asri.
Pengunjung dapat menikmati aktivitas tambahan seperti river tubing, arum jeram, serta mengunjungi mata air Sumber Dandang.
Menemukan identitas Blitar yang utuh
Eksplorasi ke berbagai pelosok Blitar memberikan pengalaman perjalanan yang kaya akan pengetahuan dan ketenangan.
Pengunjung tidak hanya mendapatkan refleksi mendalam mengenai kejayaan Majapahit melalui relief-relief candi.
Tetapi, juga perjuangan nasional lewat monumen bersejarah, tetapi juga dapat menyatu dengan keasrian alam yang masih terjaga.
Keberagaman destinasi ini menegaskan jati diri Blitar sebagai wilayah yang menyimpan kepingan sejarah Indonesia yang utuh, sekaligus menawarkan potensi wisata yang kompetitif di tingkat regional maupun nasional.

