Feature
Beranda » Kisah Khoiruda’i rintis Barber Kampung dari teras rumah saat pandemi hingga berdiri kokoh di Garum Blitar

Kisah Khoiruda’i rintis Barber Kampung dari teras rumah saat pandemi hingga berdiri kokoh di Garum Blitar

Dai, owner Barber Kampung Garum, menceritakan perjalanan merintis usaha cukur rambutnya yang berawal dari teras rumah pada masa pandemi Covid-19 hingga kini memiliki tiga capster yang bekerja di tempatnya. (Foto: Tangkapan layar YouTube Bicara Blitar)

BLITAR – Di balik kursi cukur dan dengung mesin pemotong rambut yang menjadi ciri khas Barber Kampung di Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar, tersimpan kisah panjang seorang pria bernama Karo Dai.

Pria yang akrab disapa Dai ini adalah owner sekaligus tangan pertama yang merintis usaha tersebut dari titik paling sederhana, di tengah situasi yang justru tengah dihindari banyak pelaku usaha lain: pandemi Covid-19.

Cerita Dai bermula pada tahun 2019. Kala itu, ketika dunia tengah dilanda ketidakpastian akibat penyebaran virus Covid-19, ia justru memilih melangkah maju dan menekuni dunia tata rambut pria.

Trek ekstrem sejauh sejam, begini tantangan menuju Tlogo Gentong di Lereng Kawi Blitar

Bermodal nekat dan tekad belajar, Dai memulai usahanya bukan di ruko atau tempat strategis, melainkan di teras rumahnya sendiri. Pelanggan pertamanya pun bukan orang asing, melainkan teman-teman, kerabat, hingga kakak kandungnya sendiri.

Untuk mematangkan kemampuan, Dai tidak segan keluar Blitar demi mengikuti workshop dan pelatihan khusus barber di berbagai daerah di Indonesia. Ia juga aktif terlibat dalam ajang battle barber sebagai cara untuk mengasah jam terbang.

Bekal ilmu inilah yang kemudian membuatnya berani membuka usaha pertama di kawasan Blitar Kota.

Jejak Tlogo Gentong: Dari 72 KK hingga hilang, Suparmanto kisahkan relokasi yang berat diterima warga

Perjalanan tidak selalu mulus. Setelah sempat membuka cabang di Blitar Kota, terjadi miskomunikasi dengan rekan kerjanya sehingga ia memutuskan untuk pindah ke barber lain selama beberapa waktu. Pengalaman pahit itu justru menjadi titik balik.

Dai mulai menyusun rencana baru dengan lebih matang, hingga akhirnya memutuskan menancapkan bendera Barber Kampung di Desa Tawangsari, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar.

Pada masa-masa awal di Tawangsari, Dai turun tangan sendiri sebagai capster tunggal. Satu kursi, satu mesin, satu cermin. Namun seiring berjalannya waktu dan tumbuhnya basis pelanggan, ia mulai merekrut capster yang sudah ia kenal kemampuannya, satu per satu. Hingga kini, Barber Kampung telah memiliki tiga capster aktif yang bekerja di bawah naungannya.

Sensasi menjelajah Tlogo Gentong, bekas kampung di Lereng Kawi yang kini hening dan memesona

“Alhamdulillah sampai sekarang ada tiga capster kerja di tempat saya,” ujar Dai dalam dokumentasi video Bicara Blitar.

Sistem kerja di Barber Kampung pun cukup fleksibel. Dai menerapkan skema bagi hasil antara dirinya dan capster, dengan komposisi yang bervariasi antara 50:50 hingga 60:40 tergantung kesepakatan. Skema ini dipilih agar para capster turut merasa memiliki usaha tersebut dan punya motivasi untuk terus berkembang.

Jatuh bangun bukan hal asing bagi Dai. Ia mengaku, masa paling berat justru terjadi di awal pembukaan usaha, ketika urusan modal dan biaya sewa tempat sempat menyesakkan. Namun karena sudah terlanjur terjun ke dunia barber, ia memutar otak mencari pemasukan tambahan dari pintu lain agar usaha tetap menyala.

Pasar tradisional Blitar masih jadi tulang punggung ekonomi masyarakat

Kini, dari teras rumah ke barbershop yang mapan, Dai membuktikan bahwa konsistensi dan kemauan belajar adalah modal yang tak kalah penting dari uang itu sendiri.

*Artikel ini disusun berdasarkan dokumentasi video yang diunggah kanal YouTube Bicara Blitar.

Racun TikTok sudah sampai di Blitar bagaimana live shopping mengubah cara kita belanja?
×