Surabaya – Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI) Jawa Timur menyoroti tajam insiden peluru nyasar yang melukai dua siswa di Gresik.
Peristiwa yang terjadi di ruang hidup masyarakat sipil ini dinilai bukan sekadar kecelakaan teknis, melainkan bukti adanya celah serius dalam standar pengamanan aktivitas bersenjata yang membahayakan nyawa anak-anak.
KOPRI PMII Jatim menegaskan bahwa tragedi ini telah merusak ruang aman bagi generasi muda di tempat mereka belajar.
Ketua KOPRI PKC PMII Jatim, Kholisatul Hasanah, menyatakan bahwa jatuhnya korban dari kalangan pelajar menunjukkan lemahnya prioritas terhadap keselamatan warga sipil. Mengingat banyaknya personel yang terlibat dalam pemeriksaan, KOPRI PMII Jatim menilai ada persoalan mendasar yang melampaui kesalahan individu.
“Ketika anak-anak menjadi korban, ini tidak lagi bisa dilihat sebagai kejadian tidak sengaja semata. Ada pertanyaan besar tentang bagaimana standar keamanan dijalankan dan sejauh mana keselamatan warga sipil benar-benar dijadikan prioritas,” tegas Kholisatul dalam keterangan resminya, Senin (20/4/2026).
KOPRI juga mengingatkan bahwa dampak dari kejadian ini tidak hanya berupa luka fisik, tetapi juga guncangan psikologis bagi korban dan lingkungan sekolah.
Organisasi ini mendesak agar pemulihan rasa aman menjadi agenda utama dalam penanganan kasus, sebagai wujud tanggung jawab yang tidak bisa ditawar.
Guna menjamin keadilan substansial, KOPRI Jawa Timur melayangkan lima tuntutan kepada pihak terkait, antara lain:
- Mendesak pengusutan kasus secara transparan dan akuntabel hingga tuntas dengan pertanggungjawaban yang jelas.
- Menuntut pemulihan menyeluruh bagi korban, termasuk perawatan medis dan pendampingan psikologis.
- Mendesak evaluasi total terhadap standar operasional penggunaan senjata api, terutama di wilayah yang berdekatan dengan masyarakat sipil.
- Menuntut langkah pencegahan yang konkret dan terukur agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
- Mendesak keterbukaan informasi kepada publik secara jujur dan bertanggung jawab.
KOPRI PMII Jawa Timur berkomitmen untuk terus mengawal kasus ini. Mereka menegaskan bahwa keselamatan masyarakat, terutama anak-anak sebagai kelompok rentan, tidak boleh dikompromikan dalam kondisi apa pun dan harus menjadi prioritas tertinggi dalam setiap aktivitas bersenjata di wilayah sipil. (Ko)

