Feature Opini
Beranda » Piala Dunia 2026: Turnamen untuk Semua atau Hanya yang Mampu?

Piala Dunia 2026: Turnamen untuk Semua atau Hanya yang Mampu?

Piala Dunia Pria 2026 adalah turnamen terbesar namun paling sulit diakses dalam sejarah. (Vincent Carchietta / Getty Images)

Piala Dunia 2026 tetap berjalan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan suasana politik yang penuh perdebatan di Amerika Serikat.

Turnamen terbesar dalam sejarah sepak bola itu akan menghadirkan 48 negara, 104 pertandingan, dan digelar di 16 kota di 3 negara: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Turnamen Makin Besar, Akses Makin Sempit

Saat mengajukan diri sebagai tuan rumah pada 2018, ketiga negara mengusung slogan United 2026. Mereka menjanjikan persatuan lintas benua dan keterbukaan kawasan Amerika Utara.

Mourinho Bersiap Kembali ke Real Madrid, Pérez Siapkan Revolusi Baru

Namun 8 tahun kemudian, gambaran itu dinilai semakin jauh dari kenyataan.

Amerika Serikat kini terlibat perselisihan dagang dengan Kanada dan Meksiko. Narasi persatuan yang dulu menjadi kekuatan utama pencalonan mereka mulai memudar.

Di sisi lain, semakin banyak negara mendapat kesempatan tampil. Namun semakin sedikit suporter biasa yang mampu hadir langsung di stadion.

Atasi perlawanan Australia, Argentina jumpa Belanda di perempat final Piala Dunia 2022

Pertanyaan Besar: Piala Dunia Ini untuk Siapa?

Bagi banyak penggemar, hambatan terbesar bukan hanya harga tiket yang tinggi.

Kesulitan memperoleh visa, biaya perjalanan yang mahal, dan kekhawatiran soal keamanan membuat banyak pendukung terancam gagal mewujudkan impian menyaksikan negaranya bermain.

Banyak pihak menilai identitas dalam paspor kini lebih menentukan daripada kecintaan terhadap sepak bola.

Itali Gagal Lagi ke Piala Dunia

Pengundian yang Bernuansa Politik

Presiden FIFA Gianni Infantino berfoto selfie dengan Presiden AS Donald Trump, Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum dan Perdana Menteri Kanada Mark Carney selama pengundian Piala Dunia FIFA pada bulan Desember (Kevin Dietsch / Getty Images)

Perubahan suasana terlihat saat pengundian fase grup pada Desember lalu.

FIFA memindahkan acara dari Las Vegas ke Washington agar Presiden Donald Trump lebih mudah menghadirinya.

Momen yang paling menyita perhatian terjadi ketika Presiden FIFA Gianni Infantino menyerahkan penghargaan baru bertajuk FIFA Peace Prize: Football Unites the World kepada Trump.

Penghargaan itu memicu pertanyaan karena FIFA tidak pernah menjelaskan proses pemilihannya secara terbuka.

Organisasi Human Rights Watch meminta penjelasan. Namun hingga berbulan-bulan kemudian, rinciannya tetap tidak jelas.

Sepak Bola dan Politik Tak Pernah Terpisah

Piala Dunia 2026 adalah turnamen terbesar namun paling sulit diakses dalam sejarah. (Vincent Carchietta / Getty Images)

Dalam bukunya Red Card: The 2026 World Cup, Sportswashing and the FIFA Greed Machine, profesor Universitas Pacific Jules Boykoff menilai turnamen ini menunjukkan bagaimana sepak bola modern semakin tunduk pada uang dan pengaruh politik.

Menurut Boykoff, olahraga selalu memiliki dimensi politik.

Pandangan itu mendapat gambaran nyata saat Iran lolos ke putaran final tetapi sejumlah anggota delegasinya gagal memperoleh visa untuk menghadiri pengundian.

Akibatnya, kursi delegasi Iran kosong dan pelatih tim nasional datang sendirian.

Panggung Bintang Tetap Menjanjikan

Terlepas dari berbagai kontroversi, kualitas pertandingan tetap menjadi daya tarik utama.

Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo masih hadir di penghujung karier mereka. Sementara Kylian Mbappe dan Erling Haaland berada di masa keemasan.

Deretan bintang itu menjanjikan pertandingan berkualitas tinggi dan momen yang mampu menyatukan perhatian dunia.

Kylian Mbappe, pemenang Sepatu Emas Piala Dunia 2022 di Qatar. (Catherine Ivill / Getty Images)

Format Baru dan Beban Tambahan

Piala Dunia 2026 menjadi edisi pertama yang diikuti 48 tim.

Format baru ini memberi kesempatan lebih besar bagi negara-negara peserta.

Namun banyak pihak menilai ekspansi tersebut membuat jadwal pemain semakin berat di tengah kalender kompetisi yang sudah padat.

Jeda hidrasi akibat cuaca panas, perluasan penggunaan VAR, dan bertambahnya elemen komersial juga memperkuat kesan bahwa turnamen semakin kompleks.

Harga Tiket Jadi Sorotan

Kontroversi terbesar tetap berkaitan dengan biaya menghadiri pertandingan.

Kelompok Football Supporters Europe menyebut kebijakan harga FIFA sebagai “pengkhianatan monumental” dan sempat meminta penjualan tiket dihentikan. Permintaan itu tidak diindahkan.

Kemungkinan akan menghabiskan ribuan biaya untuk melihat Lionel Messi memimpin Argentina di Piala Dunia terakhirnya (Dan Mullan / Getty Images)

Infantino berulang kali menyatakan biaya tinggi merupakan konsekuensi penyelenggaraan di Amerika Serikat.

Namun kenyataannya, banyak suporter harus menyiapkan dana ribuan hingga puluhan ribu dolar AS untuk tiket, penerbangan, hotel, makanan, minuman, dan transportasi lokal.

Situs penjualan ulang resmi FIFA bahkan pernah menawarkan 4 tiket final dengan harga US$2,3 juta per tiket.

Kondisi itu memicu kekhawatiran bahwa stadion akan dipenuhi penonton korporat dan kalangan elite, bukan suporter yang selama ini menjadi jiwa Piala Dunia.

Visa Jadi Penghalang Baru

Beberapa bulan terakhir, kedutaan besar Amerika Serikat di berbagai negara menyampaikan pesan yang sama.

Memiliki tiket Piala Dunia tidak menjamin seseorang memperoleh visa masuk.

Bagi banyak orang, hambatan utama bukan lagi uang, melainkan izin untuk datang.

Suporter Skotlandia, misalnya, sempat dikenai biaya US$95 untuk perjalanan pulang-pergi menggunakan bus sejauh sekitar 25 mil antara Providence dan Foxboro.

Mereka akhirnya mengorganisasi transportasi sendiri dan memangkas biaya hingga setengahnya.

Sebagai perbandingan, Jerman menyediakan transportasi umum gratis saat menjadi tuan rumah pada 2006. Rusia menggratiskan perjalanan kereta jarak jauh pada 2018, sementara Qatar menyediakan metro gratis pada 2022.

Iran dan Haiti Hadapi Kendala Serius

Iran dan Haiti yang lolos ke Piala Dunia terkena pembatasan perjalanan yang mempersulit para pendukung mereka.

Beberapa negara Afrika juga menghadapi pembatasan serupa.

Iran bahkan meminta FIFA memindahkan pertandingan fase grup mereka ke Meksiko. FIFA menolak permintaan tersebut.

Tim nasional Iran kemudian memindahkan kamp latihan dari Arizona ke Tijuana agar tidak bergantung pada akses ke Amerika Serikat.

Federasi sepak bola Iran menilai tim mereka tidak memperoleh perlakuan setara.

Kasus lain menimpa bek Maroko Zakaria El Ouahdi yang sempat gagal bergabung dengan tim nasional setelah 2 kali permohonan visanya ditolak.

Ia akhirnya memperoleh izin masuk setelah federasi turun tangan.

Pengawasan yang Kian Ketat

Human Rights Watch melaporkan sedikitnya 167.000 penangkapan oleh ICE di sekitar 11 kota tuan rumah Amerika Serikat antara Januari 2025 hingga Maret 2026.

Usulan pemeriksaan aktivitas media sosial dan pandangan politik pengunjung juga memicu kekhawatiran baru.

Bagi banyak pengamat, akses ke turnamen kini lebih terasa sebagai pengecualian daripada jaminan.

Nilai Sejati Piala Dunia

Mesir Mohamed Salah melawan Belgia dan Iran di Seattle pada 15 dan 26 Juni (Kirk Irwin / Getty Images)

Di Seattle, pasangan Ayman Almasri dan Amani Abouammo mengelola restoran Koshari yang terinspirasi dari hidangan nasional Mesir.

Almasri adalah warga Palestina dengan keluarga di Mesir. Abouammo menghabiskan bertahun-tahun hidup di Lebanon dan Mesir.

Saat Mesir bermain di Seattle, mereka berharap Mohamed Salah dan rekan-rekannya mampir ke restoran tersebut.

Pada hari pertandingan, tempat itu akan menjadi titik kumpul para penggemar.

Kisah seperti inilah yang selama ini menjadi esensi Piala Dunia: mempertemukan orang-orang dari latar belakang berbeda melalui sepak bola.

Jutaan Pendukung Tertinggal

Amerika Serikat akan menjadi tuan rumah 78 dari 104 pertandingan, termasuk seluruh laga perempat final, 2 semifinal, dan final.

Komunitas Maroko akan mendukung Maroko. Komunitas Kolombia akan mendukung Kolombia. Komunitas Iran akan mendukung Iran.

Bagi banyak anak imigran, momen itu menjadi pengakuan atas identitas mereka.

Namun menjelang kick-off, ada sesuatu yang terasa hilang.

Harga yang tidak terjangkau, visa yang sulit diperoleh, dan berbagai hambatan perjalanan membuat jutaan pendukung terancam tidak bisa hadir.

Sebanyak 48 negara berhasil lolos ke putaran final.

Jutaan suporternya tidak.

Bahkan sebelum bola pertama ditendang, Piala Dunia 2026 sudah menjadi turnamen yang ditandai oleh mereka yang tersisih.

*Artikel ini disadur berdasarkan liputan dari The Athletic berjudul ‘Who, exactly, is this World Cup for?’ karya Jerry Brewer.

×