Blitar – Di luar versi sejarah Bali Tartar yang lebih populer, ada pula legenda lokal yang menyebut nama Blitar berasal dari frasa ‘bali dadi latar’ yang berarti kembali menjadi halaman. Kisah ini beredar turun-temurun di kalangan masyarakat Blitar.
Menurut legenda, frasa tersebut konon diteriakkan oleh Prabu Mahesa Sura saat meregang nyawa di sebuah sumur yang ia gali sendiri sebagai syarat mahar untuk mempersunting Dewi Kilaswara. Kisah dramatis ini menjadi bagian dari narasi rakyat yang mewarnai sejarah lisan Blitar.
Blitar sebagai jalur penghubung kerajaan
Terlepas dari legenda tersebut, secara geopolitik Blitar dahulu memegang peran penting sebagai jalur penghubung antara Dhoho atau Kediri dan Tumapel atau Malang, dua wilayah yang kerap bersaing memperebutkan pengaruh kekuasaan pada masa lampau.
Posisi strategis ini turut memperkuat mengapa banyak kerajaan besar di Jawa Timur seperti Kediri, Singasari, hingga Majapahit memilih membangun pusat pemerintahan yang berdekatan dengan aliran Sungai Brantas, wilayah yang juga melingkupi Blitar.
Fakta unik
Fakta menarik, keberadaan lebih dari satu versi legenda asal-usul nama Blitar menunjukkan kayanya tradisi lisan masyarakat setempat, di mana sejarah dan mitos saling berpadu membentuk identitas budaya daerah ini.

