“Yang Datang Bersama Senja” adalah puisi tentang pertemuan dengan seseorang yang hadir setelah luka. Melalui karya puisi ini, pengarang bercerita tentang rasa syukur, penyembuhan, hingga doa kepada Tuhan dihadapan suasana senja untuk menjaga seseorang yang baru saja hadir di dalam kehidupannya. Maka berikut teks puisinya:
Semilir angin teduh di pinggir segara mini…
Membuat riak gelombang cilik yang menyenangkan dilihat…
Menenangkan, menyejukkan….
Matahari perlahan mengambil selimut malamnya…
Dengan eloknya ia kembali ke peraduannya…
Kami menikmati nya…
Sungguh sangat menikmatinya..
Oh Tuhan Yang Maha Agung,
Maestro Pelukis Kehidupan…
Aduhai alangkah indah ciptaanMu…
Kami menyadari, kami adalah insan yang lalai…
Sulit mensyukuri nikmatMu yang megah….
Hari ini, aku menyesalinya…
Datang dengan penuh luka dan trauma…
Hari ini pula, aku menyambut seorang makhlukMu…
Yang tak kalah indah dengan senja didepanku…
Senja lukisanMu yang agung…
Kusambut dia..
Kurayakan dia,
dengan caraku yang sederhana
namun membekas indah….
Aku tak ingin menyesal kembali..
Tuhan, sekali lagi kabulkan permohonanku..
Bukan untukku, tapi untuknya…
Kumohon, jaga dia seperti Kau menjaga senja ini…
~B, Perjumpaan Sore di Taman itu, 8/9/2026~
Senja dalam puisi ini bukan hanya tentang matahari yang kembali ke peraduannya. Ia menjadi simbol dari sebuah pertemuan tentang seseorang yang hadir setelah perjalanan panjang, membawa harapan baru ditengah luka dan trauma yang belum sepenuhnya sembuh.
Diantara keindahan senja, pengarang menemukan kembali rasa syukur. Pertemuan itu kemudian ditutup dengan doa sederhana kepada Tuhan agar seseorang yang telah datang tersebut dijaga sebagaimana indahnya senja yang telah disaksikan.

