Blitar – Kabupaten Blitar ternyata menyimpan puluhan candi peninggalan kerajaan-kerajaan besar Nusantara. Jumlahnya bahkan mencapai belasan situs yang tersebar di berbagai kecamatan, menjadikan Blitar salah satu daerah terkaya situs candi di Jawa Timur.
Candi Penataran tentu jadi yang paling terkenal dan megah. Kompleks candi Hindu terbesar di Jawa Timur ini menyimpan relief kisah Ramayana serta Prasasti Palah yang menyebutkan nama Mpu Amogeswara sebagai penulis naskah masa lampau.
Candi Sawentar di Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro, juga tak kalah menarik. Candi ini dikenal dengan bentuknya yang cukup unik dan sering dikunjungi peneliti sejarah maupun wisatawan yang penasaran dengan arsitektur kuno Jawa Timur.
Candi Rambut Monte di Desa Krisik, Kecamatan Gandusari, jadi salah satu yang paling ikonik karena berada satu kawasan dengan telaga jernih. Candi ini merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit yang dibangun pada abad ke-13 sebagai tempat pemujaan bagi umat Hindu.
Ciri khas candi ini terletak pada perbandingan ukuran tubuh candi dan kakinya, di mana tubuh candi memiliki ukuran lebih kecil dibanding kakinya. Hal ini menciptakan selasar sempit yang mengelilingi candi, unik dibanding candi lain di Jawa Timur.
Candi Kalicilik di Desa Candirejo, Kecamatan Ponggok, juga jadi destinasi wisata sejarah yang sepi namun sarat nilai edukasi. Lokasinya yang tidak terlalu ramai membuat pengunjung bisa lebih leluasa mengamati detail arsitektur candi.
Ada pula Candi Simping di Desa Sumberjati, Kecamatan Kademangan, serta Candi Plumbangan di Desa Plumbangan, Kecamatan Doko. Kedua candi ini menyimpan cerita sejarah masing-masing dari era kerajaan yang berbeda.
Candi Gambar Wetan di Desa Sumberasri, Kecamatan Nglegok, juga layak dikunjungi bagi pencinta wisata sejarah minat khusus. Lokasinya berada di lereng gunung dengan suasana yang masih sangat alami dan asri.
Candi Kotes atau Candi Papoh di Gandusari, serta Candi Tapan di Desa Bendosewu, Kecamatan Talun, melengkapi daftar situs bersejarah yang tersebar di seluruh penjuru Kabupaten Blitar. Masing-masing memiliki karakteristik arsitektur yang berbeda.
Sebagian besar candi ini bisa dikunjungi secara gratis atau dengan biaya masuk yang sangat terjangkau, hanya berkisar Rp3.000 hingga Rp5.000 per orang. Namun akses jalan menuju sebagian candi masih perlu perbaikan, terutama yang berada di kawasan pedesaan.
Bagi pencinta sejarah dan arkeologi, menjelajahi candi-candi di Blitar bisa jadi pengalaman edukatif yang mendalam. Setiap situs menyimpan kisah berbeda dari perjalanan panjang peradaban Jawa Timur pada masa lampau.
Dengan kekayaan situs candi yang begitu banyak, Blitar layak disebut sebagai laboratorium sejarah terbuka yang sayang untuk dilewatkan begitu saja oleh wisatawan yang berkunjung ke Bumi Bung Karno.
Sebelum berangkat, ada baiknya cek dulu ulasan pengunjung lain di Google Maps agar bisa menyesuaikan ekspektasi dengan kondisi terkini di lapangan.
Datang lebih pagi disarankan agar bisa menikmati suasana lebih tenang sebelum lokasi mulai dipadati pengunjung, terutama saat akhir pekan atau musim libur sekolah.
Jangan lupa membawa air minum dan bekal secukupnya, terutama jika lokasi yang dituju cukup jauh dari pusat kota dan minim warung di sekitarnya.
Bagi yang datang dari luar kota, disarankan menggunakan aplikasi peta digital untuk memudahkan perjalanan, mengingat sebagian lokasi berada di kawasan pedesaan dengan penunjuk jalan terbatas.
Musim kemarau umumnya jadi waktu terbaik untuk berkunjung, karena akses jalan lebih kering dan pemandangan lebih jernih tanpa gangguan kabut maupun hujan deras.
Selalu jaga kebersihan selama berwisata dengan tidak membuang sampah sembarangan, sebagai bentuk tanggung jawab bersama menjaga kelestarian destinasi wisata lokal Blitar.
Berbagi pengalaman lewat media sosial juga bisa membantu mempromosikan potensi wisata lokal, sekaligus memberi informasi terkini bagi calon pengunjung lain yang berencana datang.
Menyempatkan diri berbincang dengan warga atau pengelola setempat juga bisa jadi cara menarik menggali cerita dan informasi yang tidak tertulis di internet.
Sebelum berangkat, ada baiknya cek dulu ulasan pengunjung lain di Google Maps agar bisa menyesuaikan ekspektasi dengan kondisi terkini di lapangan.
Datang lebih pagi disarankan agar bisa menikmati suasana lebih tenang sebelum lokasi mulai dipadati pengunjung, terutama saat akhir pekan atau musim libur sekolah.

