Blitar – Momentum Hari Buruh Internasional atau May Day tahun 2026 dimanfaatkan secara berbeda oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Misbahuddin Ahmad (STITMA) Blitar. Di bawah kepemimpinan Ketua DEMA STITMA Blitar, Muhammad Kholidul Asyhar, organisasi mahasiswa tersebut menggelar tahlil akbar bersama keluarga besar kampus di makam muassis K.H. Misbahuddin Ahmad pada Jumat, 1 Mei 2026 lalu.
Kegiatan yang menjadi pembuka perjalanan kepengurusan DEMA STITMA Blitar itu dihadiri langsung oleh Ketua STITMA Blitar, Dr. M. Kholid Thohiri, M.Pd.I, jajaran pengurus kampus, pengurus DEMA, hingga mahasiswa dari berbagai program studi. Nuansa religius dan penuh kekhidmatan tampak menyelimuti jalannya acara sejak awal hingga akhir.
Di balik terselenggaranya kegiatan tersebut, sosok Muhammad Kholidul Asyhar menjadi figur sentral yang mendorong agar arah gerakan mahasiswa STITMA tidak tercerabut dari akar tradisi Nahdlatul Ulama (NU). Baginya, organisasi mahasiswa bukan hanya ruang aktivitas intelektual dan akademik, tetapi juga ruang merawat nilai, budaya, dan spiritualitas.
Dalam keterangannya, Muhammad Kholidul Asyhar menegaskan bahwa pemilihan tahlil akbar sebagai agenda pembuka bukan keputusan tanpa makna. Ia menyebut langkah tersebut sebagai simbol bahwa gerakan mahasiswa STITMA harus dimulai dengan doa, penghormatan kepada ulama, dan kesadaran sejarah.
“Kami ingin memulai kepengurusan ini dengan keberkahan dan penghormatan terhadap perjuangan para muassis. Mahasiswa tidak boleh lupa bahwa kampus ini berdiri dari perjuangan ulama dan nilai-nilai ke-NU-an yang harus terus dijaga,” tegasnya.
Menurutnya, tantangan terbesar mahasiswa hari ini bukan hanya soal akademik, tetapi juga menjaga identitas di tengah arus modernisasi yang semakin menjauhkan generasi muda dari tradisi dan kultur organisasi Islam moderat.
“Gerakan mahasiswa hari ini jangan sampai kehilangan arah dan akar budayanya. Kampus NU harus tetap hidup dengan tradisi NU. Karena itu DEMA STITMA ingin menghadirkan kembali budaya tahlilan, istighotsah, kajian Aswaja, dan tradisi khidmah sebagai nafas organisasi,” lanjut Muhammad Kholidul Asyhar.
Langkah yang diinisiasi Ketua DEMA STITMA Blitar tersebut mendapat apresiasi langsung dari Ketua STITMA Blitar, Dr. M. Kholid Thohiri, M.Pd.I. Dalam sambutannya, ia menyebut kegiatan tahlil akbar sebagai langkah awal yang baik dalam membangun kultur organisasi mahasiswa yang religius dan berkarakter.
“Kegiatan ini merupakan langkah awal untuk memulai program-program DEMA selanjutnya, dan saya sangat mengapresiasi kegiatan ini,” ujarnya.
Bahkan, Ketua STITMA Blitar berharap kegiatan serupa dapat dijadikan agenda rutin bulanan di lingkungan kampus sebagai bentuk penguatan identitas kampus NU.
“Kalau bisa agenda seperti ini dijadikan rutinan. Kampus kita STIT Misbahuddin Ahmad itu kan kampus NU, jadi kegiatan tahlilan seperti ini kalau bisa rutin satu bulan sekali,” tambahnya.
Bagi Muhammad Kholidul Asyhar, pernyataan pimpinan kampus tersebut menjadi energi sekaligus legitimasi moral bagi DEMA STITMA Blitar untuk terus menghadirkan program-program yang tidak hanya membangun intelektualitas mahasiswa, tetapi juga karakter keislaman dan tradisi ahlussunnah wal jamaah.
Ia menilai bahwa mahasiswa NU harus mampu menjadi generasi yang modern tanpa kehilangan identitas. Karena itu, DEMA STITMA Blitar ke depan akan mendorong lahirnya gerakan mahasiswa yang berpijak pada nilai spiritual, tradisi pesantren, dan keberpihakan sosial.
“Tugas mahasiswa bukan hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga menjaga warisan nilai dan perjuangan ulama. Kalau tradisi kampus NU mulai hilang, maka mahasiswa sendiri yang akan kehilangan jati dirinya,” pungkasnya.
Melalui kegiatan tahlil akbar tersebut, Muhammad Kholidul Asyhar tidak hanya menunjukkan kepemimpinan organisatoris, tetapi juga menegaskan arah baru gerakan DEMA STITMA Blitar yakni membangun gerakan mahasiswa yang intelektual, spiritual serta tetap kokoh menjaga tradisi NU di tengah perubahan zaman.

