Artikel Pop Culture
Beranda » Sejarah Stasiun Blitar, saksi bisu era kolonial hingga kini

Sejarah Stasiun Blitar, saksi bisu era kolonial hingga kini

Keramaian Stasiun Blitar. (Foto: Bicarablitar.com)

Blitar – Stasiun Blitar bukan sekadar tempat naik-turun penumpang kereta api, melainkan juga saksi bisu perjalanan panjang sejarah Kota Blitar sejak era kolonial. Bangunan tua ini menyimpan jejak lebih dari satu abad perkembangan transportasi dan budaya di Blitar.

Dibangun Sejak 1883 oleh Belanda

Sejarah Stasiun Blitar bermula pada 1883, ketika pemerintah Hindia Belanda melalui Staatsspoorwegen (SS) membangun jalur kereta api yang menghubungkan Kediri, Tulungagung, dan Blitar. Jalur sepanjang 64 kilometer ini dirancang untuk memperlancar distribusi hasil bumi seperti kopi, tebu, dan komoditas perkebunan lain yang melimpah di wilayah selatan Jawa Timur. Stasiun ini resmi diresmikan pada 16 Juni 1884, sebagian dari jaringan oosterlijnen atau lintas timur yang menghubungkan wilayah barat dan timur Jawa.

Arsitektur Kolonial yang Terus Dijaga

Bangunan stasiun didesain dengan gaya arsitektur khas abad ke-19, dengan atap tinggi, dinding tebal, dan jendela besar untuk sirkulasi udara alami. Pada 1950, stasiun mengalami perombakan dengan bangunan pintu masuk yang menjulang serta ornamen bergaya Indische Empire dan sentuhan Art Deco, gaya arsitektur yang masih bertahan hingga sekarang meski sudah beberapa kali direnovasi.

Istana Gebang, rumah masa muda Bung Karno di Kota Blitar

Sempat Lumpuh Akibat Letusan Kelud

Menariknya, Stasiun Blitar beserta sejumlah stasiun di “jalur kantung” lainnya pernah terkena dampak letusan Gunung Kelud pada Mei 1919, yang membuat aktivitas transportasi di wilayah Blitar lumpuh total. Peristiwa ini menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah panjang stasiun yang terletak di ketinggian 167 meter di atas permukaan laut ini.

Gerbang Menuju Makam Bung Karno

Setelah Indonesia merdeka, Stasiun Blitar mendapat makna baru sebagai gerbang utama bagi peziarah dan wisatawan yang hendak berkunjung ke Makam Bung Karno, Museum Bung Karno, dan Istana Gebang. Sejak direnovasi pada 2013-2014, hall stasiun bahkan menampilkan poster Bung Karno sebagai penghormatan bagi sang proklamator yang dimakamkan di kota kelahirannya ini.

Stasiun Besar dengan Fasilitas Lengkap

Kini, Stasiun Blitar berstatus sebagai stasiun besar yang disinggahi seluruh kelas kereta api, mulai dari ekonomi hingga eksekutif. Di bagian selatan stasiun masih terdapat jalur putar untuk lokomotif serta bekas depo lokomotif dan menara air, penanda betapa sibuknya aktivitas perkeretaapian di stasiun ini pada masa lampau. Bagi pencinta sejarah maupun fotografi, Stasiun Blitar tetap menjadi lokasi menarik untuk menelusuri jejak masa lalu sambil menikmati denyut modernitas kota masa kini.

Asal usul nama Blitar, ternyata bermakna cahaya terang

Terhubung dengan Malang Sejak 1896

Setelah jalur Kediri-Tulungagung-Blitar rampung, pembangunan rel terus berlanjut hingga akhirnya jalur dari Blitar menuju Malang tersambung sepenuhnya pada 1896. Penyambungan ini semakin memperkuat posisi Blitar sebagai simpul transportasi penting di wilayah selatan Jawa Timur, sekaligus mempermudah distribusi hasil bumi maupun mobilitas penumpang antarkota pada masa itu.

×