Artikel
Beranda » Gunung kelud di Blitar: sejarah bencana dan perkembangan mitigasi

Gunung kelud di Blitar: sejarah bencana dan perkembangan mitigasi

Foto gunung kelud 2024 (sumber: gmps/Dominik Weiner)

Karakteristik unik Gunung Kelud

Gunung Kelud menempati posisi geografis di perbatasan Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar, dan Kabupaten Malang.

Puncak gunung ini berada sekitar 25 kilometer di sebelah utara Kota Blitar dan 35 kilometer di sebelah timur Kota Kediri.

Meskipun hanya memiliki ketinggian 1.731 meter di atas permukaan laut, Gunung Kelud menyandang reputasi sebagai salah satu gunung api paling aktif dan berbahaya di Nusantara.

Pecel punten khas Blitar: Kuliner penuh filosofi

Karakteristik letusan tipe stratovulkan yang eksplosif memicu munculnya julukan “tenang tetapi mematikan”.

Catatan sejarah menunjukkan aktivitas vulkanik Gunung Kelud telah berlangsung sejak tahun 1000 Masehi.

Sejak tahun 1300 Masehi, frekuensi letusan terjadi dalam rentang waktu pendek antara 9 hingga 25 tahun.

Polisi bekuk pemuda di Ponggok Blitar: Diduga jual petasan, 1 Kg bubuk mercon diamankan

Pola letusan yang cepat dan tiba-tiba ini menciptakan ancaman permanen bagi penduduk di lereng subur yang mengelilingi puncak gunung.

Bencana Tahun 1848: Ujian Awal Administrasi Kolonial

Letusan besar pada 16 Mei 1848 menjadi titik balik penting saat wilayah Blitar masih menjalani penataan administrasi kolonial.

Pada masa itu, pejabat pengawas Belanda bernama J. Laub mengawasi Distrik Srengat dan Blitar.

Sekretaris IPNU Kota Blitar bekali Pondok Ramadan siswa SMPN 4 Blitar, perkuat iman dan karakter islami

Letusan tersebut melontarkan lahar dan abu vulkanik yang menghancurkan wilayah perkebunan serta permukiman penduduk secara masif.

Kerusakan ini menguji ketangguhan struktur birokrasi yang baru berdiri.

Pemerintah kolonial merespons krisis tersebut melalui koordinasi antara pengawas Belanda dan pejabat lokal atau onderregent.

Opak gambir: camilan legendaris nan renyah khas Blitar

Mengenai langkah teknis mitigasi pada masa itu masih minim, peristiwa 1848 memberikan pelajaran berharga bagi administrasi kolonial.

Bencana ini membuktikan bahwa penanganan gunung api menuntut sinergi birokrasi yang solid untuk menjaga stabilitas wilayah pascabencana.

Peristiwa ini juga mengawali kesadaran otoritas kolonial mengenai perlunya tata kelola krisis di wilayah rawan bencana.

Sejarah bendungan Wlingi Blitar, dari tragedi 1973 hingga krisis lumpur menumpuk

Tragedi gunung kelud 1919

Malapetaka dahsyat melanda pada tengah malam tanggal 19 hingga 20 Mei 1919. Letusan ini merenggut ribuan jiwa dan menghancurkan beberapa ribu hektar lahan produktif.

Ledakan eksplosif melontarkan air danau kawah dalam volume besar yang bercampur dengan magma, lumpur, dan batu menjadi aliran lahar panas.

Aliran mematikan ini meluncur deras sejauh beberapa kilometer dan melampaui bendungan penahan lahar yang berdiri pada 1905 di Kali Blitar.

Alasan di balik penamaan greenland dan iceland: tidak sesuai dengan kondisi geografisnya

Arus lahar menghancurkan bendungan tersebut sebelum menerjang infrastruktur di dataran bawah.

Inovasi terowongan drainase: Solusi Mitigasi Permanen

Tragedi 1919 memicu kesadaran bahwa air danau kawah merupakan faktor utama penyebab tingginya jumlah korban.

Kegagalan bendungan tahun 1905 mendorong pemerintah kolonial mengevaluasi tiga alternatif solusi mitigasi: pemasangan pompa, pembuatan saluran terbuka, atau pembangunan terowongan drainase.

Menikmati wisata alam puncak sekawan Blitar

Pemerintah akhirnya memilih pembangunan terowongan bawah tanah untuk menguras air kawah secara permanen melalui gravitasi.

Proyek monumental ini rampung pada tahun 1926 setelah sempat terhenti akibat runtuhnya dinding kawah yang memicu kecelakaan kerja.

Spesifikasi teknis terowongan mencakup panjang 980 meter dengan diameter 2 meter yang mengalirkan air menuju Kali Badak.

Jejak manusia purba di gua Sulawesi: lukisan tertua di dunia

Terowongan pertama yang bernama “Inlet Ganesha” ini memiliki struktur yang sangat kuat. Inovasi teknik ini berhasil menurunkan permukaan air kawah hingga 134,5 meter.

Hasilnya, volume air kawah menyusut drastis dari puluhan juta meter kubik menjadi hanya sekitar 1,8 juta meter kubik.

Proyek ini memposisikan sistem drainase vulkanik tersebut sebagai yang pertama di Indonesia dan kedua di dunia setelah terowongan Danau Albano di Italia.

Warisan sejarah: lahirnya vulkanologi modern di Indonesia

Rentetan bencana Gunung Kelud mendorong pemerintah membentuk Vulkaan Bewaking Dienst atau Dinas Pengawasan Gunung Berapi pada 16 September 1920.

Institusi ini menandai lahirnya vulkanologi modern dan sistem pemantauan gunung api yang sistematis di Nusantara.

Fokus utama lembaga ini adalah menjalankan pengawasan terus-menerus guna memberikan peringatan dini kepada masyarakat.

Efektivitas sistem mitigasi dan terowongan drainase terbukti pada letusan-letusan periode berikutnya. Meskipun Gunung Kelud kembali meletus pada tahun 1951, 1966, 1990, dan 2014, jumlah korban jiwa menurun secara signifikan dibandingkan tahun 1919.

Sebagai contoh, letusan tahun 2014 hanya mencatat 7 korban jiwa meskipun abu vulkanik menutupi sebagian besar Pulau Jawa.

Sejarah Gunung Kelud di Blitar menjadi tonggak awal sains kebencanaan yang menyelamatkan ribuan nyawa di masa depan.


Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI

×