Artikel Feature
Beranda » Suasana Pedesaan yang Tenang di Ngadipuro Wonotirto Blitar

Suasana Pedesaan yang Tenang di Ngadipuro Wonotirto Blitar

Suasana di Desa Ngadipuro, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar. (Instagram/bicarablitarcom)

Blitar – Sinyal sulit didapat, jalanan berbatu, penerangan seadanya, dan rimbunnya pepohonan menjadi pemandangan khas sebuah dusun di wilayah selatan Blitar yang berbatasan langsung dengan Pantai Selatan Jawa.

Bagi mereka yang tak bisa lepas dari genggaman ponsel, Dusun Banyurip, Desa Ngadipuro, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar, mungkin bukan destinasi yang ideal. Di sini, kicauan burung lebih sering terdengar daripada deru kendaraan. Hidup terasa jauh dari keramaian kota—seolah masuk dalam bayangan konsep “slow living”.

Perjalanan Menuju Blitar Selatan

Wande Lor Dalan: Benteng humanisme di meja bar Blitar

Perjalanan dimulai dari sebuah gubuk di Kelurahan Karangtengah, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar. Pada 7 Maret 2025 sore, sebuah mobil hitam melintasi jalanan panjang di tengah cuaca yang tak menentu. Hujan lebat sesekali reda, namun kembali turun berulang kali, menemani perjalanan menuju Blitar bagian selatan.

Ada beberapa rute menuju Ngadipuro, Wonotirto, namun kali ini jalur yang dipilih melewati Desa Ngeni, Kecamatan Wonotirto. Meski lebih dekat, medannya lebih terjal. Sepanjang perjalanan, beberapa kali kami berhenti untuk mengabadikan momen—mulai dari Patung Macan Putih, Pasar Ngeni, hingga perkebunan kelapa di Gunung Nyamil.

Pemandangan perbukitan khas Blitar Selatan begitu memesona, terutama saat mencapai puncak Gunung Nyamil. Alam yang hijau dan udara segar seolah membersihkan pandangan mata.

Kawal permasalahan lingkungan, PC PMII Blitar awali rangkaian harlah dengan diskusi bersama pegiat

Hidup dengan Ritme yang Lebih Lambat

Suasana berubah begitu azan Magrib berkumandang. Nuansa nostalgia era 90-an terasa begitu kental di Ngadipuro—tenang dan jauh dari kebisingan modern.

Warga menyambut kedatangan kami dengan keramahan khas pedesaan, seolah kami sudah lama saling mengenal. Di rumah seorang tokoh setempat, kami disuguhi kopi hangat dan kacang rebus sambil berbincang hingga waktu Isya tiba.

Intensifkan kepengurusan, DEMA STITMA Blitar gelar musyawarah kerja

Malam itu, kami menghabiskan waktu dengan obrolan di luar rumah. Tanpa gangguan sinyal yang memadai, interaksi antar-manusia menjadi satu-satunya hiburan.

Kedatangan kami juga bertepatan dengan program “PMII Mengabdi”, sebuah kegiatan bakti sosial yang digelar oleh PMII Blitar.

Bagi yang ingin mencoba hidup jauh dari keramaian kota, dusun ini bisa menjadi pilihan untuk merasakan “slow living” yang sesungguhnya.

Ichiro Akbar: Bocah Blitar yang menjelma jadi ujung tombak Garuda Muda

Tulisan ini sudah pernah diunggah di blog Catatan Langkah dengan laman: muhammad-thoha-maruf.com

×