Industri film kita sudah terlalu lama terjebak dalam dikotomi horor yang repetitif dan drama keluarga yang menguras air mata. Kehadiran “Mencuri Raden Saleh” adalah sebuah anomali sekaligus subversi genre yang menyegarkan, sebuah keberanian untuk menjamah teritori heist yang selama ini dianggap terlalu Hollywood.
Premisnya yang ambisius tentang sekelompok anak muda berencana mencuri lukisan maestro Raden Saleh di Istana Negara. Namun, jangan terkecoh oleh montase keren dan peralatan canggihnya. Film ini adalah sebuah cermin sosial yang menangkap ketimpangan kelas di Indonesia dengan cara yang tajam.
Bukan Soal Kekurangan Uang, Tapi Kurangnya Empati
Film ini secara cerdas mendekonstruksi perilaku mencuri sebagai masalah karakter, bukan sekadar urusan perut. Kontras kelas terlihat jelas antara Piko yang butuh uang untuk biaya hukum ayahnya, dengan karakter elite seperti Permadi (mantan presiden) atau Fella yang berlatar belakang bandar judi jalanan.
Bagi kaum elite dalam film ini, mencuri bukan tentang kebutuhan, melainkan tentang entitlement atau rasa berhak atas segalanya. Sebagaimana kutipan yang melandasi pemikiran ini,
“The wealthy and better-educated are more likely to shoplift… They are often less empathetic.”
Di sini, mencuri menjadi cermin hilangnya empati. Karakter seperti Fella atau Permadi menunjukkan bahwa privilese justru sering kali melahirkan kelihaian dalam berbuat curang, karena mereka merasa berada di atas hukum.
Hacking yang Terlalu Mudah: Sebuah Sindiran untuk Keamanan Siber Negara?
Banyak penonton mungkin mengernyitkan dahi melihat betapa gampangnya Ucup membobol database negara sebuah elemen yang tampak sebagai narrative convenience. Namun, sutradara Angga Sasongko justru seolah ngeles dengan cara yang brilian, kemudahan itu adalah sindiran terhadap rapuhnya arsip digital kita.
Ini bukan sekadar kelemahan naskah, melainkan komentar sosial yang sangat relevan dengan realitas keamanan siber di Indonesia saat ini. Film ini menyentil bahwa jika seorang mahasiswa saja bisa menembus sistem negara dengan mudah, maka ada masalah besar dalam proteksi data nasional kita.
Metafora Piko: Antara Pemalsuan Lukisan dan Pembajakan Film
Karakter Piko sebagai master forger membawa pesan tersembunyi yang sangat menuduh terhadap ekosistem kreatif. Alasan Piko memalsukan lukisan yakni “hanya untuk cari tambahan jajan” adalah gema dari alasan yang sering dipakai para pembajak film di luar sana.
Anak muda seperti Piko sering kali tidak sadar bahwa tindakan “cari tambahan” tersebut sebenarnya adalah pencurian besar yang merusak tatanan seni. Melalui Piko, film ini menggugat para penikmat karya ilegal yang merasa tindakan mereka sepele, padahal dampaknya sistemik terhadap industri.
Konflik Ayah-Anak di Balik Rencana Besar
Film ini berhasil memadukan trappings film heist Barat dengan jantung melodrama Indonesia yang membumi. Motivasi Piko sangat personal dan lokal, yakni mengumpulkan dua miliar demi membebaskan ayahnya dari penjara, bukan demi gaya hidup mewah ala Ocean’s Eleven.
Fokus pada hubungan interpersonal persahabatan yang tulus hingga pengkhianatan antara orang tua dan anak membuat film ini terasa lebih dekat. Genre heist di sini hanyalah kendaraan bagi drama yang sangat manusiawi tentang utang budi dan kehormatan keluarga.
Pertarungan Logika vs Estetika di Babak Akhir
Di paruh kedua, film ini mulai terasa ngawang dan lebih mengutamakan estetika aksi daripada logika karakter. Kritik tajam muncul pada aksi pencurian kedua, tentang mengapa Piko harus merampok lukisan asli dari rumah Permadi yang berisiko tinggi tanpa keuntungan finansial yang jelas bagi tujuan awalnya?
Secara analitis, naskah ini melewatkan alternatif yang lebih cerdas. Merampok lukisan palsu di pameran untuk menjebak Permadi yang memegang lukisan asli. Selain itu, keahlian spesifik anggota tim seperti Tuktuk yang seharusnya jago mengemudi justru sangat tidak tereksploitasi dalam rencana eksekusi pencurian tersebut.
Plot berakhir dengan solusi win yang ajaib lewat telepon dari Dini, yang terasa seperti deus ex machina demi memberikan akhir yang memuaskan penonton. Film ini akhirnya jatuh pada godaan untuk menjadi keren secara visual, meski harus meninggalkan banyak plot hole di belakangnya.
Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI

