Blitar – Peringatan Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day/IWD) 2026 tidak seharusnya hanya menjadi agenda seremonial tahunan.
Wakil Ketua KOPRI (Korps PMII Putri) PC PMII Blitar, Imey Chatrine Mufita menegaskan bahwa momentum ini harus dimaknai sebagai dorongan untuk menghadirkan perubahan nyata bagi kehidupan perempuan.
Menurut Imey, tema global IWD tahun ini yakni “Give To Gain” memiliki makna yang sangat mendalam. Tema tersebut mengajak masyarakat dunia untuk memahami bahwa dukungan kepada perempuan tidak hanya sebagai tindakan simbolik, melainkan investasi bagi kemajuan bersama.
“Tema Give To Gain berarti memberi untuk mendapatkan. Ketika kita memberi dukungan penuh kepada perempuan, maka kita akan mendapatkan kemajuan sosial, ekonomi dan budaya yang bermanfaat bagi masyarakat secara keseluruhan,” ujar Imey.
Ia menilai bahwa pemberdayaan perempuan tidak boleh lagi dipandang sebagai aksi amal atau belas kasihan. Menurutnya, akses pendidikan, perlindungan hukum serta kesempatan yang setara bagi perempuan merupakan fondasi penting bagi pembangunan peradaban.
“Saya melihat IWD tahun ini sebagai titik balik. Kita harus berhenti memandang pemberdayaan perempuan sebagai aksi amal. Ketika kita memberikan akses, pendidikan, dan perlindungan kepada perempuan, masyarakat secara keseluruhanlah yang akan memanen hasilnya,” jelasnya.
Namun demikian, Imey mengingatkan bahwa narasi tentang kesetaraan perempuan masih sering berbenturan dengan realitas di lapangan. Di tingkat global, perempuan masih menjadi kelompok yang paling terdampak dalam konflik dan krisis kemanusiaan.
Ia menyoroti kondisi perempuan di Gaza yang hingga kini menghadapi dampak konflik bersenjata berkepanjangan.
“Perempuan dan anak perempuan menanggung beban terberat. Mereka kehilangan akses kesehatan, menghadapi ancaman kekerasan seksual, hingga kehilangan hak-hak dasar untuk hidup secara layak,” ungkapnya.
Selain konflik bersenjata, Imey juga menyoroti tantangan baru yang muncul di era teknologi digital. Menurutnya, perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) berpotensi menghadirkan bias gender jika tidak disertai keterlibatan perempuan dalam pengembangannya.
“Resiko bias gender dalam algoritma dan minimnya representasi perempuan di bidang STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika) bisa menjadi ancaman baru bagi kedaulatan ekonomi perempuan di masa depan,” katanya.
Di tingkat nasional, Imey menilai semangat “Give To Gain” harus diwujudkan melalui kebijakan konkret yang berpihak pada perempuan. Ia mendorong pemerintah dan DPR untuk segera mengesahkan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (PPRT) serta memastikan implementasi penuh UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS).
“Kita membutuhkan perlindungan hukum yang kuat bagi perempuan. Pengesahan RUU PPRT dan implementasi penuh UU TPKS menjadi langkah penting untuk menjamin keamanan fisik dan hukum bagi perempuan di Indonesia,” tegasnya.
Imey juga menekankan bahwa kesetaraan gender harus dipandang sebagai investasi strategis bagi masa depan bangsa. Negara, kata dia, hanya bisa berkembang secara adil apabila hak kesehatan reproduksi dan perlindungan kerja perempuan benar-benar dijamin.
Di tingkat daerah, Imey juga menyoroti meningkatnya kasus KDRT di Kabupaten Blitar, yang sebelumnya telah ia bahas dalam audiensi PC PMII Blitar dengan Dinas P3APPKB pada 10 Februari 2026 lalu, sebagai dorongan agar pemerintah daerah lebih serius menangani kekerasan terhadap perempuan.
“Perspektif korban harus menjadi fondasi dalam setiap kebijakan. Perlindungan perempuan tidak boleh hanya berhenti pada laporan administratif,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Imey menyampaikan pesan reflektif dalam peringatan Hari Perempuan Internasional tahun ini.
“Happy International Women’s Day 2026. Perempuan adalah punggung peradaban dan Tuhan tidak pernah menuliskan tanggal kedaluwarsa pada punggung perempuan,” pungkasnya.

