Artikel Berita
Beranda » Madrasah Media Digital Batch 1 Blitar, strategi pesantren rebut ruang siber

Madrasah Media Digital Batch 1 Blitar, strategi pesantren rebut ruang siber

Pembukaan Madrasah Digital Batch 1 bersama Kiai Muqorrobin (tengah) di SMK Mambaul Hisan, Gandusari pada Sabtu (23/05).

BLITAR — Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) Kabupaten Blitar resmi membuka Madrasah Media Digital Batch 1 di SMK Mambaul Hisan, Gondang, Gandusari, Blitar, Sabtu (23/5/2026) mulai pukul 09.00 WIB. Acara ini dihadiri oleh 40 santri yang menjadi delegasi lebih dari 20 pondok pesantren se-Blitar Raya.

​Program strategis ini digelar atas kolaborasi bersama Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) dan Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (Lazisnu) Kabupaten Blitar, sebagai respons nyata terhadap tantangan dakwah di era modern.

​Urgensi Digitalisasi Pesantren​

Ketua PCNU Kabupaten Blitar, K. Muqorrobin, menegaskan bahwa perubahan zaman menuntut pesantren untuk adaptif terhadap teknologi informasi. Langkah ini krusial agar nilai-ajaran Islam inklusif tidak tergerus oleh dominasi konten negatif di ruang siber.

Perkuat komunikasi organisasi, LTN NU Blitar siapkan ekosistem dakwah digital

​”Zaman sekarang sudah masuk dalam zaman digital, zaman teknologi, atau medsos. Jika kita, pondok pesantren, tidak mengikuti perkembangan zaman ini, kita akan ketinggalan,” ujar Muqorrobin saat membuka acara.

​Beliau juga menambahkan bahwa ruang digital harus aktif diisi oleh kaum sarungan. “Jika media digital tidak kita isi dengan konten-konten yang baik, maka akan dipenuhi dengan konten-konten yang tidak benar, konten radikal, atau konten yang dapat merusak akhlak generasi muda kita.”

 

Mahasiswa di Blitar kecam program “Xpose Uncensored” Trans7, nilai rugikan citra pesantren

​Selain sebagai sarana dakwah, madrasah ini bertujuan mengenalkan potensi pesantren yang selama ini belum terekspos secara luas. Melalui pelatihan ini, para santri diharapkan mampu mengemas aktivitas pesantren menjadi konten yang menarik dan profesional.

​Pengurus RMI NU Blitar, Gus Djohan Sabiq, mengingatkan para peserta agar lebih kreatif dan bijak dalam memanfaatkan media sosial.

​”Banyak orang yang belum tahu bahwa di sana ada pondok, di sini juga ada pondok, di mana-mana ada pondok. Madrasah media ini dapat mengembangkan banyak kreativitas bagi Anda semua yang awalnya hanya bisa membuat status saja, nanti bisa mengkreasikan status tersebut,” kata Djohan.

​Kendati demikian, ia memberikan catatan kritis mengenai pentingnya menjaga marwah institusi. “Jangan sampai pondoknya belum terkenal, tapi kasusnya sudah terkenal. Itu sangat disayangkan. Jangan hanya membuat konten-konten yang tidak keren dan tidak baik, karena itu malah merusak citra pondok pesantren masing-masing.”

​Hadirnya Ketua LTN NU Kabupaten Blitar, Gus Lathif Najibulloh, beserta dukungan dari Lazisnu menegaskan komitmen gerakan “dari NU untuk NU”. Melalui sinergi lintas lembaga ini, 40 kader media yang dilatih diproyeksikan menjadi motor penggerak digitalisasi syiar di Blitar Raya secara berkelanjutan.

×