Feature
Beranda » Pegang gunting sejak SMP, cerita capster asah mental dan kemandirian di Barber Kampung Garum Blitar

Pegang gunting sejak SMP, cerita capster asah mental dan kemandirian di Barber Kampung Garum Blitar

Muhammad Anang Alfasari, capster Barber Kampung di Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar, berbagi cerita tentang perjalanannya menggeluti dunia tata rambut pria sejak duduk di bangku SMP hingga kini bekerja sebagai capster profesional. (Foto: Tangkapan layar YouTube Bicara Blitar)

Blitar – Di balik setiap kursi cukur yang sibuk di Barber Kampung Garum, ada cerita personal dari para capster yang mengoperasikannya. Salah satu yang menarik perhatian adalah kisah seorang capster muda bernama Muhammad Anang Alfasari.

Pemuda yang kini bekerja di Barber Kampung kawasan Garum, Kabupaten Blitar, ini telah mengenal dunia gunting dan mesin cukur jauh lebih awal dibanding kebanyakan rekan seangkatannya.

Anang mengaku, ketertarikannya pada dunia potong rambut sudah muncul saat ia masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Di usia ketika kebanyakan remaja lain masih sibuk dengan urusan sekolah dan permainan, ia sudah mulai mempelajari teknik dasar memotong rambut secara otodidak.

Bongkar alasan banyak Barbershop di Blitar gulung tikar: Bukan soal skill, tapi kedisiplinan

Apa yang awalnya hanya sekadar hobi, perlahan tumbuh menjadi keterampilan yang ia tekuni hingga sekarang.

“Saya motong rambut itu mulai dari SMP, itu mulai belajar dan sampai sekarang saya masih jadi tukang cukur rambut,” ungkap Anang.

Perjalanan Anang sebagai capster di Barber Kampung baru terbilang seumur jagung. Ia bergabung dengan Barber Kampung Garum sejak hari raya Idul Fitri tahun 2025. Artinya, hingga saat dokumentasi video ini diambil, ia sudah genap satu tahun mengasah skill sekaligus belajar banyak hal dari sang owner, Dai.

Kisah Khoiruda’i rintis Barber Kampung dari teras rumah saat pandemi hingga berdiri kokoh di Garum Blitar

Bagi Anang, bekerja sebagai capster bukan sekadar urusan mencari nafkah. Lebih dari itu, profesi ini memberinya banyak pelajaran hidup yang sulit ia dapatkan di tempat lain. Salah satu nilai paling penting yang ia serap selama bekerja di Barber Kampung adalah pelajaran tentang kemandirian dan tanggung jawab.

“Di sini saya memperoleh banyak pengalaman dan banyak sekali mengajarkan saya menjadi mandiri dan bertanggung jawab,” tuturnya.

Tak hanya itu, atmosfer di Barber Kampung yang penuh interaksi dengan beragam karakter pelanggan turut membentuk mental Anang sebagai pribadi yang lebih kuat.

Trek ekstrem sejauh sejam, begini tantangan menuju Tlogo Gentong di Lereng Kawi Blitar

Ia mengaku banyak diajarkan tentang kesabaran dan ketabahan, dua nilai yang menurutnya sangat dibutuhkan dalam pekerjaan yang berhadapan langsung dengan publik setiap hari.

“Saya di sini diajarkan banyak hal yang selalu saya ingatkan tentang kesabaran, ketabahan, banyaklah,” lanjut Anang.

Selama satu tahun bekerja di Barber Kampung, Anang juga menumpuk banyak kenangan dan koneksi baru. Mulai dari kisah lucu yang membuat satu hari terasa lebih ringan, momen-momen mengharukan dari curhatan pelanggan, hingga pertemanan baru yang ia jalin dengan sesama capster maupun para tamu yang datang. Bagi seorang anak muda, pengalaman seperti ini menjadi modal sosial dan emosional yang tidak ternilai.

Jejak Tlogo Gentong: Dari 72 KK hingga hilang, Suparmanto kisahkan relokasi yang berat diterima warga

Kisah Anang sekaligus memperlihatkan bahwa barbershop bukan sekadar tempat usaha jasa, melainkan juga ruang tumbuh bagi anak-anak muda untuk belajar bertanggung jawab atas hidupnya sendiri.

Dari tangan-tangan muda seperti Anang inilah, regenerasi pelaku usaha jasa potong rambut di Blitar perlahan terus berjalan dan bertumbuh.

*Artikel ini disusun berdasarkan dokumentasi video yang diunggah kanal YouTube Bicara Blitar.

Sensasi menjelajah Tlogo Gentong, bekas kampung di Lereng Kawi yang kini hening dan memesona

×