Artikel
Beranda » Buka bersama bukan sekadar makan: cerita sosial di balik tradisi Ramadan

Buka bersama bukan sekadar makan: cerita sosial di balik tradisi Ramadan

ilustrasi suasana bukber (Foto: dibuat oleh Gemini AI)

Layar ponsel Anda tiba-tiba menjadi medan tempur notifikasi. Getarannya konstan, bersumber dari berbagai grup WhatsApp yang mendadak “bangun dari kubur” saat hilal Ramadan muncul. Isinya serupa: polling lokasi makan yang tak kunjung usai, perdebatan tanggal yang selalu bentrok dengan jadwal mudik, hingga tagihan kepastian kehadiran.

Hiruk-pikuk digital ini sering memicu kegelisahan halus bagi banyak orang, sebuah fenomena yang para sosiolog sebut sebagai tekanan konformitas. Kondisi ini membuat sebagian orang merasa “nggak enak” atau ragu, seperti yang dirasakan Halifa Febriyanti (22).

Baginya, menolak undangan bukan sekadar soal absen makan, melainkan munculnya ketakutan akan stigma sosial. “Kalau kita doang yang nggak ikut, rasanya kayak ‘menyimpang dari kebersamaan’,” ungkapnya.

Sekretaris IPNU Kota Blitar bekali Pondok Ramadan siswa SMPN 4 Blitar, perkuat iman dan karakter islami

Namun, di balik keriuhan reservasi tempat, apa sebenarnya yang sedang kita pementaskan di atas meja makan?

Bukber Sebagai “Arena Distingsi” dan Panggung Sosial

Dalam perspektif sosiologi digital, ritual buka bersama kini tak lagi sekadar momen membatalkan puasa, tetapi juga menjadi panggung sosial tempat identitas dan status dipresentasikan.

Menurut Tantan Hermansah, yang merujuk pada pemikiran Pierre Bourdieu, bukber bisa dilihat sebagai ruang di mana habitus dan berbagai bentuk modal sosial ditampilkan secara strategis.

Silaturahmi ramadan Polres Blitar dan media: antara harapan sinergi dan evaluasi

Pilihan tempat makan, dress code, hingga cara membayar tagihan sering menjadi bentuk social signaling yang menunjukkan posisi seseorang dalam hierarki sosial. Dalam konsep distinction, selera bukan sekadar preferensi pribadi, melainkan juga cara halus untuk menegaskan batas kelas sosial.

Karena itu, bukber tidak hanya soal makan bersama, tetapi juga proses sosial yang membentuk persepsi, kepercayaan, dan legitimasi di tengah masyarakat.

Paradoks Psikologis: Antara Kohesi Sosial dan Insecurity

Secara antropologis, bukber adalah “ritus integratif” yang memiliki manfaat psikologis nyata: menurunkan tingkat stres, membangun empati, dan meningkatkan sense of belonging (rasa kepemilikan sosial). Namun, realitanya sering kali menjadi pedang bermata dua.

Hangatnya ramadan di Ngadiluwih Kediri: cerita aksi humanis polisi di tengah masyarakat

Ambil contoh kisah Zamara Zein. Lelaki berusia 21 tahun ini merepresentasikan sisi gelap dari social comparison (perbandingan sosial). Baginya, bukber sering kali berubah menjadi “kaca” yang memantulkan segala kekurangan hidupnya saat disandingkan dengan pencapaian teman-temannya yang tampak “melesat.” Alih-alih merasa segar, Zamara justru pulang dengan beban overthinking.

Dalam ruang ini, sering muncul fenomena yang menggerus kesehatan mental:

  • Social Burnout: Kelelahan eksistensial akibat dipaksa melakukan interaksi intens saat energi mental sedang berada di titik nadir.
  • Insecurity: Perasaan inferioritas yang muncul saat meja makan berubah menjadi ajang unjuk keberhasilan finansial atau karier.
  • Komodifikasi Validasi: Tekanan untuk terlihat bahagia secara digital demi mendapatkan pengakuan di dunia maya, yang sering kali mengaburkan kebahagiaan autentik di dunia nyata.

Fenomena Flexing Berkedok Silaturahmi

Media sosial telah mengubah meja bukber menjadi panggung semi-publik. Salah satu tren yang cukup memprihatinkan seperti yang disoroti oleh pakar dari Universitas Airlangga (UNAIR) adalah konten viral “memberi rating busana” peserta bukber di TikTok.

Fakta di balik tradisi “bukber” di Indonesia

Praktik ini adalah bentuk nyata dari “Distingsi” Bourdieu yang diaplikasikan secara brutal: menilai identitas seseorang dari skala satu sampai sepuluh berdasarkan apa yang mereka pakai. Hal ini menciptakan standar semu yang memicu rasa tidak percaya diri bagi mereka yang tidak mampu memenuhi estetika digital tertentu.

Jangan biarkan dokumentasi membunuh esensi. Peringatan keras bagi kita semua: jangan sampai ambisi untuk foto yang estetik atau ketakutan akan riasan wajah yang luntur membuat kita melalaikan kewajiban ibadah Salat Magrib dan Isya. Bukber yang sukses adalah yang membuat hati tenang tanpa mengorbankan ketenangan ibadah.

Akar Tradisi: DNA Kolektif Nusantara yang Berusia Ratusan Tahun

Meskipun kini dibalut modernitas digital, bukber memiliki akar yang sangat dalam pada DNA kolektif masyarakat Nusantara. Pengamat sosial Devie Rahmawati menyebut ini sebagai perpaduan antara nilai religius Islam dan budaya kolektif ketimuran yang sudah ada bahkan sebelum Islam masuk.

Berburu takjil di Kota Blitar: 5 hal seru di bazar ramadan 2026 yang wajib kamu tahu!

Berikut adalah manifestasi lokal dari semangat kebersamaan tersebut:

  • Meugang (Aceh): Tradisi menyembelih hewan dan berbagi daging yang dilakukan 3 kali dalam setahun (Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha) sejak masa Sultan Iskandar Muda.
  • Nyorog (Betawi): Ritual menghantarkan paket makanan (dulu lauk matang, kini bahan pangan) kepada keluarga yang lebih tua sebagai tanda hormat.
  • Megibung (Bali): Praktik makan bersama dalam satu nampan secara melingkar yang diperkenalkan Raja Karangasem pada abad ke-17.
  • Megengan (Jawa Timur): Doa dan makan bersama sebagai media penyebaran Islam secara kultural untuk menyambut bulan suci.

Bukber Lintas Iman: Ruang Inklusif di Tengah Kota

Di kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta, bukber telah bertransformasi menjadi jembatan dialog multikultural. Ia tidak lagi eksklusif milik umat Muslim. Kawan-kawan non-Muslim kini lazim ikut duduk bersama, merasakan atmosfer menunggu azan, dan berbagi kehangatan.

Ini adalah bentuk harmoni sosial yang dibangun dari meja makan, membuktikan bahwa praktik kultural bisa meruntuhkan sekat identitas yang sering kali tajam di ruang politik.

Ramadan 2026: Ide tempat buka puasa bersama di Kediri yang layak dicoba

Perbandingan Unik: Tradisi Ramadan Indonesia vs. Arab

Meskipun esensi ibadahnya serupa, atmosfer sosial antara Indonesia dan negara-negara Arab memiliki perbedaan gaya hidup yang kontras menurut data dari Cahaya Raudhah:

Solidaritas Mekanik: Belajar dari CISC Pekanbaru

Kekuatan bukber sebagai perekat sosial juga tercermin dalam komunitas hobi, seperti Chelsea Indonesia Supporters Club (CISC) Pekanbaru.

Pasar Kediri dan Ramadan 2026: menghadapi pedasnya harga cabai dengan bijak

Berdasarkan studi tahun 2025, komunitas ini menunjukkan apa yang disebut Emile Durkheim sebagai “solidaritas mekanik” ikatan yang lahir dari kesadaran kolektif dan minat yang sama.

Menariknya, meskipun prestasi tim Chelsea sedang menurun, kohesi kelompok tetap kuat. Hal ini terjadi karena mereka menjadikan Grup WhatsApp sebagai virtual basecamp untuk interaksi intensif, mulai dari bercanda hingga koordinasi aksi sosial.

Interaksi digital inilah yang mencegah “pelapukan sosial” (social decay), memastikan bahwa saat mereka bertemu langsung dalam agenda bukber, hubungan yang terjalin sudah didasari oleh pengalaman emosional bersama yang solid.

Blitar menyambut Ramadan 2026: antara ketegasan dan tenggang rasa

Kesimpulan: Mengembalikan Esensi “Menyambung” yang Putus

Pada akhirnya, bukber adalah warisan budaya yang sangat positif jika kita mampu membedah niatnya kembali. Dr. Moch. Khoirul Anwar mengingatkan bahwa esensi dari “silaturahim” berasal dari kata silah (menyambung) dan rahim (persaudaraan).

Makna aslinya adalah menyambung kembali hubungan yang sempat terputus atau merajut persaudaraan yang sempat renggang, bukan sekadar bertemu mereka yang kita lihat setiap hari.

Bukber seharusnya menjadi momentum untuk mempererat ukhuwah dan rekonsiliasi, bukan ajang untuk mempertajam hierarki sosial melalui pamer pencapaian.

“Silaturahmi itu maknanya menyambung yang putus. Justru mereka yang lama tidak bertemu itulah yang paling utama untuk disambung kembali melalui momen ini.”  Dr. Moch. Khoirul Anwar

Jadi, sebelum Anda menekan tombol “Hadir” di polling grup WhatsApp sore ini, tanyakanlah pada diri sendiri: “Apakah bukber tahun ini akan menjadi ajang pamer (flexing), atau momen tulus untuk kembali merajut persaudaraan yang sempat renggang?”

×