Surabaya – Insiden peluru nyasar yang melukai DFH (14), seorang siswa SMPN 33 Gresik saat tengah berada di musholla sekolah, memancing reaksi keras dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) PMII Jawa Timur.
Kejadian ini dinilai sebagai kelalaian fatal yang mencederai fungsi perlindungan aparat terhadap warga sipil.
Bendahara LBH PMII Jawa Timur, Abd. Wahid, S.H., menegaskan bahwa tragedi ini tidak bisa hanya dianggap sebagai kecelakaan teknis. Menurutnya, ada tanggung jawab besar yang harus diemban oleh pemangku kebijakan keamanan.
Dalam pernyataan resminya, Wahid mengingatkan bahwa setiap peluru dan senjata yang digunakan aparat merupakan hasil dari pajak masyarakat, termasuk warga Gresik.
Ia merasa ironis ketika fasilitas yang dibiayai rakyat justru menjadi penyebab luka bagi anak-anak di tempat yang seharusnya paling aman, yakni sekolah dan tempat ibadah.
“Sangat memuakkan ketika fasilitas negara yang seharusnya melindungi, justru dipakai untuk menembaki anak sekolah di dalam ruang ibadah. Senjata itu dibeli dari pajak warga. Ini kelalaian fatal!” ujar Wahid dengan nada tegas, Senin (20/4/2026).
LBH PMII Jatim juga menyoroti kondisi psikologis keluarga korban, terutama Ibu Dewi Murniati, yang saat ini harus mendampingi anaknya menjalani perawatan akibat luka di bagian punggung. Wahid mencium adanya upaya-upaya untuk mengarahkan keluarga korban agar diam.
“Jangan coba-coba bungkam keluarga korban. Kami menuntut audit total terhadap prosedur keamanan di Lapangan Tembak Bumi Marinir Karangpilang agar kejadian serupa tidak terulang di pemukiman atau sekolah lain,” tambahnya.
Agar kasus ini tidak menguap begitu saja, LBH PMII Jatim mendesak DPRD Jatim dan pihak otoritas terkait untuk memenuhi beberapa tuntutan kunci, di antaranya: melakukan proses hukum terbuka bagi oknum yang lalai dalam pengawasan.
Selain itu, memberikan ganti rugi serta jaminan pemulihan trauma psikis bagi korban hingga sembuh total, serta menghentikan segala bentuk tekanan atau intimidasi terhadap keluarga korban.
Wahid menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa pihaknya akan mengawal kasus ini hingga keadilan benar-benar terpenuhi. Baginya, nyawa dan masa depan seorang siswa jauh lebih berharga daripada dalih latihan militer apa pun.

