Ketegangan di masa kepemimpinan Utsman bin Affan akhirnya mencapai titik paling serius. Keluhan dari berbagai wilayah tidak lagi berhenti di surat dan utusan. Sebagian kelompok datang langsung ke Madinah. Awalnya, mereka mengaku ingin klarifikasi. Tapi situasi cepat berubah.
Rombongan dari Mesir, Kufah, dan Basrah berkumpul di Madinah. Mereka menuntut agar beberapa pejabat dicopot dan kebijakan ditinjau ulang. Rusman menerima mereka.
Ia menjelaskan, berdialog, dan bahkan menyetujui beberapa tuntutan. Sebagian rombongan sempat pulang. Namun di tengah jalan, muncul surat atas nama Utsman yang isinya memerintahkan hukuman terhadap para pengkritik.
Surat ini memicu kemarahan besar. Utsman membantah menulis surat tersebut. Sampai hari ini, peristiwa ini masih diperdebatkan sumber dan pelakunya.
Kelompok yang marah kembali ke Madinah dan mengepung rumah Utsman. Akses keluar masuk dibatasi. Air dan bantuan mulai sulit masuk. Para sahabat ingin melawan dan membubarkan pengepungan. Namun Utsman melarang keras penggunaan kekerasan. Ia tidak ingin darah tertumpah karena dirinya.
Selama pengepungan, Utsman tetap shalat, membaca Al-Qur’an, dan menolak melawan. Ia yakin bahwa konflik bersenjata di Madinah akan membawa dampak lebih buruk. Keputusan ini membuat sebagian sahabat frustrasi. Mereka melihat ini sebagai kelemahan, bukan kesabaran. Namun bagi Utsman, menjaga persatuan lebih penting daripada keselamatan pribadi.
Pengepungan berakhir tragis. Sekelompok orang menerobos rumah dan membunuh Utsman saat ia sedang membaca Al-Qur’an. Usianya sudah lanjut. Ia tidak melakukan perlawanan. Peristiwa ini mengguncang umat Islam. Untuk pertama kalinya, seorang khalifah terbunuh oleh sesama muslim.
Kematian Utsman bukan akhir masalah, tapi awal krisis besar: otoritas pusat runtuh
kepercayaan antar-kelompok hancur, tuntutan balas dan keadilan saling bertabrakan. Umat Islam masuk ke fase konflik internal yang terbuka.
Dari peristiwa ini terlihat bahwa: konflik yang dibiarkan terlalu lama bisa meledak, niat damai tanpa kontrol situasi bisa berbahaya, kepemimpinan butuh ketegasan dan komunikasi yang jelas. Utsman bukan tokoh jahat. Ia korban dari situasi politik yang jauh lebih besar dari dirinya.
Sumber: Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyur Rahman al-Mubarakfury

