Feature
Beranda » Bongkar alasan banyak Barbershop di Blitar gulung tikar: Bukan soal skill, tapi kedisiplinan

Bongkar alasan banyak Barbershop di Blitar gulung tikar: Bukan soal skill, tapi kedisiplinan

Blitar – Industri jasa potong rambut alias barbershop di wilayah Blitar tampak menjamur dalam beberapa tahun terakhir. Namun di balik banyaknya papan nama baru yang bermunculan di pinggir jalan, tak sedikit pula yang justru tumbang di tengah jalan.

Pelaku usaha di lapangan menyebut, akar persoalan paling utama bukan terletak pada urusan teknis seperti kemampuan memotong, melainkan pada hal yang jauh lebih mendasar.

Pengamatan tersebut datang langsung dari Karo Dai, owner Barber Kampung yang berlokasi di Desa Tawangsari, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar.

Kisah Khoiruda’i rintis Barber Kampung dari teras rumah saat pandemi hingga berdiri kokoh di Garum Blitar

Berdasarkan pengalamannya menggeluti dunia tata rambut pria sejak 2019, ia menilai bahwa banyak rekan sejawatnya gulung tikar bukan karena kalah skill, melainkan karena gagal menjaga satu hal sederhana: kedisiplinan.

“Kesalahan yang sering terjadi di dunia barber, karena banyak barber yang gulung tikar, itu pertama adalah kedisiplinan. Kedisiplinan itu paling penting karena menurut saya pribadi, kedisiplinan itu kunci pokok agar barber tetap jalan,” tutur Dai dalam video Bicara Blitar.

Menurut Dai, soal skill potong rambut yang masih di bawah standar sebenarnya bukan masalah besar. Hal itu masih bisa diperbaiki dengan mengikuti pelatihan berjenjang, kursus, atau hadir di berbagai event komunitas yang dapat memperluas wawasan capster.

Trek ekstrem sejauh sejam, begini tantangan menuju Tlogo Gentong di Lereng Kawi Blitar

Yang sulit diperbaiki justru pola pikir dan kebiasaan kerja yang tidak rapi, mulai dari jam buka yang tidak konsisten, kebersihan tempat yang abai, hingga pelayanan yang tidak prima.

Selain soal kedisiplinan internal, tantangan eksternal yang membayangi para pelaku usaha barber di Blitar juga tidak ringan. Dai menyoroti maraknya fenomena perang harga di tengah banyaknya capster yang membuka usaha mandiri di rumah. Banderol tarif potong rambut pun semakin tertekan ke titik yang menurutnya sudah tidak sehat untuk industri.

“Untuk tarif harganya itu di bawah atau Rp10.000, itu menurut saya itu pasaran barber di wilayah Blitar itu jadi semakin anjlok,” jelasnya.

Jejak Tlogo Gentong: Dari 72 KK hingga hilang, Suparmanto kisahkan relokasi yang berat diterima warga

Kondisi ini membuat barbershop yang ingin tetap menjaga standar kualitas harus berpikir keras agar tetap menarik di mata pelanggan, tanpa terjebak ikut-ikutan banting harga. Dai memilih jalur penguatan pelayanan, kebersihan, serta hubungan personal dengan pelanggan sebagai pembeda dari kompetitor yang hanya mengandalkan tarif murah.

Persoalan lain yang kerap dihadapi pemilik barbershop adalah keluar masuknya capster. Banyak yang setelah merasa cukup mahir kemudian memilih membuka usaha sendiri di rumah.

Bagi Dai, fenomena ini bukan lagi sesuatu yang bisa direncanakan atau dicegah. Ia memilih melihat sisi positifnya, yakni ilmu yang ia berikan kepada capster bisa terus bermanfaat ke jangkauan yang lebih luas.

Sensasi menjelajah Tlogo Gentong, bekas kampung di Lereng Kawi yang kini hening dan memesona

“Alhamdulillah kalau dia sudah motong terus dia buka sendiri di rumahnya, itu jadi ilmu yang saya berikan kepada capster-nya itu bisa bermanfaat. Dan tak lupa semoga dia selama saya kerja di sini dia tidak lupa dulunya gimana sampai sukses gimana, tidak mengkhianati hasilnya gitu loh,” tutup Dai.

Insight dari pelaku lapangan seperti Dai ini sekaligus menjadi pengingat bagi para calon pengusaha barbershop di Blitar. Bahwa membuka usaha jasa potong rambut bukan sekadar soal punya alat dan tempat, melainkan soal komitmen jangka panjang dalam menjaga kualitas, harga yang masuk akal, dan disiplin operasional dari hari ke hari.

*Artikel ini disusun berdasarkan dokumentasi video yang diunggah kanal YouTube Bicara Blitar.

×