Artikel Berita

Relasi kuasa picu maraknya kekerasan seksual di kampus dan pesantren, fenomena gunung es yang mengerikan

Relasi kuasa picu maraknya kekerasan seksual di kampus dan pesantren, fenomena gunung es yang mengerikan
Dalam diskusi spesial menyambut HAKTP 2025 yang tayang melalui podcast di kanal Youtube Bakul Kumpo. (YouTube/Bakul Kompo)

Blitar – ​Penyalahgunaan wewenang atau relasi kuasa (power abuse) teridentifikasi sebagai akar masalah utama langgengnya kasus kekerasan seksual dan perundungan (bullying) di lingkungan pendidikan.

Pelaku yang sering kali memiliki jabatan, seperti dosen, guru memanfaatkan posisi mereka untuk menekan korban, menciptakan fenomena gunung es di mana kasus yang muncul ke permukaan hanyalah sebagian kecil dari realitas yang mengerikan.

​Dalam diskusi spesial menyambut HAKTP 2025 yang tayang melalui podcast di kanal Youtube Bakul Kumpo, aktivis perempuan dan Ning Persahabatan UNU Blitar, Lailatul Fauzizah, mengungkap modus operandi yang kerap terjadi di ruang akademis.

Mantap! Pemkot Blitar borong penghargaan tingkat provinsi hingga nasional selama 2 tahun terakhir

Pelaku sering kali merasa “untouchable” karena sistem yang belum sepenuhnya memihak korban.

Hal ini diperparah dengan minimnya bukti fisik, mengingat kejahatan seksual sering terjadi di ruang tertutup tanpa saksi mata.

Perempuan akrab disapa​ Ziya ini menjelaskan bahwa keberanian pelaku muncul karena merasa memiliki kendali penuh atas nasib korban, misalnya terkait nilai atau kelulusan.

Flashback: 12 Juli 2004, away ke Nganjuk, PSBI Blitar gulung Persenga 6-0

“Pelaku merasa punya power, makanya dia merasa tidak ada yang bisa menangani. Dia merasa segala tindakannya tidak bisa dikontrol oleh siapapun,” ujar Ziya.

​Kondisi ini diperburuk oleh respon psikologis korban yang sering kali mengalami tonic immobility atau kelumpuhan sementara saat kejadian.

Ziya menambahkan, “Korban cenderung kaget dan freeze ketika mengalami hal semacam itu. Jadi bukan pembiaran atau menikmati, tapi saking takutnya mereka diam.”

Padel jadi olahraga favorit baru anak muda Indonesia, bagaimana di Blitar?

​Untuk memutus rantai impunitas ini, kolaborasi antara organisasi mahasiswa, komunitas luar, dan pihak berwenang menjadi harga mati.

Penegakan hukum yang tegas dan keberanian saksi untuk bersuara (“No Viral No Justice“) sering kali menjadi jalan terakhir agar keadilan ditegakkan.

“Pelaku harus kita tangkap, pelaku harus kita adili. Korban harus berani bicara pada orang yang tepat,” ungkapnya. (Ke/blt)

Na Willa tayang di Netflix, angkat kisah anak Surabaya

Lihat Semua Artikel Bicara Blitar
×