Artikel
Beranda » Pesona Kota Tua Belgia: Menjelajahi keajaiban sejarah

Pesona Kota Tua Belgia: Menjelajahi keajaiban sejarah

Foto Gruuthuse Museum yang ada di Brugge, Belgia (pexel.com/alisa-skripina)

Belgia dan kota tua nya

Belgia memancarkan pesona sejarah yang tak lekang oleh waktu melalui deretan bangunan abad pertengahan yang masih berdiri tegak hingga saat ini.

Dunia mengenal negara ini bukan sekadar melalui kelezatan cokelat dan wafernya, melainkan juga lewat arsitektur kuno yang menghiasi tepian sungai-sungai tenang.

Keanggunan masa lalu Eropa seolah bernapas kembali dalam setiap lekuk jendela patri dan menara-menara tinggi yang mendominasi cakrawala.

Kota-kota seperti Dinant, Gent, dan Brugge menawarkan pengalaman luar biasa. Membawa setiap pengunjung menyelami kejayaan peradaban berabad-abad silam tanpa meninggalkan kenyamanan modernitas.

Narasi perjalanan ini akan mengupas tuntas keunikan tiga permata sejarah tersebut bagi para pencinta sejarah dan seni rupa.

Dinant: Kota musik dan benteng di tepi sungai meuse

Dinant menyuguhkan pemandangan yang sangat dramatis karena lokasinya yang menempati celah sempit antara tebing batu raksasa dan aliran Sungai Meuse.

Kota ini sebagai pusat perdagangan yang amat krusial bagi perekonomian Eropa sejak abad ke-15. Selain reputasi dagangnya, Dinant juga menyandang predikat sebagai tanah kelahiran Adolphe Sax.

Sosok jenius ini menciptakan saksofon, sebuah instrumen musik yang kemudian mengubah wajah musik dunia.

Penghormatan terhadap sang maestro terlihat jelas melalui berbagai patung dan elemen dekoratif bertema saksofon yang menghiasi sudut-sudut jalanan kota.

Salah satu daya tarik utama yang mencuri perhatian mata adalah Citadelle de Dinant. Benteng pertahanan ini berdiri kokoh di puncak bukit batu dan menyimpan rekam jejak militer yang panjang.

Pengunjung dapat menaiki kereta gantung untuk mencapai puncak benteng sembari menikmati panorama spektakuler ke arah sungai dan atap-atap rumah penduduk yang berjajar rapi.

Tepat di kaki tebing, berdiri Collegiate Church of Notre-Dame, sebuah katedral megah dengan menara berbentuk bawang yang menjadi ikon visual kota.

Di dalam katedral ini, masyarakat merawat berbagai koleksi patung kuno serta karya seni religius yang memiliki nilai sejarah sangat tinggi.

Dinant juga membanggakan warisan budaya melalui produk lokal bernama “Batu Dinant”.

Meski menyandang nama batu, benda ini merupakan hasil kreativitas para pengrajin lokal yang menjadi suvenir dan patung kecil yang cantik.

Keterampilan ini terus menurun secara turun-temurun sebagai bagian dari identitas budaya kota.

Gent: Kemegahan arsitektur dan museum

Gent menghadirkan perpaduan harmonis antara suasana kota kecil yang ramah dan kemegahan bangunan bersejarah yang kolosal.

Sebagai salah satu kota terbesar di Belgia, Gent menawarkan pengalaman visual yang luar biasa melalui balkon-balkon rumah kuno dan jendela-jendela dengan kaca patri yang memukau.

Kastil Gravensteen, yang pembangunannya bermula pada abad ke-12, berdiri sebagai saksi bisu sejarah panjang pemerintahan Flandria.

Kastil ini sempat berfungsi sebagai penjara, namun pemerintah setempat kini telah menyulapnya menjadi museum yang memamerkan koleksi senjata kuno seperti pedang, tombak, dan baju besi yang lengkap.

Menara Belfry of Ghent setinggi 91 meter menjadi titik pandang terbaik untuk mengagumi seluruh penjuru kota dari ketinggian.

Suara loncengnya yang nyaring seolah melempar kembali ingatan setiap pendengarnya ke masa abad pertengahan yang megah.

Wisatawan juga sering berkumpul di kawasan Graslei, sebuah dermaga tua di tepi Sungai Leie.

Cahaya matahari yang memantul pada permukaan air sungai dan bangunan-bangunan tua di sepanjang dermaga ini menciptakan pemandangan yang sangat indah dan menenangkan.

Brugge: Warisan dunia dan labirin kanal

Brugge memegang status terhormat sebagai Situs warisan dunia karena keberhasilannya melestarikan karakter asli kota sejak era Viking.

Lokasi yang strategis menjadikan Brugge sebagai pusat perdagangan utama di Eropa pada masa lampau, sekaligus tempat lahirnya maestro seni lukis seperti Jan van Eyck.

Namun, kejayaan ekonomi kota ini sempat meredup saat Selat Zwin mengalami pendangkalan akibat timbunan lumpur, yang akhirnya memutus akses Brugge menuju lautan lepas.

Meskipun sempat mengalami krisis ekonomi di Eropa pada pertengahan 1800-an, Brugge berhasil bangkit kembali berkat arsitekturnya yang selamat dari kehancuran Perang Dunia II.

Kini, Brugge bertransformasi menjadi destinasi wisata paling populer di Belgia.

Kanal-kanal bersejarah yang mengalir di bawah jembatan batu kuno merupakan jantung pariwisata Brugge. Wisatawan dapat menjelajahi kanal-kanal ini menggunakan perahu sembari mengamati sekawanan angsa yang berenang dengan anggun.

Di pusat kota, tepatnya di Market Square, berdiri menara lonceng abad ke-13 yang legendaris. Menara ini memiliki lonceng yang dentangannya sudah menghiasi telinga penduduk selama berabad-abad.

Pengunjung yang memiliki stamina fisik cukup dapat menaiki anak tangga menuju puncak menara demi menyaksikan panorama kota yang tidak tertandingi.

Tradisi budaya dan keagamaan di Brugge juga tetap terjaga melalui acara tahunan bertajuk Prosesi Darah Kudus.

Prosesi ini menghadirkan botol suci dari Basilica of the Holy Blood yang berisi relikui berharga. Ribuan peserta berjalan kaki, menunggang kuda, hingga mengendarai gerobak melintasi pusat kota sembari melantunkan ayat-ayat suci.

Acara ini berhasil menarik puluhan ribu pengunjung setiap tahunnya.

Selain itu, Groeninge Museum juga menawarkan koleksi lukisan klasik yang menggambarkan kejayaan artistik kota ini di masa lalu.

Perpaduan antara narasi sejarah yang kuat, keindahan seni arsitektur yang terjaga, serta kekayaan budaya yang dinamis menjadikan Dinant, Gent, dan Brugge sebagai destinasi yang mampu memberikan pengalaman bagi setiap pencari jejak peradaban lama di jantung Eropa.

×