Artikel
Beranda » Menelusuri jejak batik tutur khas Blitar

Menelusuri jejak batik tutur khas Blitar

fashion show batik khas Blitar di Kampung Coklat (sumber foto: web PPID Kab. Blitar)
Selama ini, Blitar mungkin lebih akrab di telinga kita sebagai Kota Proklamator, tempat peristirahatan terakhir Bung Karno. Namun, jauh di balik narasi besar sejarah politiknya, Blitar menyimpan harta karun budaya yang telah bernapas selama lebih dari satu abad yakni, Batik Tutur.
Batik ini bukan sekadar kain dengan corak estetis. Sesuai namanya, “Tutur” yang berarti ucapan atau pesan, setiap helai kain ini adalah media komunikasi yang “berbicara”. Ia menyimpan kode perlawanan, kritik sosial terhadap penjajah, hingga panduan moral yang begitu kuat.
Mari kita bedah mengapa wastra dari Bumi Penataran ini menjadi salah satu warisan paling relevan di panggung global saat ini.

Warisan 100 Tahun: Dari Koleksi Belanda Kembali ke Bumi Penataran

Eksistensi Batik Tutur bukanlah tren yang muncul tiba-tiba. Akar sejarahnya dapat ditarik hingga tahun 1902, di mana motif ini tercatat dengan label Afkomstig Uit Blitar (Berasal dari Blitar) dalam arsip museum di Belanda. Selama seabad, identitas visual Blitar ini seolah terpenjara dalam dokumentasi kolonial, jauh dari tanah kelahirannya.
Sosok kunci di balik keindahan ini adalah Mbah Surodipuro, seorang pengrajin yang berbasis di Lingkungan Gebang, Kelurahan Sananwetan. Mewarisi dasar teknik membatik dari ibunya yang berasal dari Pekalongan, Mbah Surodipuro melakukan inovasi berani dengan memasukkan unsur cerita rakyat, legenda, dan kearifan lokal Blitar ke dalam karyanya.
Upaya seniman modern seperti Edy Dewa untuk menghidupkan kembali motif-motif ini dari arsip sejarah adalah sebuah kemenangan budaya yang emosional. Ada ironi sekaligus kebanggaan ketika sebuah identitas yang pernah diklaim dan disimpan oleh bangsa lain, kini dibebaskan dan diproduksi kembali oleh masyarakatnya sendiri.

Pesan Rahasia di Balik Motif: Kode Perlawanan terhadap Penjajah

Pada masa kolonial, Batik Tutur berfungsi sebagai alat kritik sosial yang sangat cerdas. Di saat suara rakyat dibungkam, para pembatik menggunakan simbolisme flora dan fauna untuk menyampaikan pesan perlawanan yang tidak mungkin diucapkan secara terang-terangan.
Berikut adalah beberapa kode simbolis yang kerap muncul dalam komposisi Batik Tutur.
Kuda terbang: melambangkan golongan bangsawan pribumi.
Burung: mewakili kaum terpelajar pribumi yang mulai memiliki kesadaran politik dan intelektual.
Singa: simbol pemerintahan kolonial Belanda yang saat itu memegang kuasa.
Secara naratif, penempatan motif-motif ini menggambarkan dinamika politik masa itu. Tentang bagaimana pengaruh pemerintah Belanda (Singa) perlahan mulai merosot dan kalah oleh suara persatuan antara kaum terpelajar dan bangsawan lokal. Sebuah bentuk protes sunyi namun tajam yang terukir permanen di atas selembar kain tulis.

Filosofi “Pitutur” dalam Helai Kain

Batik Tutur memiliki sekitar 15 motif utama yang masing-masing mengandung pitutur atau pesan moral. Berikut adalah empat motif yang menjadi primadona dengan komposisi visual dan filosofi yang kuat.

1. Motif Awu Nanas (Peka Terhadap Alam)

Motif ini menampilkan komposisi utama berupa gajah, burung, dan macan. Sebagai pemanis, terdapat motif selingan berupa tumbuh-tumbuhan seperti bunga dan suket teki. Filosofinya sangat relevan hingga kini sebagai manusia, kita harus pandai memahami gejala alam dan menjaga kepekaan terhadap lingkungan sekitar agar harmoni tetap terjaga.

2. Motif Celeret Dubang (Kepemimpinan yang Adil)

Terdiri dari perpaduan gambar kuda, burung emprit, dan gajah. Detailnya diperkaya dengan motif selingan bunga melati dan bunga turi, serta isian berupa garis-garis lurus. Motif ini membawa pesan bagi para pemimpin atau mereka yang telah makmur agar selalu berbuat baik dan tidak menggunakan kekuatannya untuk menyengsarakan rakyat kecil.

3. Motif Gambir Sepuh (Teladan bagi Generasi)

Menampilkan narasi visual yang dinamis melalui gambar kuda, naga, burung, dan api. Komposisi ini dilengkapi dengan bunga melati, bunga dadap, dan motif rambatan.
Makna luhurnya adalah pentingnya menjaga perasaan sesama dalam mengejar cita-cita. Lebih jauh, ia berpesan agar mereka yang lebih tua dan berpengalaman mampu menjadi teladan yang baik bagi generasi muda.

4. Motif Jalu Watu (Kesederhanaan dan Kepintaran Sejati)

Didominasi oleh motif utama bunga melati, bunga rambatan, dan burung emprit, dengan imbuhan suket teki, bunga dadap, serta bunga turi sebagai selingan. Namanya diambil dari “Jalu” (taji/kekuatan) dan “Watu” (batu/keteguhan).
Maknanya adalah pengingat agar kita tidak menyombongkan diri. Seseorang yang terlihat sederhana atau “miskin” secara lahiriah, bisa jadi memiliki kekayaan harta, sopan santun, dan ilmu yang luar biasa.


Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI

8 Pantai eksotis di Blitar Selatan, surga tersembunyi di pesisir Jawa Timur
×