Blitar – Momentum Hari Lahir (Harlah) ke-66 Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dimaknai secara khidmat oleh PC (Pengurus Cabang) PMII Blitar melalui rangkaian kegiatan yang sarat nilai reflektif.
Setelah sebelumnya menggelar ziarah tepat di tanggal kelahiran PMII, pada hari yang sama PC PMII Blitar kembali melanjutkan agenda dengan Tasyakuran dan Doa Bersama.
Kegiatan yang mengusung tema “Refleksi 66 Tahun Pergerakan” ini digelar di Aula Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Misbahudin Ahmad (STITMA), Sumberjo, Sanankulon, Kabupaten Blitar.
Suasana berlangsung khidmat dengan dihadiri berbagai unsur penting, mulai dari Ketua Pengurus Cabang Ikatan Alumni PMII (IKA-PMII) Blitar Raya, Heri Setiyono, jajaran Majelis Pembina Cabang (Mabincab) diantaranya, Hermawan Habib yang juga menjabat sebagai Komisioner KPU Kota Blitar, serta Uswatun Nafi’ah dan Eva Wulan Septiana.
Ketua PC PMII Blitar, M. Riski Fadila, dalam sambutannya menegaskan bahwa tanggal 17 April bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum ideologis yang harus terus dihidupkan oleh seluruh kader.
“Momentum ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus berkhidmah kepada organisasi. PMII lahir dari rahim ulama, sehingga nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan harus terus menjadi napas gerakan,” tegasnya.
Ia juga menyinggung peran historis ulama dalam mendirikan PMII, sebagai fondasi penting yang tidak boleh terlepas dari arah gerakan kader hari ini.
Sementara itu, Ketua PC IKA-PMII Blitar, Heri Setiyono, menekankan pentingnya refleksi kolektif dalam momentum harlah. Menurutnya, usia 66 tahun bukan waktu yang singkat, sehingga PMII harus mampu membaca ulang kontribusinya bagi masyarakat.
“Harlah ini adalah momen untuk bertanya: sejauh mana kita sudah berkontribusi? PMII tidak boleh hanya mengandalkan semangat, tetapi juga harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman,” ujarnya.
Ia juga menyoroti tantangan generasi saat ini, khususnya di era Gen-Z yang menuntut pola gerakan lebih dinamis, kreatif serta relevan. Menjadi kader PMII, lanjutnya, bukan lagi perkara mudah, sehingga diperlukan kemampuan adaptasi yang kuat agar organisasi tetap eksis dan berdaya saing.
Rangkaian acara ditutup dengan tasyakuran berupa pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur atas perjalanan panjang PMII. Tumpeng dipotong oleh Ketua PC PMII Blitar dan diserahkan kepada Ketua PC IKA-PMII serta perwakilan Mabincab sebagai bentuk penghormatan dan kesinambungan antara kader dan alumni.
Peringatan Harlah ke-66 ini tidak hanya menjadi seremoni, tetapi juga penegasan bahwa PMII Blitar terus berupaya menjaga tradisi intelektual, spiritual serta gerakan sosial sebagai satu kesatuan dalam merawat eksistensi organisasi di tengah dinamika zaman.

