Blitar – Di balik keindahan panorama Puncak Langit dan secangkir kopi arabika yang menggoda, ada cerita hangat dari warga lokal yang turut mewarnai kawasan Desa Kalimanis, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar. Salah satunya datang dari seorang ibu bernama Landep, warga asli Tunggorono yang kini menetap dan berjualan di kawasan Kalimanis.
Saat ditemui tim Bicara Blitar, Bu Landep membagikan cerita tentang perubahan infrastruktur di kampungnya selama bertahun-tahun. Menurutnya, jalan di kawasan Tunggorono-Kalimanis dulunya dalam kondisi rusak dan baru benar-benar diperbaiki dalam beberapa bulan terakhir.
“Iya rusak, mas. Bangunan yang bagus ini baru, baru dua atau tiga bulan. Dulu kan rusak,” ungkap Bu Landep saat menjawab pertanyaan tentang perkembangan jalan di daerahnya dari tahun ke tahun.
Perbaikan jalan tersebut tentu menjadi kabar baik, mengingat akses yang mulus sangat berpengaruh terhadap mobilitas warga maupun potensi wisata di kawasan tersebut, termasuk akses menuju Puncak Langit yang kini sudah teraspal hotmix.
Selain soal infrastruktur, Bu Landep juga berbagi kesan tentang kehidupan sosial di kampungnya. Menurutnya, kawasan tempat tinggalnya tergolong aman dari tindak kriminal seperti pencurian, sekaligus dihuni warga yang hidup rukun lintas keyakinan tanpa ada gesekan berarti.
“Ya, senang di sini, pencurian aman-aman, termasuk rukun-rukun aman-aman. Tidak ada orang konflik masalah agama, Islam, agama Kristen itu rukun semua, tidak dibeda-bedakan,” tuturnya.
Kisah hidup Bu Landep sendiri ternyata cukup panjang sebelum akhirnya menetap di Kalimanis. Ia mengaku pernah merantau ke Surabaya selama 20 tahun. Di kota pahlawan tersebut, ia menjalani usaha berjualan gorengan, termasuk tahu goreng, sebagai sumber penghidupan.
“Aku di Surabaya 20 tahun, goreng ini saja terus. Balik sekitar 9 tahun, ya tetap goreng tahu ini, iya 9 tahun kiraan tetap goreng,” kisahnya.
Lebih jauh, Bu Landep menceritakan awal mula usahanya di Surabaya yang dimulai dari berjualan pisang dan alpukat dalam jumlah besar. Dari situ, ia mulai merintis usaha gorengan yang konsisten dijalankannya hingga kini, bahkan setelah kembali ke kampung halaman.
“Awalnya aku jualan pisang, alpukat. Terus pisangnya dikirim satu truk, ya tetap akhirnya aku goreng sampai sekarang, mas, goreng,” ujarnya.
Bu Landep juga menyampaikan filosofi hidupnya tentang pentingnya kemandirian dalam berusaha. Menurutnya, sebuah rencana kerja sebaiknya diarahkan untuk membangun usaha sendiri, bukan sekadar mengikuti atau bergantung pada orang lain.
“Memang rencana kerja, tapi jangan sampai ikut orang, harus mandiri, punya usaha sendiri,” tegasnya.
Soal pilihan untuk kembali ke kampung halaman, Bu Landep mengaku meski Surabaya menawarkan kemudahan dari sisi ekonomi, suasana di desa tetap memiliki tempat tersendiri di hatinya, terutama untuk menjalani masa tua bersama keluarga.
“Di Surabaya itu enak, mas, tapi tetap tidak seperti di desa. Surabaya, uang ya gampang, cari kerja ya gampang. Tapi kalau sudah pensiun, di sini malah,” katanya, sembari mengaku kini sedang menikmati hari tua bersama cucu-cucunya di kampung halaman.
*Artikel ini disusun berdasarkan dokumentasi video yang diunggah kanal YouTube Bicara Blitar.

