BLITAR — Merespons pergeseran demografi keanggotaan dan melesatnya penetrasi internet nasional yang kini menyentuh angka 80,66 persen, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Blitar melalui Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) merilis cetak biru literasi organisasi.
Rapat koordinasi strategis yang digelar di Warung Andalan Tawangsari, Kecamatan Garum, Rabu (11/3/2026) malam ini, secara spesifik merumuskan ekosistem dakwah digital yang menyasar generasi muda—segmen yang saat ini mendominasi lanskap digital Nusantara.
Urgensi restrukturisasi komunikasi organisasi
Ketua PCNU Kabupaten Blitar, Kiai Muqorrobin, yang mengawal langsung jalannya rapat tersebut, menegaskan bahwa restrukturisasi pola komunikasi di tubuh organisasi kini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan mutlak.
Berdasarkan data APJII terbaru, dari total 229,4 juta pengguna internet di Indonesia, Generasi Z mendominasi dengan porsi 25,54 persen, disusul Milenial sebesar 25,17 persen. Fakta demografis ini memaksa organisasi untuk meninggalkan pola komunikasi konvensional.
”Lembaga adalah sayap yang akan menerbangkan PCNU ke ruang lingkup yang lebih luas. Oleh karena itu, kita wajib mengimplementasikan komunikasi dua arah yang interaktif, tidak lagi monolog,” tegas Kiai Muqorrobin di hadapan jajaran pengurus. “Beda dengan pola masa lalu yang satu arah, saat ini karya ta’lif dan literasi yang kita produksi harus benar-benar relate dengan situasi faktual serta dasar kebutuhan warga NU di akar rumput.”
Strategi visual di tengah tren media sosial
Sebagai bentuk eksekusi taktis dari visi tersebut, Ketua LTN NU Kabupaten Blitar, Lathif Najibulloh, mempresentasikan empat pilar program kerja jangka triwulanan.

Rancangan program LTN NU Kabupaten Blitar
Pemilihan ekosistem digital ini berkorelasi langsung dengan durasi online masyarakat yang kini rata-rata menghabiskan 4 hingga 6 jam per hari untuk mengonsumsi konten visual.
Berdasarkan visualisasi data pemaparannya, program strategis LTN meliputi:
- Seminggu Setunggal Dawuh (SSD)Distribusi Quote/Dawuh Ulama NU: Disebar secara mingguan untuk mengimbangi algoritma lini masa media sosial.
- KOMIK (Komedi Ibadah Kontekstual): Produksi sitkom berbasis fikih keseharian dengan rujukan pesantren murni.
- Ngaji Digital: Inkubasi peningkatan kecakapan literasi digital untuk pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC).
- Kajian Komprehensif: Mentahqiq Mukadimah Qanun Asasi NU ke dalam bahasa yang lebih membumi.
”Kami memvisualisasikan gagasan besar PCNU ke dalam format dan ekosistem digital yang adaptif. Ini adalah strategi kami untuk menerjemahkan tradisi literasi pesantren ke dalam bahasa visual, agar dakwah NU lebih mudah diakses oleh Gen Z tanpa mereduksi sanad keilmuannya,” papar Lathif.
Membentengi umat dengan naskah terstandardisasi
Dalam agenda rapat yang berlangsung dinamis tersebut, forum juga menyoroti urgensi standardisasi produk literasi keagamaan. Meskipun Indeks Literasi Digital Jawa Timur tercatat cukup baik di skor 3,58 (berada di atas rata-rata nasional), tantangan masyarakat dalam membedakan informasi peribadatan yang valid dengan hoaks masih cukup rentan.
Sebagai tindak lanjut konkret, LTN didorong untuk segera mematangkan peta jalan (roadmap) publikasi yang bisa menjadi rujukan pasti bagi masyarakat luas.
”Silakan merancang program tahunan secara komprehensif agar drafnya bisa segera dirilis secara resmi ke publik. Selain fokus di ruang maya, tugas mendasar LTN adalah mulai membekali umat dengan naskah khutbah, baik versi bahasa Jawa maupun Indonesia. Naskah ini harus disusun menggunakan tata bahasa organisasi dan mencerminkan kedalaman pemikiran tokoh-tokoh pesantren kita,” pungkas Kiai Muqorrobin memberikan instruksi penutup. (sz/blt)

